Showing posts with label ZTH. Show all posts
Showing posts with label ZTH. Show all posts

Zero to Hero Part. 3

Wednesday, October 17, 2012

Z to H: No Logic

~ Gion POV ~

"Kamu tau nggak? Sekarang aku lagi kesel banget sama si Adam!" gerutuku yang tak dijawab oleh siapapun. Bukan karena mereka gak mau menjawab kekesalanku ini, tapi emang mereka nggak bisa ngomong. Ya jelaslah... Orang aku lagi ngomong sama bunga.

"Hmmm..." sudah berapa kali yah aku mengeluh gini? Habis, aku bener-bener kesel sama Adam... Aku heran sama dia, kenapa dia jadi jaga jarak sama aku? Memangnya aku salah apa? Baru kali ini aku dijauhi Adam... Makanya aku kesal, plus sedih.

"Hei rumput, jangan ngeliatin aku sama bunga aja. Kamu juga kasih solusi ke aku dong!" omelku yang kesal karena rumput-rumput itu bergerak ke kanan dan ke kiri, seolah-olah mereka sedang menari sekaligus meledekku.

"Payah, nggak ada yang bisa diajak ngomong!" umpatku kesal sambil membenamkan kepalaku dikedua lututku.

"Giovani! Sedang apa kamu ada disini!?" tanya seorang pria yang aku kenal sebagai guru Bahasa Inggrisku.

"P-pak Raditya? Saya... Saya nggak ngapa-ngapain kok, ehe..hehehe," jawabku dengan gugup. Wew, Pak Adit ngapain sih kesini? Ganggu orang aja ah... Udah tau lagi asik-asik curhat, ckckck.

"Apanya yang nggak ngapa-ngapain? Jelas-jelas tadi kamu ngomel-ngomel sendiri sama rumput..." heee~!? Jangan bilang Pak Adit udah dari tadi disini!? Aku cuman bisa diam mendengar kalimat Pak Adit. Pertama, karena aku nggak tau harus jawab apa dan malu setengah hidup. Kedua, aku takut salah ngomong sama Pak Adit soalnya dia itu guru paling killer disekolah.

"Ada masalah?" tanyanya yang terhenti sesaat karena ia sedang mengambil posisi duduk disebelahku. "Kalau ada, cerita aja sama saya."

Hah? Gimana ini? Mana mungkin aku curhat sama Pak Adit? Apalagi masalahku ini kayaknya nggak terlalu penting buat dia...

"Nggak mau?" aku menggeleng kecil sebagai jawaban dari pertanyaannya. "Yaudah, saya aja yang curhat."

Eh~!? Kenapa jadi dia yang curhat? Haduh, kayaknya aku salah ambil tempat curhat deh hari ini. Lebih baik tadi aku dikelas saja!

"Gini, orang yang saya sukai saat ini sedang didekati oleh seorang wanita," hah? Jangan bilang dia lagi curhat soal guru olah raga itu!?

"Setiap saya lagi bicara, pasti obrolan saya dengannya langsung diputus sama wanita tersebut," terpancar sebuah amarah yang berkobar dari kedua bola matanya. Hiii, kok aku jadi merinding gini ya? Dia curhat atau cerita serem sih?

"Yang lebih parah, kenapa dia begitu mudahnya terpesona sama wanita itu!?" aku cuman bisa ketawa mendengar pertanyaannya yang aneh itu.

"Apa kamu ketawa-tawa!?" bentakan Pak Adit sempat membuatku takut, hiks. Tuh kan, salah dikit aja dianya langsung marah...

"Lho? Giovani? Kamu ngapain disini? Ada Pak Adit juga?" ah... Su-suara ini bukannya...

"Ouwi!? Pak Glend!?" tegur Pak Adit sambil berdiri mendadak. Walah, pasti dia kaget, hihihi. "Sedang apa bapak disini?"

"Harusnya saya yang bertanya, Pak," jawab Pak Glend dengan tawanya yang khas. "Oh ya, Giovani. Sebentar lagi pelajaran saya kan? Kamu cepeten ganti baju, ya! Yang lain sudah pada ganti baju lho."

Akupun mengangguk kecil mendengar perintah Pak Glend, "iya pak, saya permisi dulu ya." beserta dengan kalimatku itu, kutinggalkan Pak Adit dan Pak Glend berduaan. Hihihi, kira-kira wajahnya Pak Adit kalau deket-deket sama Pak Glend gimana ya? Pasti sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat, hehe.

Hm? Kelas aku kok sepi banget ya? Kayaknya pada ganti baju di toilet deh. Dari pada harus naik-turun tangga lagi, mending aku ganti baju di sini aja deh, toh gak ada siapa-siapa. Kubuka kancing kemeja seragamku secara perlahan, takut-takut kalau kancingnya sampai lepas. Setelah itu, kubuka celana seragam abu-abuku...

"G-Gion!?" teriak seseorang dari arah belakangku. Dan, oh... Ternyata ada Adam!? "Uhm, lagi apa kamu? K-kok..."

"Hah? Udah jelas kan kalau aku lagi mau ganti baju olah raga?" tanyaku bingung. Lagian ngapain lagi coba? Ckckck, Adam bener-bener aneh deh akhir-akhir ini.

"Tapi kenapa disini!?"

"Kamu sendiri kenapa nggak ngajak aku ganti bareng?"

"A-aku nggak tau kamu dimana..."

"Alasan, biasanya juga sms,"

"Aku nggak ada pulsa!"

"Bohong! Kamu pikir aku nggak sadar kalau kamu lagi ngejauhin aku!?"

Adam melebarkan matanya dan menatapku dengan lekat. Kalau dipikir-pikir lagi, kejadian barusan... Kok aku kayak cewek yang kurang perhatian sama cowoknya ya!? OMG, apa yang aku pikirkan!? Sudah, sudah... Hush! Jauhkanlah pikiran negatif ini!

"A-aku mau turun duluan, bye!" pamitku dengan gugup dan melewatinya begitu saja. Aku bener-bener nggak bisa bayangin... Gimana jadinya kalau aku dan Adam situasinya terus begini? Aku sendiri nggak tau kenapa dia berubah gitu. Bahkan aku sendiri bingung sama diriku sendiri, kenapa aku sampai setakut ini kehilangan dia?

Hah, olah raga kali ini bener-bener nggak bikin aku semangat. Olahraganya juga ngebosenin, dikit-dikit lari, dikit-dikit push up, dikit-dikit senam. Padahal biasanya aku semangat, kenapa sekarang nggak ya?

Nggak kerasa, udah dua jam kita olahraga... Dan bel pulang pun berbunyi. Untung saja pelajaran olah raga terakhir, jadinya langsung pulang deh!

"Tunggu, Giovani!" teriak Pak Glend dari kejauhan. "Kamu bisa tolong beresin bola basketnya kedalem gudang nggak? Tolong ya? Please!" dasar guru muda... Nggak mau repot. Aku terpaksa menuruti permintaan Pak Glend.

