Showing posts with label ISBY. Show all posts
Showing posts with label ISBY. Show all posts

I'll Stand by You Part. 6

Thursday, December 6, 2012

I'll Stand by You 
Part 6: Me, and my mask
*** 

~Yuda's POV~

Suaranya yang indah kembali melantun di dalam pikiranku. Gak aku sangka, ternyata Ikhsan mempunyai bakat sebagai penyanyi yang handal! Aku benar-benar jatuh cinta dengan suaranya...

Tapi... Kenapa Ikhsan bisa betah ya sama gitaris itu? Uhm, siapa namanya? Al...hmm... Oh iya, Aldo! Kenapa dia jutek banget ya sama aku? Hah, gak taulah... Aku kan baru kenal sama dia, gak mungkin aku berbuat salah padanya. Well, hal itu sih gak terlalu aku pikirkan ya. Yang aku pikirkan sekarang cuman satu... Kenapa aku selalu mengingat sosok Ikhsan yang sedang menyanyi ya? Dari kemarin, bahkan sampai sekarang, aku terus mengingat moment itu.

Baru kali ini ada seseorang yang menyita pikiranku kecuali Yola. Tunggu sebentar, Ikhsan mampu mengalihkan pikiranku tentang Yola? Kenapa bisa? Nggak, ini normal-normal saja! Ya, ini wajar. Aku hanya mengagumi Ikhsan karena dia pintar menyanyi. Hanya itu saja...

"Ketuaaaa.....!!" tegur seseorang yang tengah berlari kearahku. Hah, si troublemaker muncul deh.

"Ketua! Ketua! Ketua! Denger-denger nanti ada murid pindahan ya? Dia dikelas mana? Kyaaaa jangan-jangan dia sekelas sama aku? Muridnya cowok kan? Gimana sih tampangnya? Terus, terus...." aku nggak tau apa yang diomongin sama bocah berisik ini. Ckck, pagi-pagi udah bikin ribut... Bikin bad mood aja.

Perempuan berisik ini namanya Adel, dia berasal dari kelas XI IPA 4. Sedangkan aku berasal dari XI IPA 1. Walaupun Adel ini berisik, tapi dia bisa menjaga rahasia terbesarku. Bisa dibilang dia salah satu sahabatku, dan dia juga merupakan wakil ketua osis, wakilku.

"Eh ya, tumben kamu gak ke parkiran mobil? Biasanya kamu selalu nyamperin Yola?" tanya Adel dengan suara cemprengnya. Aku terdiam sejenak... Oh iya ya, kenapa pagi ini aku gak nyamperin Yola ya? "Atau jangan-jangan udah ada penggantinya Yola? Cieee cieeee!"

Mukaku langsung memerah ketika mendengar kalimat Adel. Nggak! Nggak mungkin... Masa iya Ikhsan itu penggantinya Yola? Nggak, ini sebuah salah paham. Ini hanya kelengahanku saja!

"Tau ah! Aku mau ke kelas dulu ya, bye!" tanpa memperdulikan celotehnya Adel, aku langsung berlari menuju kelas dan menaruh tasku. Hah, gini deh yang gak punya temen sebangku... Gak ada temen ngobrolnya. Gak tau kenapa mereka semua menjaga jarak denganku. Karena apa? Karena aku ketua Osis? Karena aku berasal dari keluarga atas? Hei, aku masih manusia juga kan. Sama seperti mereka... Aku gak pernah habis mikir, kenapa mereka semua selalu memikirkan kata 'Gengsi'?

Ah, taulah. Yang penting sekarang adalah belajar. Kubuka tas ranselku dan mengambil buku paket dan buku tulis Fisika.

"Anak-anak, sebelum pelajaran dimulai... Bapak akan memperkenalkan murid baru ke kalian semua. Yak, silahkan masuk..." seisi kelas langsung terlihat heboh dan sangat antusias menerima murid baru itu. Jujur, aku juga penasaran sih. Kayak apa sih orangnya?

Tak lama, terlihatlah sesosok pemuda berparas tampan yang memasuki ruangan kelas XI IPA 1. Wait, sepertinya aku kenal dia... D-dia kan....!?

"Pagi, nama saya Aldo Widiansyah. Panggil saja saya Aldo, saya pindahan dari SMA X kota surabaya. Sebelumnya saya pernah tinggal disini waktu kecil. Oke, itu aja... Salam kenal semuanya!" udah kuduga... Dia Aldo! Ta-tapi kenapa sifatnya berubah 180 derajat ya? Perasaan kemarin dia orangnya jutek.

"Oke, Aldo... Kamu duduk disebelahnya Yuda ya. Kebetulan dia adalah ketua Osis disekolah ini, jadi kamu bisa sekalian tanya-tanya sama dia kalau kamu masih bingung sama tempat-tempat sekolah ini..." setelah mendengar perintah dari pak guru, Aldo berjalan sambil tetap tersenyum sampai akhirnya ia duduk disampingku.

"Haaaah, kenapa harus duduk sama lo ya? Gue kurang beruntung nih..." ujarnya dengan suara yang pelan tapi menusuk. Gila, orang ini bener-bener dendam sama gue... Emang salah apa sih gue?

Jam demi jam kulewatkan dengan perasaan canggung. Selama ini aku memang pengen mendapatkan teman sebangku, tapi gak gini juga kali... Ini mah lebih parah dari duduk sendirian!

"Woi, kelasnya Ikhsan dimana?" tanya Aldo dengan juteknya.

"Di IPA 4, beda 3 kelas dari sini. Lu ke kiri ya arahnya..." tanpa mengucapkan terima kasih, Aldo langsung beranjak dari tempat duduknya dan keluar kelas. Ckckck, kenapa sih semua orang pada benci sama aku? Padahal aku nggak ngelakuin kesalahan apa-apa sama mereka.

Hari ini tak jauh beda dengan hari-hari sebelumnya. Istirahat sendirian di kelas, pulangpun juga sendirian. Tapi seperti biasa, dari pulang sekolah... Aku nggak langsung pulang kerumah. Pertama, aku sengaja berada diruangan Osis sampai jam setengah tujuh malam. Setelah itu aku pergi kesuatu tempat.... Suatu tempat yang sangat terkenal dengan kabar buruknya. Sebuah tempat dimana aku bisa menjadi diriku sendiri, dan melakukan apapun yang aku suka tanpa ada kata larangan. Bisa dibilang, tempat ini adalah tempatku untuk melampiaskan hidupku.