Kuambil ketiga bola basket itu sekaligus, soalnya males banget bolak-balik. Gudangnya juga jauh dari lapangan sekolah, jadi ya lebih baik sekaligus kan?

Wah, ternyata pintunya udah kebuka!? Asik, kalau gini jadinya gampang deh masuk. Hm? Kenapa ada tulisan 'Pintu Jangan Ditutup!' ya? Ah, sudahlah. Yang penting aku taruh bola ini dan langsung pulang.

Setelah kutaruh ketiga bola itu, aku mengusap keringat di dahiku dengan lengan kananku. Tapi... A-aku lagi pusing atau apa ya? Kok perasaan lemari itu goyang-goyang sih? Kukucek kedua mataku, dan melihat lemari itu lagi. Kok masih goyang-goyang sih!?

Lemari itu semakin bergoyang, seakan mau jatuh. Dan...

"GION! AWAS!"

BRUGH!

Aku hanya bisa memejamkan kedua kelopak mataku. Kurasakan kedua tangan kekar memelukku.

CKREK!

Su-suara apa itu? Jangan-jangan.... Pintunya!? Pintunya ketutup gara-gara lemari itu jatuh! Tunggu, kok aku nggak sakit ya? Oh iya! Tadi aku kan diselametin sama... Sama... Omg, jangan bilang...

"Adam!? Ka-kamu nggak apa-apa!?" tanyaku yang panik karena melihat tubuhnya diam menindihiku. "A-aku buka pintunya dulu ya," ucapku yang sambil menggeser tubuh Adam.

Ckrek! Ckrek! Ckrek!

Arrrrgh!? Kenapa pintunya gak bisa dibuka!? Ternyata ini maksud dari tulisan tadi. Aduh, kalau udah gini apa yang sebaiknya aku lakukan? Si Adam juga masih diam. Ini gara-gara aku!

"Seseorang! Tolong kamiiiii, kita kekurung disini...!! Please, keluarin kami!!" hiks, kayaknya percuma aku teriak-teriak dan memukul-mukul pintu besi yang besar ini. Yang ada tanganku malah sakit.

"Sudahlah, kita disini saja," aku terdiam mendengar suara berat milik Adam itu. Tiba-tiba saja ia memelukku dari belakang. "Jarang banget kan kita bisa berdua kayak gini. Hanya ada aku, dan kamu..." bisiknya ditelinga sebelah kananku.

"A-a-a-adam, kamu jangan bercanda deh, lebih baik kamu pikir... Mmmph!" belum sempat kalimatku terselesaikan, Adam dengan lencengnya telah merebut ciuman pertamaku. Dengar baik-baik, DIA MENCURI CIUMAN PERTAMAKU TEPAT DIBIBIRKU! Adam memang sering mencium keningku, tapi ini... Ini dibibir... Apa maksudnya?

"Mnnh, Adam... Le-lepasin aku, kamu kenapa sih?" tanpa sadar, ternyata aku sudah berada dibawahnya lagi. Aku mencoba untuk menolaknya, tapi Adam sama sekali nggak mendengarkan perkataanku tadi! Aku kembali panik ketika kedua tangan Adam mulai menyelip kedalam kaos olahragaku.

"JA-JANGAN...!!" teriakku sekeras mungkin dan mendorong bahu Adam sebisa yang aku bisa.

"Kamu nggak mau?" tanya Adam datar.

"H-hah?" tanyaku balik, karena aku nggak ngerti sama pertanyaannya. "A-aku bukannya nggak mau, tapi... Aku... Aku..."

"Sssst," desis Adam ditelingaku. "Aku janji, kau akan menikmatinya..." bisiknya dengan nada yang menggoda. Ia kembali melanjutkan aksinya.

"Mnnnh," Adam masih melumat bibir tipisku dengan lahap. Lalu ciumannya turun keleherku, dan memberikan sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. I-ini... Ini salah. Ini nggak logis. Nggak ilmiah... Aku tahu itu. Tapi, kenapa aku bisa menikmatinya?

Kucoba membuka kedua mataku, dan menatap wajah putih milik Adam. God, this isn't Adam! Adam yang aku kenal nggak seperti ini. Adam yang aku kenal nggak egois! A-aku harus menghentikan aksi ini, aku nggak suka Adam yang seperti ini!

Selagi Adam masih asik melahap leherku, aku mencoba untuk meraih barbel yang berada didekatku. Maaf, Adam. Tapi aku terpaksa melakukan ini!

"SADARLAH, ADAM!"

BRUK!

Dengan sekuat tenaga, aku mengayunkan tanganku dan menimpuk tubuh Adam dengan barbel tadi. Lagi-lagi Adam nggak ada suaranya, posisinya tidur tengkurap. Dengan ragu, aku mendekati sosok Adam yang tidak bergerak itu. Aku menyentuh bahunya dengan jari telunjukku berkali-kali.

"H-hei, Adam... Maaf ya, aku reflek. Soalnya aku nggak biasa," krik krik krik, masih nggak ada jawaban dari Adam. Lalu aku membalikkan badannya, dan... HIIIIII!? Hidungnya berdarah!? Gimana ini? Gimana ini?

"Adam hebat deh, kok bisa sih tiba-tiba langsung tidur?" ucapku dengan nada meledek, namun masih nggak ada respon dari Adam.

"Uhrm, Adam... Kerasa bau aneh nggak?" aku mencopot salah satu sepatuku dan kutempel dihidungnya Adam. Hyaaa!? Dia masih belum sadar? Padahal baunya lumayan lho. Gimana ini? Sampe sepatu aku nggak mempan juga?

"Adam, ini ada laba-laba lho... Tuh laba-labanya ada ditangan kamu," UAPA!? Adam masih nggak respon juga? Padahal dia paling takut sama laba-laba... Gawat... Jangan-jangan, aku udah... Udah ngebunuh Adam!? Uwaaaa, bagaimana nasibku nanti? Begitu pintu ini dibuka, dan ditemukan mayatnya Adam, semua reporter ngejar-ngejar aku dan akhirnya aku masuk koran yang headlinenya "SEORANG SISWA MEMBUNUH SAHABATNYA SENDIRI DI GUDANG OLAH RAGA SEKOLAH." bagaimana nasibku nanti? Masuk penjara? Ooh nooo...! Aku nggak mau!

"KENAPA GUE BERDARAH!?" aku terdiam setelah melihat lelaki yang hidungnya berdarah ini tiba-tiba bangun dari alam baka.

"KENAPA JUGA GUE ADA DI GUDANG!? DAN... Eh? Gion!?" dia masih hidup? A-adam masih hidup!? ADAM MASIH HIDUP!?

"Hyaaaa, Adaaaam! I miss you so much! I miss you so well! Or apalah itu... Yang penting aku seneng banget kamu masih hidup!" tanpa ba-bi-bu lagi, aku langsung loncat dan memeluk Adam dengan erat. Aku bener-bener senang kalau ia masih hidup!

"O-oi, kamu nggak apa-apa Gion?" ucap Adam yang sambil melepas pelukanku. Ia mengusap setiap tetesan mataku, "kamu jangan nangis! Lagian kenapa aku sama kamu bisa ada disini sih? Ayo kita keluar!" ajak Adam sembari menarik pergelangan tanganku.

"Ta-tapi, kita kan nggak bisa keluar?"

"Hah? Kenapa?"

"Kamu nggak inget? Kita kekurung di gudang ini, soalnya pintunya rusak..."

"WHAT!?"

Aneh... Kenapa dia nggak bisa inget kejadian tadi ya? A-apa dia nggak inget juga tentang apa yang udah dia lakuin ke aku?

"Kamu duduk disini dulu aja. Biar aku dobrak dulu pintunya," Adam memberikan himbauan padaku, dan ia segera berjalan kearah pintu gudang. Pukulan pertama... Gagal. Tendangan pertama, gagal juga. Tendangan kedua, ketiga, dan seterusnya... Juga gagal.

"Sudahlah, kita tunggu saja sampai pagi nanti..." ucapku yang lemah, mungkin batreiku sudah mau habis. "Lagian udah malem kayak gini, mana mungkin kan ada orang?" entah sadar atau tidak, butiran air mata kembali membanjiri pipiku. Nggak ada yang bisa aku lakukan lagi, selain membenamkan wajahku diantara kedua lututku. Aku nggak mau kalau Adam melihatku menangis lagi.

"Jangan nangis," bisik adam yang sekarang tengah memeluk bahuku. "Kita bakal selamat kok, malem ini juga... Yakin deh!"

Aku tersenyum tipis melihat Adam yang seperti ini. Yep, Adam yang aku kenal. Adam yang selalu bisa menenangkanku, yang selalu ada untuk melindungiku. Aku menyukai Adam yang seperti ini....

"Adam, apa betul kamu nggak ingat kejadian tadi?" tanyaku pelan.

"Kejadian apa?"

"Tadi, kejadian setelah pintu terkunci?"

"Nggak. Yang aku tau, aku berniat negor kamu yang lagi bengong natap lemari, terus lemari itu jatoh, dan aku langsung nyelametin kamu... Habis itu..."

"Habis itu?" tanyaku penasaran. Kulihat wajah tampan milik Adam, dan terlihat ekspressi kaget sekaligus shock yang tergambar dari wajahnya itu. Adam langsung melepas pelukannya dan langsung menjauh dariku.

"A-aku lagi mau mikir jalan keluarnya dulu ya," ucapnya dengan gugup. Ada apa dengannya? Kenapa gugup gitu ya? Hah... Sudahlah, aku juga capek banget rasanya. Aku nggak bisa mikir apa-apa lagi.

Setengah jam sudah berlalu...

Satu jam sudah berlalu...

Satu setengah jam sudah berlalu...

"Hei, Adam..." tegurku lemas. "Kita main sambung kata yuk? Biar kita semangat..."

"Hm..." balas Adam yang nggak kalah lemasnya denganku. "Aku duluan ya?" aku mengangguk pelan sebagai jawaban 'ya'.

"Anggur..."

"Gurame..."

"Mentega..."

"Gangan udang..."

"Anggur..."

"Kok Anggur lagi sih?" protesku yang hanya dibalas dengan tawa khas milik Adam.

"Adam... Aku kedinginan," ucapku asal. Nggak asal juga sih, tapi emang kedinginan bener. "Kamu duduk disebelahku aja, Dam. Jangan jauh-jauh kayak gitu..."

Adam melirikku untuk sesaat, dan kemudian mengalihkan pandangannya ke sudut lain. "Nggak." jawabnya singkat.

"Kenapa?" tanyaku dengan kecewa. Padahal tadi dia nggak keberatan mau meluk aku kayak gimana juga.

"Aku... Aku nggak mau lepas kendali lagi," kali ini aku yang melebarkan kedua mataku. Dia... Dia ingat kejadian tadi!?

"Ka-kamu..."

"Tadi aku emang bener-bener lupa, tapi setelah kamu nanya lagi... Aku jadi ingat lagi," aaaaa, gimana ini? Dia ingat kejadian tadi? Aduh, aku kok jadi malu gini ya?

"Maaf ya..." ucap Adam yang masih membelakangiku.

"A-ah.. Nggak apa-apa kok. Aku nggak marah kok, aku cuman... Kaget..." ruangan ini kembali hening lagi. Hanya ada suara jangkrik diluar sana yang menemaniku dan Adam.

"Bersahabat denganmu... Aku, aku nggak berpikir kalau aku bisa merasakan perasaan ini diantara persahabatan kita," aku masih menatap punggung Adam tanpa mengedipkan mata sekalipun.

"Aku kesal waktu kamu berdekatan dengan orang lain selain aku. Awalnya aku nggak tau kenapa... Tapi, aku sadar... Pikiranku mulai melantur kemana-mana, aku tau ini nggak logis, tapi... Aku ingin kamu menjadi milikku, Gion. Hanya aku seorang. Aku nggak mau berbagi dengan yang lain. Maaf ya, aku ingin sekali memilikimu... Maaf, kalau aku ini egois..."

Aku masih terdiam mendengar kalimat Adam barusan. Aku berusaha mengingat kembali apa yang ia katakan tadi... Apa aku nggak salah dengar?

Dengan segenap keberanian, aku melangkahkan kakiku. Aku ingin berada disampingnya.

"Peluk..."

"H-hah?"

"Peluk aku, aku kedinginan!"

"Kamu ini denger penjelasanku tadi nggak sih!? Aku kan..."

"BIARIN!"

Dengan satu kali teriak, Adam langsung menutup mulutnya dengan rapat.

"Kamu nangis?" tanya Adam yang lagi-lagi mengusap pipi kananku. Aku hanya menggeleng kecil, dan langsung memeluknya.

"Aku... Aku nggak tau kalau ini logis apa nggak. Tapi, aku ingin lebih mengenal dirimu! Aku ingin selalu berada disampingmu! Aku..." aku nggak bisa melanjutkan kalimatku tadi. Aku nggak peduli lagi akan logis atau nggak logisnya tentang perasaan ini, yang pasti... Aku nggak mau kalau harus kehilangan Adam. Aku mau selalu berada disampingnya

"Mau logis atau nggak, pokoknya sekarang aku mau memelukmu!" tubuhku yang tadinya dingin, kini kembali hangat karena aku sedang berada didalam pelukan si Adam yang paling kusayangi ini.

Aku menatapnya sesaat, Adampun menatapku penuh arti. Kita berdua tersenyum.

Ya... Mau logis atau tidak, aku nggak peduli. Karena aku begitu menyayanginya.