"Woi, semua! Liat nih, brother kita udah dateng! Yuk ah, cabut sekarang!" aku tersenyum ketika mereka menyambutku dengan semangat. Yep, hanya disini aku bisa mendapatkan teman.

Tanpa embel-embel ketua Osis, nama keluarga, maupun sekolah. Inilah aku, seorang Yuda. Hanya Yuda saja. Aku tak membawa nama sekolah, keluarga, dan juga statusku. Dengan begini, mereka akan menganggapku sebagai manusia biasa.

"Rokok?" tawar salah satu temanku yang berambut coklat. Akupun menerima pemberian rokoknya. Sedangkan teman-temanku yang lainnya sedang menikmati minuman keras. Bahkan ada yang sampai mengkonsumsi obat-obatan terlarang.

Hanya di wilayah ini aku bisa melakukan apapun yang aku mau. Hanya disini aku bisa merasakan kebebasan! Inilah kehidupan yang aku mau...

BRUGH!

Ugh, sial! Apa-apaan sih tadi!? Bisa-bisanya ada orang yang berani menabrakku!

"Ooouw, sakit banget!" lirihku yang sengaja dilebih-lebihkan.

"Wah, parah tuh. Heh, bocah! Bayar uang kerugiannya nih!" temanku juga ikut-ikutan mengompori orang yang menabrakku tadi.

"Ma-maaf!! Aku nggak sengaja... Maafkan aku!" suara ini... Jangan bilang...!? Dengan cepat aku langsung membuka topiku agar bisa lebih jelas melihat wajah lelaki itu. Dia...

"Yu...Yuda....?" gumam lelaki itu setengah tak percaya ketika ia melihatku. Gawat... Kenapa Ikhsan bisa berada di wilayah seperti ini!? Ini kan daerah berbahaya!

"Guys, kalian jalan duluan aja. Gue ada urusan sama dia," meskipun mereka awalnya menolak perintahku, tapi akhirnya mereka mau jalan duluan dan meninggalkanku dengan Ikhsan.

"Hai, selamat malam, Ikhsan!" sapaku dengan nada yang ramah seperti biasanya. Ikhsan masih menatapku dengan tatapan takut, sekaligus bingung.

"Yuda, kenapa kamu seperti ini? Kenapa kamu bergaul sama anak-anak seperti mereka!? Dan lihat... Apa-apaan ini!? Kenapa kamu merokok!?" Ikhsan langsung mengambil rokokku dan membuangnya dijalanan, sekaligus diinjaknya. "Kenapa kamu jadi beda sekali?" tanya Ikhsan dengan nada khawatir. Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya.

"Ada masalah?" tanyaku ke Ikhsan.

"Yuda, kumohon... Jadilah Yuda yang seperti biasanya! Kalau kamu ada masalah, cerita aja ke aku. Siapa tau aku bisa bantu! Please, jangan kayak gini Yud..."

"Hahaha! Kamu ini lucu ya. Gak nyangka kalau kamu segitu polosnya..." Ikhsan terdiam ketika mendengar aku tertawa. "Dengar ya, Ikhsan. Justru inilah aku yang sebenarnya... Aku yang disekolah hanyalah topeng! Camkan itu baik-baik. Lebih baik sekarang kamu pulang sebelum bahaya dateng ke kamu... Disini rawan lho,"

Ikhsan masih tetap terdiam dan terus memandangiku. Karena gerah ditatap seperti itu, akupun langsung memunggunginya dan mulai melangkah meninggalkannya.

"Aku nggak akan pulang... Sebelum Yuda pulang!" gubragh! Ternyata Ikhsan itu orangnya keras kepala ya! Padahal sudah ku kasih tau kalau tempat ini adalah daerah yang rawan akan kejahatan! "Pokoknya aku bakal ngikutin Yuda terus!" ancamnya yang sambil berlari kecil kearahku. Sial, kalau udah begini sih... Mau gak mau aku harus mengalah.

"Baiklah, kita pulang. Tapi ikut aku ke club sebentar, soalnya baju seragam aku ditinggal disana."

Aku dan Ikhsan segera mengunjungi club yang aku sebut tadi. Sesampainya di depan club, kami disambut oleh wanita cantik yang tak lain adalah sang pemilik club.

I'll Stand by You Part. 5


I'll Stand by You 
Part 5: Me, and my new job
*** 
~Ikhsan POV~

"Aldo... Serius nih tempatnya?" tanyaku dengan kedua mata yang terbuka lebar. Aldo hanya tersenyum sambil keluar dari mobilnya.

"Yoi, cozy banget kan tempatnya?" kini ia sudah mengunci mobilnya dan berjalan memasuki cafe tersebut. "Ayo masuk, kakak aku udah nunggu tuh..hehe,"

Gila, ini sih udah gak termasuk cozy lagi.. Tapi udah diatas mewah! Lihat saja dari penampilan depan cafe ini, tidak terlihat seperti cafe, melainkan seperti sebuah rumah ala-ala belanda. Apalagi dengan halaman yang luas dan asri, benar-benar terlihat mewah.

Bahkan baru selangkah saja aku memasuki cafe ini, rasanya tuh... Aku tak pantas untuk berada di tempat seperti ini T.T apalagi pakaianku biasa banget, jadi grogi nih aku.

"Aldo, kamu udah dateng?" tanya seorang wanita yang kini berada di hadapan aku dan Aldo. Wuah, cantiknya! Dia kakak kandungnya Aldo ya? Cantik banget.. Rambutnya panjang dan lurus, tubuhnya juga putih dan tinggi, seperti model! "Lho? Kamu Ikhsan ya? Sahabatnya Aldo waktu kecil?" tanya wanita itu dengan senyuman yang manis.

"A-ah, iya kak. Aku Ikhsan," ujarku malu-malu sambil mengulurkan tangan kananku kearahnya.

"Aku Reisha, kakaknya Aldo," balasnya dengan sangat ramah. Setelah itu, aku dan Aldo digiring oleh kak Reisha untuk memasuki sebuah ruangan. Dan setelah ruangan itu terbuka, terlihat seorang Pria tampan yang tengah menikmati secangkir kopi.

"Permisi, Pak Arya. Kedua lelaki ini yang pernah saya bicarakan ke Bapak. Mereka ingin bertemu dan mendiskusikan soal pekerjaannya ke Bapak.." ujar kak Reisha dengan sopan. Wah, dia terlihat beribawa sekali, gak beda jauh sama putri-putri bangsawan.

"Oh jadi kamu Ikhsan ya? Sama Aldo adiknya Reisha? Silahkan masuk! Silahkan duduk disini!" ternyata manager cafe ini ramah banget. Aku dan Aldo pun segera duduk dihadapannya, sedangkan kak Reisha keluar ruangan karena ingin melanjutkan pekerjaannya. Pak Arya menyambut kami dengan penuh semangat.

Yep, kali ini Aldo sedang berusaha untuk memberiku sebuah pekerjaan baru. Untungnya, kakaknya yang bernama Reisha bekerja disebuah cafe dan cafe tersebut sedang mencari penyanyi baru untu menyanyi di cafe itu.

Aldo pernah ingat kalau aku pintar menyanyi. Ya... Walaupun aku belum pernah menunjukkan bakatku itu di depan umum, tapi aku bisa menyanyi kok. Karena Pak Arya ragu dengan kemampuanku, aku disuruh Pak Arya untuk menyanyikan sebuah lagu dihadapannya. Dan akupun mulai bernyanyi didampingi oleh iringan gitar Aldo...

Remember when oleh Avril Lavigne, itulah lagu yang aku nyanyikan sekarang. Pak Arya tersenyum melihat penampilanku, dan setelah aku selesai bernyanyi, dia bergumam 'bagus, bagus' sambil menepuk kedua tangannya berkali-kali.

"Bagaimana kalau kalian membentuk duo?" tanya Pak Arya dengan cengiran khasnya. "Jadi begini, Ikhsan yang bernyanyi. Lalu ada Aldo yang bermain gitar dan menjadi background vocal, bagaimana?"

Tawaran Pak Arya langsung Aldo terima dengan senang hati. Akupun juga senang! Karena kalau sendirian dipanggung rasanya gimana gitu... Dan setelah kami menyetujuinya. Pak Arya memberikan tes yang kedua. Yaitu ketika pukul telah menunjukkan angka 7 malam, aku dan Aldo diberikan kesempatan untuk tampil perdana didepan para penonton. Dan jika ada 10 orang yang standing-applause melihat pertunjukkan kami, maka kami sudah resmi menjadi penyanyi cafe ini.

Alhamdulillah yah, aku gak ada penyakit demam panggung. Jadi aku nggak terlalu deg-degan buat tampil menyanyi di depan para pengunjung cafe ini. Aldo pun mempunyai rasa percaya diri yang sama sepertiku.

"Udah siap?" tanya Aldo dengan senyuman khasnya. Akupun membalas senyumannya dengan lebar. Tentu saja aku sudah siap!

Ketika sang MC sudah memberikan kami izin untuk maju keatas panggung, aku dan Aldo dengan santainya berjalan diatas panggung dan segera menempatkan diri ditempat masing-masing. Sebelum aku bernyanyi, aku menyapa para penonton... Dan langkah pertamapun sukses, karena para penonton menyambutku dengan sangat ramah. Lalu setelah suasana sudah diam kembali, Aldo mulai memainkan jemarinya di gitar kesayangannya. Dan dalam hitungan detik, aku segera melantunkan sebuah lagu....

Alangkah indahnya pelangi disana
Namun ia akan pergi
Termakan sang malam
Saat senja mulai tenggelam

Dia akan pergi
Tapi ku tak rela
Dia akan terbawa mimpi
Ingat aku yang kan setia menunggu
Setia mencarimu

Alangkah sejuknya memandang pelangi
Namun ia akan pergi
Seberkas cahaya perlahan memudar
Menghilang

Dia akan pergi
Tapi ku tak rela
Dia akan terbawa mimpi
Ingat aku yang kan setia menunggu
Setia mencari sosok indahmu

Pelangi, pelangi
Jangan kau menghilang
Pelangi, pelangi
Jangan kau tinggalkan aku

Tak'kan melupakanmu... Tak'kan pernah.... Sayang....


Lagu PELANGI oleh BLACKHEART sudah selesai kulantunkan. Tapi... Kenapa semuanya malah bengong melihatku? A-apa suaraku jelek ya!? Gimana ini? Apa segitu jeleknya suaraku sampai tidak ada satupun yang tepuk tangan?

Plok...plok....

Terdengar suara seseorang yang sedang menepuk kedua tangannya.

Plok! Plok! Plok! Plok! Plok!

Dan kini... Semua para pengunjung cafe berdiri dari tempat duduknya dan memberikan tepukan tangan yang sangat meriah.

"Encore! Encore! Encore!"

Kedua pipi putihku kini memerah karena teriakan para penonton. Aku langsung menoleh kearah Pak Arya dan kak Reysha yang sedang berdiri disamping panggung, mereka hanya tersenyum lebar dan memamerkan ibu jari mereka. Setelah itu aku menatap wajahnya Aldo, dia tersenyum sambil menganggukan kepalanya.

Aku dan Aldo kembali melantunkan sebuah lagu di minggu malam yang indah ini. Sepertinya aku cocok dengan pekerjaanku yang sekarang, apalagi ditemani dengan Aldo. Yah... Walaupun pastinya aku bakal kangen banget sama para dancer dan Pak Heru.

Tapi aku berharap, semoga pekerjaan baruku ini dapat berjalan dengan lancar. Aku sangat menyukainya. Aldo memang sahabatku yang paling TOP deh! Hehehe!

Setelah sukses mementaskan pertunjukkan perdanaku dan Aldo, kami dipanggil kembali keruangan Pak Arya dan kami menandatangani sebuah kontrak, yang artinya kami telah diresmikan untuk menjadi penyanyi di cafe ini.