Perlahan-lahan wajah Adam mendekat kewajahku. Akupun berinisiatif untuk mendekatkan wajahku juga. Hidung kami bertemu, dan tak lama... Bibirku bertemu dengan bibirnya. Ia kembali mencium bibirku, namun kali ini terasa lembut dan... Hangat....

GREK!!

"Adam! Giovani! Kalian ada di da...lam?" sebuah sinar terang menyinariku dan Adam yang tengah berpelukan dan sedang berciuman. Dengan posisi masih berpelukan, mulutku terbuka lebar menatap orang-orang yang barusan saja membuka pintu gudang olahraga.

Satu...

Dua...

Tiga...

"SORRY! SORRY! SAYA... SAYA NGGAK TAU KALAU KALIAN LAGI... LAGI... 'GITU'!"

"Adam! Lu malu-maluin banget dah mau 'gituan' aja harus di gudang!"

"Tau! Ini kita pinjamkan uang biar kalian mendapatkan tempat yang pantas!"

"Percuma kita nyari-nyari mereka berdua, nggak taunya lu berdua malah asik-asikan 'gituan'!"

G-gimana ini? Mereka ngeliat aku sama Adam ciuman!? Ditambah ada Pak Julian yang senternya lurus menerangiku yang jelas-jelas lagi ciuman sama Adam. Yaampun, apa yang harus aku lakukan? Lebih baik aku pingsan saja...

"Ki-kita nggak kayak gitu!? Kalian salah paham!? L-lho? Gion! Gion! Bangun! Arrrgh, pusing gue!" maaf ya Adam, mendingan kamu aja yang jelasin ke Pak Julian sama anak-anak kelas XII IPS 1. Aku pingsan dulu ya... Hiks, gimana nasib aku nanti? Gimana reaksi temen-temen nanti begitu tau kalau aku sama Adam ada 'sesuatu'? Hah... Pasrah aja deh aku...

Zero to Hero Part. 2







Z to H: Curious
---
~Adam POV~

Cih, lama-lama emosi gue bener-bener gak bisa ditahan kalau terus menerus berada diruangan ini. Pak Julian juga... Gak perlu repot-repot ngebela kita walaupun dia tau kejadian yang sebenarnya. Percuma, mau kita benar atau nggak... Tetap saja yang namanya IPS itu gak pernah bisa dianggap disekolahan ini.

Kasihan sekali Gion difitnah sepeti ini. Kalau aja gue udah gak inget apa itu artinya 'Tata Krama', udah gue maki-maki tuh dua anak sialan sekarang juga.

"Adam, apa benar kamu hanya mau melindungi Giovani?" tanya pak Ari yang menatapku dengan tatapan yang lembut. Urgh, heran gue... Padahal pak Ari segini baiknya, tapi kenapa nasibnya sial ya punya anak didik kayak mereka berdua!?

"Ya, saya hanya kesal dengan mereka yang mau memukul sahabat saya ini," jawab gue yang dengan santainya merangkul bahunya Gion. Pak Ari menatap Pak Julian lekat-lekat, sedangkan Pak Julian memandang kearah lain dan sesekali menggaruk belakang lehernya yang aku tebak kalau dia lagi grogi.

"Tapi kekerasan adalah kekerasan. Kamu tahu sendiri kan, Adam? Bahwa kekerasan sangat tidak diperbolehkan di sekolah ini. Kamu tau kan konsukuensinya?" tanya si guru BP itu. Hah, apa gue bilang? Percuma deh mau ngebela-belain gimana juga, toh, akhirnya juga anak IPA yang selalu menang!

"Ini... Ini gak ada hubungannya sama Adam, bu," kulebarkan kedua mataku karena mendengarkan suara seseorang yang berada disampingku. "Adam gak salah, akulah yang salah bu. Saya bertanggung jawab atas kesalahan ini," ucap Gion dengan tegasnya. Membuat semua orang yang berada diruangan itu terdiam sejenak.

"Terus... AKHHHH!?" belum sempat mendengar Gion berbicara lagi, tiba-tiba kita semua kaget mendengar teriakannya.

"Yaampun, yaampun, yaampun! Ibu, ini bunga udah berapa lama gak disiram!?" tanpa menghiraukan kondisi dan suasana, Gion langsung berlari kecil kesebuah meja yang diatasnya terdapat kumpulan bunga di vas bunga. Bunga itu sepertinya sudah mulai layu...

"Er... I-itu, sekitar seminggu... Mungkin?" jawab guru BP tadi dengan sangat bingung.

"APA!?" teriak Gion ala-ala pesinetron yang lagi ada adegan kaget. "Seminggu!? Ibu, ibu ini gimana sih... Bunga itu mesti disiram minimal satu hari sekali. Dan gak boleh ditempatkan ditempat yang gelap seperti ini! Tarolah bunga ini di dekat jendela, biar kena sinar matahari bu, lalu..." aku beserta yang lainnya hanya terdiam melihat Gion yang sedang asik ceramah sambil merawat bunga yang mau layu itu. Melihatnya yang sedak asik sendiri kayak sekarang ini, entah kenapa hal itu bener-bener bikin gue senyam-senyum sendiri. Lucu banget kalau dia udah panik kayak gitu, gemes rasanya.

Setelah dia sudah selesai ceramah dan selesai mengurus bunga tadi, ia baru sadar kalau kita semua sedang memperhatikannya.

"Err... Erm, sepertinya aku harus kembali duduk lagi, hehe... Maaf, maaf," ucapnya sembari berjalan miring dan kembali duduk disebelah gue. Lalu ia membenamkan wajahnya dilengan sebelah kiri gue, hahaha, pasti dia malu banget deh. Gue acak-acakin aja rambutnya untuk menyalurkan rasa gemasku itu.

"Oke, sudah clear masalahnya," ucap pak Ari yang sambil tersenyum. "Dion, Gilang... Coba kalian minta maaf pada Adam, dan Giovani!" perintah Pak Ari dengan suara yang lembut tapinya tegas.

"Tapi pak..." ucap Dion yang nggak rela. Sedangkan Pak Ari hanya menatap Dion tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.

"Shit..." desis Gilang sangat pelan dan mulai menatapku dengan kesal.

"Sorry," ucap mereka berdua dengan singkat.

"Yang sopan dong..." pinta Pak Ari.

"Kami minta maaf ya, Giovani, Adam!" gue cuman bisa tersenyum puas melihat mereka yang meminta maaf ke gue sama Gion. Hmm... Tumben banget kali ini IPS bisa menang, atau mungkin Pak Ari yang terlalu baik kali ya?

"Saya juga minta maaf sama Pak Julian ya, maafkan atas perlakuan kedua murid didik saya," ucap Pak Ari yang menunduk minta maaf sama Pak Julian.