Aku, Aldo, dan kak Reisha terlihat senang sekali ketika kami keluar dari ruangan pak Arya. Tapi setelah keluar, terlihat ada seseorang yang tengah berdiri disebuah tembok, dan ia tersenyum ketika lelaki itu melihat sosokku.

"Ikhsan! Tadi aku udah liat penampilan kamu! Wah, ternyata kamu ini pinter nyanyi ya... Aku baru tau, hehe!" kak Reisha dan Aldo menatapku dan lelaki itu secara bergantian. Wah... Kenapa dia ada disini!?

"Wah, Yuda... Kenapa kamu ada disini? Tadi kamu liat aku? Wah, jadi malu...hehehe," gak nyangka ternyata Yuda juga salah satu pelanggan di cafe ini! "Eh ya, Yud! Ini kak Reisha, kakaknya temen aku... Dan yang main gitar bareng aku tadi namanya Aldo, sahabat kecilku!"

Kak Reisha menjabat tangan Yuda dengan ramah, dan ketika Yuda mengulurkan tangannya ke Aldo. Aldo tampak diam sebentar, menatap lelaki itu dengan tajam.

"Gue Aldo. Sahabatnya Ikhsan dari kecil, sampe sekarang." ujar Aldo dengan nada yang dingin. Waduh, kenapa dia!? Perasaan tadi dia senang-senang aja? Kenapa dia keliatan sensi banget ya sama Yuda?

I'll Stand by You Part. 4


I'll Stand by You 
Part 4: Me, and my dream
*** 

~Ikhsan's POV~

"Jawab aku, Chan. Kamu habis dari mana?"

Aku benar-benar tak bisa membalas pertanyaannya. Gawat, apa yang harus aku katakan? Lagipula kenapa Aldo bisa ada disini? Ini sudah tengah malam...

"Chan, please jawab pertanyaanku. Kamu habis dari mana? Siapa Pria tadi yang barusan mengantarmu pulang?" kedua bola mata Aldo yang hitam pekat sedang menatap kedua bola mataku yang coklat. Aku berpikir sejenak.. Apakah aku harus membohonginya? Atau aku harus jujur padanya? Aku takut kalau nantinya Aldo akan menjauhiku kalau dia tau pekerjaanku. Tapi kalau misalnya aku harus berbohong padanya? Aku nggak bisa...

"Masuk ke dalam dulu aja, Do. Biar aku jelaskan semuanya..." Aldo segera mengekoriku dari belakang. Ketika aku membuka pintu rumah, aku mempersilahkan Aldo untuk duduk di ruang tamu.

Aldo menatapku dengan tatapan yang cemas. Dan dengan satu tarikan nafas yang ku keluarkan, aku pun memulai menjelaskan semuanya pada Aldo. Dan sepertinya Aldo mendengarkan semua ceritaku dengan serius. Baru kali ini aku melihatnya serius seperti ini...! Mungkinkah Aldo sudah tak mau berteman denganku lagi begitu ia tahu kalau aku bekerja di tempat-tempat hiburan? Tapi aku tidak akan terjerumus! Disana aku hanya menari saja... Apakah salah?

"Kamu nggak salah kok, Chan. Tapi sebaiknya kamu berhenti dari pekerjaanmu itu... Kalau kamu ketauan pihak sekolah gimana?" tanya Aldo dengan nada khawatirnya. Aku hanya bisa terdiam sambil memainkan jari-jariku dengan gelisah. Berhenti? Bagaimana bisa? Kalau aku berhenti dari pekerjaan ini, aku harus bagaimana lagi untuk bertahan hidup? Kalau menjadi pelayan biasa gajinya tidak mencukupi biaya sekolahku perbulan. Tapi Aldo ada benarnya juga, aku selalu khawatir kalau pekerjaanku ini diketahui oleh pihak sekolah.

"Lantas, aku harus bagaimana, Do? Kalau aku berhenti, aku gak bisa memenuhi kebutuhan hidupku..." Aldo tampak berpikir sebentar. Dia menyenderkan bahunya di sofa sambil menghelakan nafas yang panjang.

"Ah! Aku punya ide!" seru Aldo dengan penuh semangat. "Besok aku bakal kasih tau ke kamu. Sekarang mendingan kamu istirahat dulu, ok?" aku menatap Aldo dengan bingun. Kira-kira ide apa ya yang sedang dia pikirkan?

"Oh ya, aku boleh nginep disini gak?" eh!? Aldo nginep disini? Ngapain ya? Aku sih seneng banget kalau dia nginep, tapi...

"Boleh aja sih, tapi kayaknya aku gak punya baju ganti yang pas buat kamu... Gimana dong?" Aldo tersenyum mendengar pertanyaanku, dan ia membuka tas ranselnya yang ia taruh dibawah sofa.

"Tenang, aku udah mempersiapkan semuanya kok!" ujarnya dengan senyum yang lebar. Wah, jadi dia sudah merencanakannya ya? Ternyata Aldo datang kerumahku hanya untuk sekedar menginap. Katanya dia masih kangen sama aku, hahaha, ada-ada aja dia.

"Yaudah, kamu dikamar bekas kakakku aja ya? Aku mau mandi dulu sebentar," aku langsung mendirikan tubuhku dari tempat duduk dan bergegas mengambil baju rumah dari lemari kamarku.

"Wah, ternyata Ichan-ku udah bisa tidur sendiri ya... Padahal pas waktu kecil dulu kamu kan yang selalu ngajakin aku buat tidur nemenin kamu..." mendengar kalimat Aldo membuat wajahku berubah menjadi merah padam, entah malu, entah marah. Hah, Aldo memang ngeselin!

"Itu kan dulu...! Woooo!" protesku yang sambil melempar bantal tidurku kemukanya si jelek (baca:Aldo). Sayangnya, Aldo berhasil menangkap lemparan bantalku! Argh, dia malah melempar balik ke aku... Hiks, sakit.

"Berani ngelawan nih anak!" ujarnya yang kini tengah berlari kearahku dan langsung ngelitikin aku. Huwaaa, ternyata dia masih inget kalau kelemahan aku tuh dikelitikin!

"Adududuh...huahahaha..udah do, stop please...gyahahaha!!" bukannya Aldo berhenti, tapi dia makin cepet ngelitikin akunya! Aduh, kasur aku jadi berantakan deh T.T

Setelah Aldo puas mengelitiku, akhirnya aku dan Aldo sama-sama terkapar lemas diatas tempat tidurku. "Makanya, jadi orang jangan sok! Kamu tuh butuh waktu 1000 tahun buat bisa ngalahin aku!" aku hanya terdiam sambil menatap Aldo dengan kesal. Hah, dia dari dulu memang gak pernah berubah. Tapi aku bersyukur juga sih, itu artinya persahabatan kami masih sama seperti yang dulu, gak ada yang berubah.

"Udah, kamu gak usah mandi. Nanti rematik lho, mending kita langsung tidur aja..." benar kata Aldo. Aku juga capek sih sebenernya, males banget buat berdiri. Apalagi tangannya Aldo sudah berada di atas leherku, aku makin susah untuk beranjak dari kasurku.

Sudah lama aku tak merasakan perasaan bahagia ini. Sebelum Aldo datang, aku hanya tidur sendirian di setiap malam. Jangankan tidur, makanpun aku sendirian, bahkan tak ada satupun orang yang datang menyambutku ketika aku memberikan salam pulang. Hanya dengan Aldo yang membuatku tak merasa sendirian lagi dirumah ini.

Dulu waktu SD, aku selalu memimpikan hal-hal yang buruk, mungkin waktu itu aku belum terbiasa untuk tidur sendirian. Makanya aku selalu meminta Aldo untuk menginap dirumahku, supaya aku bisa tenang dalam tidurku. Ternyata benar, semenjak Aldo menginap dirumahku, aku jadi tak pernah memimpikkan hal-hal yang buruk lagi.

Seperti sekarang ini, aku bermimpi tentang sesuatu yang indah. 

I'll Stand by You Part. 3

Monday, October 22, 2012

I'll Stand by You 
Part 3: Me, and my job
*** 

~Ikhsan's POV~

Pukul sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku sudah mempersiapkan diriku di belakang panggung tempatku menari nanti. Akupun sudah memakai baju yang sudah disiapkan untuk pertunjukkan nanti. Biasanya kami mulai menari pada jam 9 malam, tapi entah kenapa hari ini waktunya dipercepat. Para pengunjung dihari ini pun di dominasi oleh kaum lelaki. Apa club ini tidak terlalu terkenal di kalangan perempuan ya? Entahlah. Para dancer juga semuanya dilakukan oleh laki-laki. Padahal biasanya ada yang perempuan juga.


Begitu host mempersilahkan kami untuk maju keatas panggung, kamipun mulai beraksi dengan penuh semangat. Kami terus menari diiringi oleh iringan musik DJ. Dan para penonton juga tak mau kalah dengan kami, mereka juga mengekspressikan diri mereka dengan menari bersama kami. Heran, kenapa mereka semua semangat sekali ya? Padahal kan yang menari saat ini semuanya lelaki, gak ada perempuan sama sekali.


Semakin malamnya hari, semakin panas juga suasana di club ini. Tepat pukul setengah sepuluh, munculah seorang Pria diantara kami yang memakai pakaian aneh.


Oh, aku ingat! Dia adalah DragKing. Aksinya selalu dinanti-nantikan oleh para pengunjung club ini. Bisa dibilang kalau dia adalah Icon dari club ini. Aku tak bisa melihat aksinya dengan jelas, karena banyak sekali penonton yang mengerubunginya. Ah, sudahlah. Aku tak mau melihatnya... Tugasku disini hanya menari. Ya, hanya itu.


Akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Waktunya para dancer kembali ke belakang panggung.


"Hei, ngapain bengong mulu?" tegur seorang lelaki dari belakangku. Ah, ternyata yang menegurku tadi adalah Fendy! Dia adalah salah satu dancer juga, umurnya lebih tua setahun dariku. Aku cuma tersenyum sesaat mendengar pertanyaan.


"Eh ya, San. Gue boleh minta tolong gak?" pinta lelaki berambut coklat itu.


"Apa?" tanyaku.


"Gini, gue hari ini diajakin jalan sama salah satu customer kita. Tapi sekarang gue gak bisa, San. Lu mau gak gantiin gue? Please?" tanya Fendy sembari menatapku dengan tatapan memelas.


"Hah? Memangnya siapa?" tanyaku lagi.


"Itu tuh orangnya..." Fendy menunjukkan seorang Pria berjaz hitam yang tengah duduk seorang diri di sebuah sudut yang agak gelap. Eh? Kenapa dia mengajak Fendy ya? Apa dia butuh temen curhat? "Kalau lu mau jalan sama dia, nanti aku bilangin ke orangnya! Dia pasti seneng kok jalan sama lo, oke?" aku terdiam mendengar pertanyaannya. Bukannya aku gak mau nemenin sih, tapi sekarang sudah jam 11. Walaupun besok hari minggu, tapi aku mesti nengok ibuku di rumah sakit. Gimana ya?


"Lumayan, tolol! Dia tuh eksmud, pasti dia bakal ngebeliin apa aja yang lu suka! Bagus kan?" aku masih tetap terdiam. Aduh, gimana ya? Aku bingung....


"Udah deh, pokoknya gini. Sekarang lo samperin dia ya? Lo harus temenin pria itu jalan kemana aja. Lagian gue udah terlanjur bilang kalau lu bakal gantiin dia, udah ya! Gue cabut dulu, temen gue dah nunggu di depan!" Fendy langsung pergi meninggalkanku dan berlari menuju teman lelakinya. Pengen banget aku ngejar Fendy, tapi... Dia uudah masuk mobil temannya. Hah, gimana nih? Aku bingung banget!


Tapi kalau dipikir-pikir... Sepertinya gak ada salahnya kalau aku jalan bersama Pria itu. Dia kan lagi butuh temen, siapa tau aku bisa memberikannya nasehat? Kata Fendy dia juga bakal memberikanku apapun yang aku suka. Wah, mimpi apa ya aku semalam? Bisa dapet rejeki nomplok seperti ini, hehe.


Akupun langsung pergi menuju tempat Pria itu duduk.