"E-eh? Nggak apa kok 'Njel, er... Maksud saya, nggak apa-apa kok Pak Angel, santai saja, hehe," wew, kenapa Pak Julian grogi ya? Perasaan tadi dengan Pedenya dia masuk sini, tapi setelah ada Pak Ari, dia jadi salting kayak gitu. Jangan-jangan........ Argh, perduli baget dah ngurusin masalah orang!

"Yaudah, untuk selanjutnya serahkan masalahnya pada ibu, Pak Ari, dan Pak Julian. Kalian balik saja ke kelas kalian masing-masing. Dan ingat... Jangan pernah berbuat onar lagi disekolahan ini! Mengerti!?"

"Mengerti buuuuuu!" gue, Gion, Gilang, dan Dion pun segera menginjakkan kaki dari ruangan BP. Gue sama Gion belok ke kiri, Gilang dan Dion belok ke kanan. Terlihat Dion yang sangat kesal sampai mengayunkan kepalan tangannya diudara, dasar bocah... Beraninya gaya-gayaan doang! Sekali sabet juga K.O!

"WOI! Giovani sama Adam udah balik, nih!" teriak si kembar Yoga dan Yogi dari depan pintu. Tak lama setelah kita berdua masuk, semuanya bener-bener heboh... Gue cuman ketawa ketiwi aja ngeliat tingkah laku temen-temen gue yang bener-bener lebay gini. Baru juga sejam dipanggil guru, kok sambutannya kayak gue yang habis keluar dari sel penjara aja.

"Tadi kenapa, Dam? Kok bisa sih lu berdua dipanggil?" tanya si Andreas ke gue. Dan gue jelasin aja semuanya, termasuk kejadian tadi pagi ke anak-anak.

"Hidih... Si Dion ma Gilang cari gara-gara lagi tuh!? Udah, dibikin lalap aje!" ucap si Andreas dengan kesalnya.

"Hahaha, dasar anak jaman sekarang bisanya banyak ngomong aja. Aku yakin, mereka berdua bakal habis dengan cutter kesayanganku ini..." kali ini Aria yang angkat bicara sambil mengeluarkan cutter kesayangannya dari dalam kantong bajunya. Ia memainkan cutter yang bermotif bunga-bunga-love itu sambil tersenyum seram.

"Aria, kamu berlebihan..." protes Rangga. Aria malah senyam-senyum aja.

KRIIING! KRIIING!

Bel sekolah sudah berbunyi, tandanya kita berganti mata pelajaran. Tak lama suasana kelas yang tadinya ramai langsung sepi seketika dan kembali ketempat duduk mereka masing-masing. Gion langsung ambil posisi disebelahnya Rangga, dan gue duduk sama Aria.

Pak Bambang yang mengajar Matematika masuk ke kelas dengan senyuman lebar. Hah, senyuman palsu.

Dua puluh sudah menit berlalu, dan gue masih aja asik ngegambarin sesuatu dibelakang buku gue. Gue paling males sama pelajaran dia, walaupun gue akui kalau metode belajarnya asik. Tapi gue gak suka sama caranya dia...

"Callista!"

"I-iya pak!?"

"Dari tadi kamu ngelamun aja? Mikirin siapa hayoo~?"

"H-hah!? Nggak mikirin siapa-siapa kok, Pak!"

"Yaudah, jawab pertanyaan bapak. 2-10 berapa?"

"Ya... Udah jelas 8 lah pak?"

"Aduh.. Amit-amit deh. Makanya jangan ngelamun terus. Itu pelajaran anak TK aja kamu gak tau. Bapak bingung deh ngajar di IPS, lebih asik di IPA... Yasudah, lanjut ya!"

Ini yang aku gak suka. Terang-terangan dia ngebandingin anak IPA sama IPS. Yaudah sih kalau gak suka ngajar di IPS kenapa mesti mau ngajar disini? Ck, bikin kesal saja. Kita boleh gak sepintar anak IPA. Tapi gue yakin rasa solideritasnya menang IPS!

"Sst, Adam! Nih, dari Giovani!" bisik Aria yang sambil memberikanku secarik kertas.

'Jangan bete gitu dong mukanya >.<'

Aku tertawa kecil melihat tulisannya yang terjejer rapih itu. Dasar, dia tau aja kalau aku lagi bete gini.

'Tenang, gak bete lagi kok. Makasih yah, Gion ^^'

"Apa?" tanya Aria yang menatapku dengan malas.

"Apanya yang apa? Kasihin ke Gion nih!" pintaku padanya.

"Yang pacaran kalian, napa jadi gue yang repot? Dikira gue tukang pos apa..." protes Aria. Hah, biasa deh... Kenapa sih hampir semua orang ngira kalau gue pacaran ma Gion? Gue cuman sayang dia... Cuman sayang sebagai sahabat aja.

"Jyaelaaah, sapa yang pacaran coba? Udah cepet kaa...."

"Wah... Anak muda jaman sekarang, masih surat-suratan juga ya, isinya so sweet..."

DEG! Mampus gue... Surat dari Gion diambil! Sejak kapan tuh guru ada disamping gue!?

"Giovani, Adam... Supaya enak, bapak kasih tempat khusus buat kalian pacaran. Silahkan keluar kelas ya," shit! Guru sial! Kasian Giovani kan kalau dia sampai dihukum...

"Maaf, Pak..." ucap Giovani sembari melangkahkan kakinya keluar kelas. Gak lama, gue juga nyusul ketempatnya.

"Sorry ya, Gi. Gara-gara aku..."

"Gak salah kok kamu. Justru aku senang," gue terpaku mendengar kalimatnya itu. Dan gue pun bertanya dalam hati, kenapa dia harus senang? Keluar kelas itu kan penderitaan...

"Kenapa senang?" tanyaku akhirnya. Dia menatapku sesaat, lalu ia menyunggingkan seutas senyuman pada bibirnya yang tipis itu.

"Kok malah ditanya? Ya jelas karena ada kamu yang nemenin aku," jawabnya yang sambil tertawa kecil.

Tolong jawab gue, gue gak salah denger kan? Dia? Seneng? Kalau ada gue? Perlu beberapa menit untuk bisa mencerna kata-kata dia barusan. I-ini emang hawanya lagi panas atau apa ya? Kok tiba-tiba wajah gue jadi panas gini sih? Gaswat, gue jadi bingung mau bilang apa ke dia. Kenapa gue jadi grogi gini sih!?

"H-hei... Lu berdua yang disana. Kok keluar kelas?" gue langsung mencari sesosok makhluk yang baru bicara tadi. Dan... SHIT! Itu si duo cowok sialan yang tadi!?

"Nama lo Giovani, kan?" ucap salah satu dari mereka. Cih, mau nyari gara-gara apa lagi dia?

"Iya, kamu Dion sama Gilang kan?" hebat. Bisa-bisanya si Gion masih bisa senyum ngebales teguran mereka!

"Iya. Urm... Masalah tadi, kita minta maaf ya Giovani..." oh. Jadi mereka berdua cuman mau minta maaf ke Gion? Bagus. Gue kagak dianggap. Tapi baguslah kalau mereka udah ngerasa salah.