"Pe-permisi... Anda memanggil saya?" tanyaku dengan kaku. Argh! Gimana sih? Seharusnya aku bersikap ramah di depan hadapan pengunjung. Pria itu menolehkan wajahnya dan menatapku, dan bibirnya yang tadi cemberut mulai mengembang. Wajahnya yang tampan semakin tampan ketika ia tersenyum. Siapa sangka? Ternyata pemuda sukses dan tampan seperti dia masih mempunyai masalah, sampai dia membutuhkan teman curhat.


"Ah iya, nama kamu... Ikhsan ya? Temannya Fendy?" tanya Pria itu sembari mempersilahkan aku duduk. Akupun duduk disampingnya dan mengangguk kecil menjawab pertanyaannya.


"Jadi gimana? Kamu bisa ikut jalan denganku?" waduh, to the point banget! Gimana ya? Aku masih ragu dengan keputusanku ini, tapi... "Anggap aja malam ini adalah malam yang khusus untukmu. Aku bakal membelikan apapun yang kamu suka, asal kamu temenin aku. Kamu mau kan? Aku kesepian... Aku butuh teman," bisik Pria itu ditelingaku. Tangan kanannya yang tadi memegang gelas berisikan wine, kini tengah bergerak menuju bahu sebelah kiriku, dia merangkulnya.


"Saya......"


"Ehem, maaf menganggu. Tapi, bisakah saya meminjam lelaki ini sebentar?" belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku. Ada seorang Pria yang memotong kalimatku dan memegang tanganku sampai aku berdiri. "Mohon maaf, lelaki ini tidak bisa menemani anda. Sebagai gantinya, saya akan menggantinya dengan lelaki yang lain." pria yang tadi mengajakku jalan akhirnya bisa mengerti dan menerima tawaran mas Heru, dia adalah manager dari agensi kami.


Sesampainya dibelakang panggung, mas Hery mengeriutkan keningnya dan menatapku dengan tatapan kesal. "Lain kali kamu gak boleh kayak gini lagi, San. Ngapain kamu sama orang tadi, hah?" aku hanya terdiam mendengar teguran dari Mas Heru.


"Mas sudah berapa kali kasih tau kamu? Jangan pernah kamu mau buat diajak pergi sama orang yang gak kamu kenal! Lagian ini sudah malam, San! Kamu sendiri yang janji sama Mas kalau kamu gak mau macem-macem dan ikut terjerumus dalam dunia hiburan kan?" ujarnya dengan tegas.


"Tapi Mas, dia cuman butuh temen... Makanya aku..." Mas Heru menatapku dengan bingung.


"Teman? Kamu gak tau apa arti 'Teman' dalam dunia hiburan, San. Mas sudah bilang, pokoknya kamu harus janji gak akan menerima ajakan siapapun! Kamu ini udah Mas anggap sebagai adik Mas, Mas gak mau kamu kenapa-kenapa dan terjerumus dalam dunia hiburan ini..." ucap Pria itu sembari memelukku. Aku gak tau kenapa Mas Heru begitu khawatirnya denganku, padahal aku hanya diajak jalan saja. Lagipula sepertinya Pria tadi adalah Pria yang baik-baik kok, dia hanya butuh teman saja.


"Udah jam setengah 12, Mas anterin pulang sekarang ya?" akupun mengangguk dan mengekor dibelakangnya Mas Heru menuju parkiran mobil.


Hah, hari ini benar-benar aneh. Club yang aneh, show yang aneh, para pengunjung yang aneh, kelakuan Mas Heru yang aneh, semuanya aneh. Selama setahun aku menjalani pekerjaanku ini, baru sekarang aku menemukan hal baru di dalam dunia hiburan.


"Istirahat yang cukup ya, San. Good night!" ucap Pria itu sebelum aku turun dari mobil sedannya.


"Good night juga, Mas," salamku balik. Dan tak lama aku turun, Mas Heru kembali meluncur di aspal jalanan.


Akupun melangkah memasuki halaman rumahku. Dan langkahku terhenti ketika aku melihat seseorang yang tengah berada di teras rumahku. Jantungku serasa mau copot melihat sosok lelaki itu.


"Ichan... Kemana aja kamu?"


Aldo... Kenapa ditengah malam seperti ini dia ada dirumahku!?

I'll Stand by You part. 2


I'll Stand by You 
Part 2: Me, and my old memories
*** 

 ~Ikhsan's POV~

"Apa kabar, Ichan?" suara ini... Walaupun sudah berubah menjadi suara yang berat, tapi aku tak mungkin melupakan suara ini.

"Aldo...?" sapaku yang masih setengah tak percaya. Mungkin saja ini hanyalah fatamorgana saja? Ah, nggak. Gak mungkin. Dia begitu nyata, dia benar-benar ada di hadapanku sekarang.

"Hehe, kaget ya? Maaf deh," ucapnya yang sambil mengulurkan tangan kanannya ke aku. Kami pun bersalaman dengan erat. Hatiku benar-benar senang bukan main karena aku telah dipertemukan kembali dengan sahabat masa kecilku ini. Kami berteman semenjak kami masih kecil, waktu SD kelas satu. Dulu rumah Aldo tepat berada disamping rumahku. Hampir setiap hari kami melewatkan waktu bersama, dirumah dia selau seorang diri jadinya dia sering kesepian dan akhirnya bermain kerumahku. Saat itu keluargaku masih lengkap. Ada kak Zaki dan Ziko, kedua kakak kembarku. Dan juga ada ayah dan ibu. Ah... Tak terasa ya, waktu begitu cepat berlalu.

Setelah selesai berjabat tangan, aku mempersilahkannya untuk masuk kerumah. Dan membiarkannya duduk diruang tamu. Akupun langsung membuatkan dia secangkir sirup orange.

Selagi kami duduk dan meminum sirup yang baru saja kubuat tadi, sesaat aku melirik sosok Aldo yang kini telah tumbuh menjadi seorang Pria. Kupandangi tubuh sahabatku itu dengan lekat, membandingkan dirinya di empat tahun yang lalu sebelum dia meninggalkanku keluar kota. Dulu waktu kecil kami sepantaran, tapi sekarang dia jauh lebih tinggi dariku. Wajahnya juga semakin tampan saja, dan senyumnya pun makin oke. Aku yakin, para gadis pasti akan pingsan dibuatnya!