"Lho? Kenapa kalian minta maaf lagi? Tadi kan udah minta maaf, hehe," shit! Mereka gak pantas buat nerima senyuman maut milik Gion!

"Giovani, kamu baik banget sih! Aku jadi merasa bersalah karena tadi bentak-bentak kamu," THE HELL....!? A-apa yang barusan dia bilang? Kesambet apa si Gilang jadi pake aku-kamu ngomongnya!?

"Iya, nggak nyangka kalau kamu baik banget. Ternyata omongannya dia bener," kali ini si Dion yang angkat bicara. Arrgh, kenapa dia jadi aku-kamu juga!?

"Emang dia baik. Gak songong kayak lo berdua!" gak tau kenapa, gue bener-bener kesel ngeliat mereka sok akrab sama Gion.

"Adam, kamu kok gitu sih? Udahlah, mereka udah minta maaf sama kita kan?" KITA!? Mereka cuman mau minta maaf sama kamu, Gion. Aargh, mereka tuh cuman mau cari muka!

Lima belas menit lamanya mereka bertiga asik ngobrol soal tanaman, dan apalah itu istilah-istilah IPA lainnya. Cih, padahal tadinya mereka berdua nggak kayak gini. Kesambet apa sih mereka? Jangan bilang mereka udah kecantol sama pesonanya Gion.

Wait....

Pesonanya? Kok gue seakan-akan nganggep Gion kayak cewek ya? Nggak, nggak. Ini gak bener.

"Eh ya, aku sama Dion pamit dulu ya, bye Giovani," ucap Gilang sambil meluk Gion dengan eratnya. Tunggu... MELUK!? DIA BERANI MELUK GION!?

"Kamu ngapain sih akrab sama mereka?" tanyaku dengan kesal.

"Hm? Memangnya kenapa? Toh, sepertinya mereka orang baik-baik," jawab Gion. Ck, Gion... Seandainya kamu tau kalau aku gak suka sama mereka yang tiba-tiba deketin kamu.

-Skip Time: Istirahat-

Hari ini rasanya gue bener-bener males di sekolah. Udah tadi ada yang cari ribut, dihukum, dan tiba-tiba ada cowok IPA yang deket-deket sama Gion. Aaargh, kenapa gue bisa semarah ini sih!? Dari pada gue marah, mending gua ikut makan bakso si om aja dah sama si Andreas.

"WOOOOI!"

"UHUK...!!?"

Tiba-tiba aja ada satu makhluk gak jelas yang nyempil di antara gue dan Andreas.

"Bego lu, Aria! Gue salah apa sih ama lo!? Udah tadi dimintain tolong gak mau, sekarang lu mau bunuh gue gara-gara keselek!?" protes gue yang gak rela karena satu bakso telah terbuang percuma gara-gara si cowok ngeselin satu ini. Hah, dasar Aria. Dia itu cowok paling menyedihkan yang gue kenal seumur hidup. Ada gejala kalau dia bakal jadi penerus si Rian Penjanggal itu, ckckck. Liat aja tuh kulitnya, hampir semulus tembok kantin yang putih! Emang bener-bener gak ada bulunya sama sekali. Tapi, selain wajahnya yang manis itu... Dia juga paling suka sama hal yang sadis-sadis. Tontonan favouritenya aja The SAW, sama Happy Tree Friends, kompleks banget. Well, gue sih gak curiga ya kalau dia ada kelainan hormon atau gimana, liat aja tuh sekarang... Apa yang sedang dia lakuin sama Andreas?

"Ndre, kamu punya flashdisk nggak?" tanya Aria tiba-tiba ke Andreas sambil menatap lurus kearah Andreas.

"Punya dong, buat apa?" tanya Andreas yang masih tetap tersenyum menatap si bocah tengil tadi.

"Buat transfer cintaku ke kamu," jawab Aria dan disusul oleh suara tawa Andre.

Hah, gak heran gue ngeliat kelakuan dua cowok ini. Si Andre juga... Gue gak akan curiga kalau si Andre ini punya kelainan hormon testosteron kalau sikapnya jantan. Tapi kenyataannya, man, kalau pas lagi olahraga disuruh lari... Dia bener-bener gak bisa diharapkan. Dikit-dikit "hosh, hosh, hosh" dikit-dikit "capek gue..." baru juga satu putaran! Dan gue gak pernah ngeliat tingkah laku Aria ataupun Andreas yang seharusnya berperilaku layaknya seorang cowok, yaitu: ngerokok, nonton BF, atau nggak godain cewek gitu.

Tapi yah, gimana-gimana juga, gue gak bisa ngejauhin mereka. Mau mereka pacaran kek, apa kek, asal mereka gak ngerugiin gue, gue yah asik-asik aja temenan sama mereka.

"Lo berdua lengket banget sih, kagak risih apa kalau lu digossipin pacaran?" tanya gue yang sambil terkekeh pelan. Andreas yang lagi asik blow-job baksonya itu, dia langsung natap ke gua dengan tatapan yang susah gue jabarkan dalam kata-kata.

"Hm? Lo sendiri?" tanya Andre.

"Gue? Gue kenapa?" tanya gue yang saking bingungnya.

"Iya, bukannya lo di gossipin pacaran sama Giovani tercintamu?" tanya Aria yang sedikit meledek.

"Jyaah, biasa aja kali. Dibilang kita nggak pacaran,"

"Yang bener? Gue tadi liat lo sama Giovani dari jendela pas lu dihukum keluar kelas. Lu kok keliatan kesel banget pas ada dua cowok yang lagi ngobrol sama si Giovani?" tanya Andreas menyelidik.

Glek. Kenapa gue jadi tertegun gini?

"Soalnya kan mereka..."

"Mereka anak IPA yang tadi ngusilin si Giovani? Terus lu gak suka kalau dia akrab sama mereka?"

Sambung Aria secara tiba-tiba.

"Gue yakin, lu masih punya alasan lain 'Dam," ucap Aria. Lagi-lagi gue cuman bisa diem dan tertegun.

Setelah gue pikir-pikir lagi, emang bener, sepertinya ada alasan lain... Tapi apa? Oke, tarolah si Aria yang lagi ngobrol akrab sama dua cowok sialan dari planet IPA itu. Gue biasa aja. Tapi pas gue bayangin si Giovani, kenapa rasanya ada yang aneh?

"Eh, gue beli minuman dulu ya?" pamit Andreas.

"Bentar! Gue ikut 'Ndre!" susul Aria membuntuti Andreas.

Teganya mereka...
Ninggalin gue yang tiba-tiba galau dan akhirnya gak jadi menikmati blow-job bakso.

Zero to Hero Part. 1


Z to H: New Member
---
~ Julian POV ~

Alkisah disalah satu SMA yang terletak di kota Bogor, terdapat perlakuan yang berbeda antara anak jurusan IPA dan IPS. Mereka terlalu meng-anak-emaskan murid-murid yang masuk di jurusan IPA dibanding anak IPS. Kenapa aku bisa mengambil statement begitu? Tentu aku bisa menjelaskannya. Pertama, di SMA itu terdapat 6 kelas IPA, sedangkan IPS hanya memiliki satu kelas. Kedua, anak-anak IPS cenderung dikatakan sebagai anak buangan dari IPA, sedangkan anak IPA selalu dipuji-puji. Ketiga, jika anak IPS melakukan kesalahan, pasti langsung diingat-ingat oleh guru. Sedangkan anak IPA selalu dimaafkan oleh guru-guru. Sangat tidak adil bukan? Padahal kalau menurutku, bukankah IPA dan IPS sama saja derajatnya?

Oke, perlakuan diskriminasi itu memang tidak baik. Aku mencoba untuk meluruskan pikiran mereka agar bisa memandang positive siswa-siswi jurusan IPS, namun...

"Kalau bapak memang mau membela mereka, maka sebaiknya anda menjadi wali murid mereka saja?"

"Benar sekali! Apalagi di kelas XII IPS 1 kan belum ada wali kelasnya, sebaiknya bapak aja yang menjadi wali kelasnya!"

"Selama puluhan tahun saya mengajar, saya belum pernah melihat guru yang memandang positive siswa-siswa jurusan IPS disekolah ini."

"Aih, aih...."

Aku? Jadi wali kelas anak IPS!? Tunggu, aku ini baru saja menjabat jadi seorang guru... Kenapa tiba-tiba jadi wali kelas!?

"Baiklah, karena banyaknya permintaan... Saudara Juliano Rizard, anda telah resmi menjadi wali kelas di XII IPS 1. Selamat!"

Bisa-bisanya si kepsek yang mirip Mario Bross itu mengucapkan selamat untukku!? Ini bukan kabar yang menggembirakan, THIS IS DISASTER! Ya tuhan, apa salahku sehingga harus memikul tanggung jawab yang berat ini? Kalau aku bisa nangis darah, pasti aku udah meninggal sekarang...

Coba bayangkan, mana ada sekolah yang seenak jidat milih wali kelas? Apalagi yang dipilih itu adalah seorang pemuda berumur 18 tahun yang baru saja menjabat sebagai guru Bahasa Indonesia plus masih menjabat sebagai guru honor bukan tetap... Ada gak yang seperti itu? Nggak kan? Memang sekolahan ini sekolahan yang paling stress yang baru kutemui seumur hidup!

Akupun disuruh ke kelas XII IPS 1 untuk memperkenalkan diri dan berkenalan dengan mereka. Kebetulan, hari ini adalah hari pertama mereka masuk sekolah lagi, jadinya aku gak perlu repot-repot mengajar dihari pertama.

Dari depan pintu XII IPS 1 ini, bisa terdengar suara-suara orang yang lagi teriak-teriak, buset... Ini pasar atau ragunan ya? Hah, mau bagaimanapun juga, aku mesti masuk ke kelas yang aku puji-puji di depan guru tadi.

CKREK!

Kubuka pintu itu seakan-akan aku memasuki pintu neraka... Ok, itu lebay! Baru satu langkah aku menginjakkan kaki di kelas XII IPS 1, rasanya... Rasanya tuh kayak... Kayak kita mau masuk ke kelas yang belum pernah kita kunjungin sebelumnya. Garing banget gue. Oke, kembali fokus. Baru satu langkah aja memasuki ruangan kelas ini, semua mata tertuju padaku. Mending kalau tatapannya ramah, lah ini? Ada yang natap aku tajam, ada juga yang natap aku dengan tatapan yang boring.

Ok, ok... Tenang... Stay cool... Stay cool... Stay cool... Tarik nafas, keluarkan... Tarik nafas, keluar...

"Siapa sih?"
"Tau? Guru baru kali?"
"Hah? Guru bau!?"
"Hahahaha!"

Ampun deh, baru gue masuk aja udah dihina-hina gini! Mestinya gue gak usah sok tau jadi guru baru disini... Dikira anak IPS nya tuh baik-baik, nasib banget dah jadi orang sok tau.

"Siap! Beri salam!" kali ini ada suara seorang lelaki yang sangat lantang, bisa kutebak kalau dia ketua kelas di kelas ini.

"Selamat pagi, pak!" ucap mereka semua dengan serentak. Erm, walaupun ada dari mereka yang masih tetap diam.

"Selamat pagi, anak-anak. Aku...er, maksud saya, nama saya Juliano Rizard. Guru Bahasa Indonesia kalian yang baru, sekaligus saya juga akan menjadi wali kelas kalian selama satu tahun ini."

"............"

Hening. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka. Bahkan mereka semua menatapku dengan tatapan yang boring nan garing. Mama, bawa aku pulang sekarang juga! Sedih banget sih nasib aku yang jadi guru kayak gini... Sumpah, dicuekin itu bener-bener gak enak rasanya. Sekarang aku baru bisa ngerasain perasaan guru-guruku dulu yang selalu dicuekin oleh murid-muridnya... MAAFKAN AKU GURU!!

Oke, back to the real world. Walaupun rencana pertama gagal, biar kupakai rencana keduaku. Supaya mereka lebih bisa mengenaliku lebih dekat. Aku menuliskan nama lengkapku di white board. Kujelaskan tentang latar belakangku sedikit, alasan kenapa aku bisa menjadi guru, dan sebagainya. Tetap saja mereka masih diam! Ampuuuun, apa salah gue!?

"Yak, itulah sedikit perkenalan dari saya. Uhmm, karena saya belum mengenal kalian semua, jadi tolong ya perkenalkan diri kalian masing-masing? Dimulai dari yang paling pojok sebelah kiri!" mendengar seruanku tersebut. Seorang laki-laki berkulit putih itu langsung berdiri dan memperkenalkan dirinya.

"Nama saya Rangga, pak!" ucap lelaki yang berpakaian paling rapih itu.

"Nama panjang kamu?" tanyaku.

"Rangga doang, pak!"

"Oke, kalau gitu bapak panggil kamu doang, ya?"

"Bukan pak! Maksudnya, nama saya Rangga aja!"

"Ooh, jadi manggilnya aja ya?"

"Bapak, nama saya cuman pake Rangga. Cuman Rangga. Cuman satu kata. Nggak pake doang, dan aja! Cuman Rangga!" aku menahan tawa mendengar jawaban anak itu. Hahaha, lumayan hari pertama dapet korban.

"Oh, jadi cuman Rangga aja ya? Yaudah deh, saya manggil kamu..."

"Ya, pak?"

"Hmm, khusus kamu. Saya bakal memanggil kamu yang beda dari yang lainnya..."

"Oke, apa itu pak?"

"SERANGGA! Satu Rangga, dan hanya Rangga seorang. Gimana? Bagus kan?"