Aldo kembali membuka percakapan. Kemarin dia baru saja meninggalkan kota surabaya dan kembali ke kota ini, karena kakaknya akan kuliah disini. Begitu tahu kalau kakaknya akan kuliah di kota tempat tinggalnya dulu, Aldo pun langsung meminta kedua orang tuanya untuk pindah sekolah dan tinggal bersama kakak dirumah tantenya Aldo. Saat ini Aldo belum tahu mau sekolah dimana, dan ia menanyakan sekolahku karena ia mau memasuki sekolah yang sama denganku. Aku yang mendengar kabar ini pun langsung merasa senang bukan main!

"Lalu, aku prihatin atas apa yang sedang menimpamu sekarang, Chan..." ucapnya yang sambil menatapku dengan cemas. Ah... Mungkin dia sudah dengar dari tetangga tentang keluargaku. Aku hanya bisa tertawa untuk beberapa saat, dan Aldo menatapku dengan bingung.

"Gaya bicaramu kok kayak orang dewasa sih, Do?" ejekku yang masih tetap tersenyum. Aldo yang melihatku seperti ini, dia juga ikutan tertawa lepas.

"Walaupun sudah lama kita nggak ketemu, tapi semuanya tetap sama ya..." ucap Aldo yang seperti berbisik. "Semuanya seakan... Kita tak pernah mengucapkan kata selamat tinggal."

Aku terdiam mendengar kalimatnya. Wah, ternyata Aldo memang benar-benar sudah menjadi orang dewasa. Kalimatnya kurang bisa dicerna olehku...

Aku dan Aldo kembali terlarut dalam kenangan kami di masa SD. Dari hal yang menyenangkan, sampai hal yang paling memalukan! Heran aku, kenapa Aldo ingatannya kuat banget ya?

"Eh ya, kamu udah ada pacar belum nih?" tanya Aldo tiba-tiba.

"Ka-kamu nanya apa sih, Do? Belum ada kok! Jatuh cinta aja belum, gimana punya pacar?" Aldo tertawa mendengar jawabanku. Huh, padahal dia sendiri kan juga lagi single. Kenapa dia ngetawain aku sih?

"Kalau gitu, aku daftar boleh dong?" wajahku langsung berubah menjadi merah mendengar suara Aldo.

"OGAAAAAH!" jeritku yang memukulnya dengan bantal sofa. Aldo hanya tertawa keras melihat tingkahku ini. Huh! Aku tarik kata-kataku tadi yang bilang kalau Aldo itu sudah dewasa! Ternyata dia masih tetap jahil seperti dulu!

Setelah itu, Aldo pun berpamitan untuk pulang. Rumah tantenya agak jauh, dan ia juga dipesankan oleh tantenya agar tidak main terlalu lama. Aldo berjanji padaku bahwa ia akan sering-sering main kerumahku lagi, tentu saja aku sangat senang mendengarnya! Walaupun dia suka jahil, tapi aslinya dia baik banget kok. Waktu kecil dulu dia sering memberikanku berbagai macam buku bacaan serta mainan. Semua yang ia berikan selalu aku pakai, kecuali... Waktu itu dia memberikanku mainan pistol-pistolan, karena aku kurang begitu suka, jadinya aku simpan dikardus deh, hehe.

Ah ya aku lupa! Jam enam kan aku harus sudah sampai di Heaven! Gawat, sekarang sudah jam setengah enam! Semoga aku gak telat!

Dengan cepat aku langsung mengganti pakaian dan langsung beranjak pergi ke Heaven Club. Ditengah perjalan, tiba-tiba saja aku teringat kembali tentang kenanganku dulu bersama Aldo.

Waktu SD dulu aku sering dikatain cowok lemah, dan cuman Aldo yang selalu membelaku. Bahkan dia sampe rela babak belur melawan tiga cowok berandalan di kelas, hanya demi membelaku. Dia seperti Yola, dulu cuman dia yang bisa mengerti aku, yang selalu bisa melindungiku. Yola dan Aldo sama-sama berasal dari keluarga atas, tapi mereka berdua tetap mau bersahabat denganku. Aku bersyukur memiliki sahabat seperti mereka.

I'll Stand by You Part. 1


I'll Stand by You 
Part 1: Me, and someone I missed
*** 

~Normal POV~

Lima belas menit sebelum pesawat landing, seorang pemuda berparas tampan terbangun dari tidur lelapnya. Tubuh pesawat Boing 747-400 yang besar dan dingin itu mampu membuat pemuda tadi sempat tertidur.

"Bentar lagi sampe ya kak?" tanya pemuda itu ke seorang wanita disebelahnya. Wanita berambut panjang itu tersenyum dan menganggukan kepalanya.

Pemuda itu pun membalas senyuman kakaknya. Tak disangka karena akhirnya pemuda bermata hitam pekat itu akan kembali ke sebuah kota yang pernah ditinggalinya waktu masih kecil dulu. Dia tak sabar untuk bertemu kembali dengan seseorang yang dianggapnya special, seseorang yang dirindukannya selama empat tahun lamanya.

"Akhirnya kita bisa bertemu lagi," gumam pemuda itu didalam hati kecilnya.


~Ikhsan POV~

Saat ini, aku dan sahabatku sedang berjalan disebuah lorong utama sekolahan kami. Karena sekarang sudah jam setengah tiga, jadilah aku dan sahabat perempuanku ini menuju parkiran mobil.

Eiiits, bukan, bukan. Mobilnya bukan punyaku, tentu saja... Karena aku hanyalah seorang anak lelaki dari keluarga menengah. Sedangkan sahabatku yang bernama Yola ini merupakan seorang anak dari salah satu keluarga anggota DPR. Status kami memang berbeda jauh, tapi aku senang berteman dengan Yola. Karena cuman dia yang bisa selalu menghiburku diwaktu aku sedih.

Disepanjang lorong, banyak sekali gadis-gadis yang menegurku. Bahkan banyak dari mereka yang memintaku untuk pergi bersama mereka, sayangnya aku nggak bisa. Entah kenapa banyak sekali gadis-gadis yang mengincarku. Yah, bukannya aku ge'er atau gimana ya... Padahal aku ini nggak ganteng kok. Tinggiku gak beda jauh sama Yola, aku pendiam, kulitku putih, tubuhku kurus, dan paling nggak jago dalam hal bidang olah raga. Sama sekali nggak keren kan?

Oh ya, Yola juga gak kalah populernya denganku. Dia terkenal banget dikalangan laki-laki, banyak sekali cowok-cowok yang mengincarnya. Yola tuh udah badannya ramping, kulitnya putih mulus, dan berasal dari keluarga yang berada. Walaupun kalau soal teman dia kurang beruntung, karena banyak dari mereka yang segan untuk berteman dengannya.

Sesampainya di parkiran mobil, terlihat seorang lelaki yang tengah berdiri di depan mobilnya Yola.

"Ngapain lo disini?" tegur Yola dengan ketus. Lelaki itu hanya tersenyum kecil sambil berjalan mendekati Yola. Lelaki itu bernama Yuda, seorang lelaki yang dari dulu tak pernah menyerah untuk mendapatkan cinta Yola.

"Yol, nanti malam kamu ada dirumah?" tanya Yuda. Kedua mata Yola langsung mendelik mendengar pertanyaan Yuda.

"Sorry, gue sibuk. Ayo San, kita pulang," dasar Yola! Seenaknya saja dia memperlakukan laki-laki seperti itu. Heran aku sama Yola, kenapa dia harus sampai segitunya sih? Padahal Yuda itu pemuda yang baik kok.

"Yol...! Tunggu, Yol!" Yuda tak mampu untuk mengejar Yola karena Yola mengemudikan mobilnya dengan cepat. Kalau sudah begini aku jadi menghela nafas melihat tingkah lakunya itu.

"Kenapa sih, Yol? Kok kamu sensi banget sama Yuda? Dia kan cuman suka sama kamu?" tanyaku dengan nada pasrah dan bingung.

Yola menghela nafas sesaat. "Udah deh, San. Gak usah banyak tanya kamu!" sahut Yola sambil mengibaskan rambutnya kebelakang.

Detik berikutnya kami hanya berdiam diri. Hanya ada musik dari Radio yang mengalun dengan lembut. Salahku juga sih... Harusnya aku gak usah nanya-nanya hal seperti itu. Pasti Yola dengernya jengkel banget.

"Eh, San. Kamu malam ini mau nari lagi ya? Di club mana?" tanya Yola tiba-tiba.

"Heaven... Malam ini malam minggu. Jadinya aku dapat bayaran lebih," jawabku yang tak menatap kedua mata Yola.

"Malam minggu? Pengunjungnya kaum pelangi semua dong!? Aku denger-denger katanya kalau pas malam minggu pengunjung club itu mayoritas kaum pelangi?" kali ini aku menatap Yola. Menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Hah? Kaum pelangi?" tanyaku dengan tampang bodoh.

"Jangan bilang kamu gak tau?" tanya Yola sambil menatapku dengan serius. Akupun hanya menggeleng kecil.

Yola menepuk jidatnya sendiri. "Yaampun, segitu aja kamu gak tau? Kamu ini orangnya polos. Kok bisa-bisanya kerja di club sih!?" lho? Kok dia jadi marah-marah sih? Kadang aku gak bisa ngertiin apa yang sedang dipikirkan oleh Yola.

"Mau gimana lagi, Yol? Cuman ini yang bisa aku lakukan biar bisa memenuhi kehidupanku," balasku dengan senyuman kecil. Yola langsung menatapku dengan tatapan sedih.

"So-sorry, San. Aku gak bermaksud buat..."

"Ssst, nyantai aja Yol. Hehe," Yola tersenyum menatapku dan akupun tersenyum. Ya, cuman Yola yang paling bisa mengerti kehidupanku.

Aku adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Orangtuaku juga baik. Keluarga kami sangat harmonis. Hingga akhirnya... Ketika aku sedang berlibur pada liburan kenaikan kelas 2 SMP, terjadilah sebuah musibah yang datang pada keluarga kami. Bisa yang kami tumpangi terjatuh kesebuah jurang.

Ayahku meninggal. Kakakku yang pertama meninggal. Kakakku yang kedua menghilang. Dan ibuku... Dia mengalami depresi berat karena telah ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya, ia dirawat disebuah rumah sakit jiwa. Dan hanya tersisa diriku sendiri. Kadang aku ingin mengeluh menjalani hidup ini, tapi aku gak bisa. Karena diluar sana, pasti lebih banyak yang lebih menderita dibandingkan aku. Jadi aku tak pantas untuk mengeluh.

Sudah dua tahun aku tinggal sendirian. Dan sudah setahun aku kerja disebuah agensi dance. Penghasilannya cukup besar, makanya aku tertarik untuk mengikutinya. Walaupun aku sering dikirimkan tugas di club-club ternama di kotaku, sebisa mungkin aku tak akan menyentuh apa yang namanya Alchohol, Rokok, Narkoba, atau hal apapun yang akan merugikan diriku sendiri. Disini aku hanya bekerja sebagai penari, aku tak akan menjadi korban.

"Okey, San. Dah sampe nih!" Yola memberhentikan mobilnya tepat di depan rumahku.

"Thanks ya, Yol. See you later," bersamaan dengan kalimat itu, akupun langsung beranjak turun dari mobil suzuki SPLASH milik Yola. Sambil berbalik arah, Yola memberikan senyum termanisnya padaku. Akupun melambaikan tanganku dan segera memasuki rumah tercintaku ini. Tapi, didepan teras rumah seperti ada seorang lelaki... Siapa dia? Ja... Jangan-jangan penagih hutang!? Nggak ah, gak mungkin. Aku sudah melunasi semua hutangku kok, tapi... Dia siapa ya?

"Apa kabar, Ichan?" sapa seorang lelaki berparas tampan yang dengan ceria memanggilku dengan nama panggilan kecilku. Kedua mata coklatku terbuka lebar melihat sosok lelaki itu. Dia kan..............