"........"

Bisa kuterka kata-kata yang ia pendam sekarang. Pasti di dalem hatinya dia lagi bilang: Kalau lu bukan guru gua, udah gue bunuh hidup-hidup lu!

Oke, lanjut. Setelah Rangga, disebelahnya ada seorang lelaki yang lagi asik mainin semut dimejanya. Setelah kutegur untuk berdiri, ia pun segera berdiri.

"Kamu! Bapak bilang kan beridiri sekarang," ucapku yang sok galak.

"I-ini udah berdiri pak..." jawabnya dengan nada yang bergetar. Hiks, padahal mau bermaksud bercanda. Tapi malah jadi ngebuat orang nangis, gak tega ah. Habisnya tubuhnya mungil banget sih, imut imut gimana gitu... Hahaha.

Setelah memperkenalkan dirinya yang bernama Giovani Surya, disebelahnya terdapat si ketua kelas, namanya Adam Ferdiansyah. Lalu ada si wakil ketua kelas, yaitu Aria Zhaera. Dan ada si tukang tidur yang bernama Adi Yudha Perdana. Disusul oleh Rico Fachriza, Callista Febrianti, Destiana Denestasia, Valeria Valerie, dan tidak lupa... Si empat cowok paling ghokil yaitu Andreas Lesmana, Yoga Javas Nicola, Yogi Janice Nicola, dan Zega Agustian.

Ternyata setelah berkenalan, mereka tidak suram-suram banget. Malahan seru! Tapi, apa aku bisa mendidik mereka dengan benar? Umur kami hanya berbeda satu dua tahun saja... Yakin gak yakin, aku harus mencobanya kan? Bersyukur banget kalau dikelas XII IPS 1 ini hanya terdapat 13 orang. 10 laki-laki, dan 3 orang perempuan. Jadinya semakin ringan bebanku jika murid didikku semakin sedikit.
¤¤¤¤¤
Z to H: Introduction
¤¤¤¤¤

Gak kerasa udah hampir dua minggu aku ngajar di kelas XII IPS 1. Akupun mulai memperhatikan sikap dan predikat mereka masing-masing. Ada si Adam yang tegas, pantas kalau dia menjadi ketua kelas. Ada Aria si lelaki berwajah manis, namun dalemnya sadis. Lalu ada Giovani, si cowok mungil yang cinta banget sama keindahan alam dunia. Ada juga si kembar Yoga, dan Yogi... Kakaknya yang bernama Yoga, dia lebih tegas dan berani dibandingkan dengan Yogi. Namun tetap saja mereka saling melengkapi satu sama lain. Ada juga si Rangga, mungkin dia yang paling normal diantara lainnya... Soalnya dia paling pintar dan ngomongnya gak ngaco.terus ada Rico, si cowok yang bawaannya cool ini, bisa berubah menjadi rempong ketika ia sedang mengobrol bersama dengan teman ceweknya. Tak lupa dengan si tukang tidur yang bernama Adi, gak dimanapun... Mau itu di kelas, di pohon, atap sekolah, pasti dia tidur terus deh. Lalu ada model nyasar di kelas XII IPS 1, ia bernama Andreas Lesmana. Ada juga sastrawan nyasar, namanya Zega Agustian.

Oh ya! Tak lupa dengan ketiga cewek penguni XII IPS 1, yang pertama adalah... Callista Febrianti, seorang cewek yang terkenal dengan otak lolanya. Lalu ada Destiana Denestasia, kalo ini terkenal dengan suaranya yang cempreng dan orangnya yang lebay banget! Terus ada juga yang paling tergalau dan termisterius, sebut saja dia Valeria Valerie.

Karakter dan wajah mereka yang unik, mampu memudahkanku untuk mengingat dan menghapal nama-nama mereka.

Oh ya, selain murid-murid didikku, aku juga ingin memperkenalkan guru-guru yang paling menarik bagiku. Pertama, ada seorang guru kesenian yang bernama Fahmi Robhani. Dia dikenal sebagai guru 'Aih, Aih'. Kenapa? Karena pak Fahmi ini sering banget ngucapin kata 'Aih, aih'. Contoh:

"Pak, hari ini cerah banget ya?"
"Aih, aih..."
"Pak, saya pulang duluan ya pak..."
"Aih, aih..."

Dalem hati, ini guru kehabisan kata-kata atau apa ya? Jangan bilang kalau pas ngajar dia pake bahasa 'Aih, aih' nya itu? Hah... Ada-ada saja.

Lalu ada lagi, kita sebut dia sebagai guru 'Puluhan Tahun'. Mau tau kenapa? Mari kita simak... Sebenarnya gak usah disimak gak apa-apa sih, gak penting ini, haha.

Jadinya, itu guru ceritanya udah ngajar selama puluhan tahun... Katanya sih, soalnya dia sering ngomong;
"Selama saya mengajar puluhan tahun, baru kali ini saya ngeliat ada murid yang dapet nilai jeblok!"

"Selama puluhan tahun saya mengajar, belum pernah saya menang undian kayak gini!"

Nah lho, apa hubungannya ya menang undian sama mengajar? Hah... Benar-benar guru yang aneh, haha. Oh ya, ada kejadian lucu juga nih! Si guru puluhan tahun ini pernah ngobrol sama si guru aih aih;

"Selama puluhan tahun saya ngajar, saya baru ketemu sama murid sebandel dia!"

"Aih, aih..."

"Saya bingung, selama puluhan tahun saya mengajar. Masih ada aja guru yang gaji buta!"

"Aih, aih..."

"Pak, yang lebih bingung lagi... Selama puluhan tahun saya mengenal bapak. Belum pernah saya mendengar kata lain selain aih aih nya anda..."

"Aih, aih..."

"Selama puluhan tahun saya mengajar, boleh saya mendengar bapak tanpa kata Aih, aih?"

"Hmm, hmm, hmm..."

"Jangan hmm hmm juga!"

"Aih, aih..."

Dan saya gak tau lagi bagaimana caranya mereka bisa menyelesaikan pembicaraan aneh bin gaje itu.

Terus disetiap sekolah pasti ada guru killer kan? Disini juga ada dong, hahaha. Namanya pak Raditya, dia juga baru berumur 20-an kayaknya. Sebenarnya dia gak bermaksud buat galak, tapi dia dituntut galak sama sekolahan... Kata pihak sekolah, gak seru kalau gak ada guru killer disekolahan mereka, dan akhirnya si Raditya jadi korban deh. Senasib... Hahaha. Raditya merupakan guru tetap di SMA ini, dia mengajar bahasa Inggris. Dan ada satu rahasia nih, ternyata dia menyukai guru olahraga yang bernama Glend! Wow, gak bisa dibayangkan kan? Laki-laki, dengan laki-laki... Bisa suka? Ok, itu gak heran buat gue. Karena gue juga ngalamin hal yang kayak gitu setelah gue mulai mengajar di sekolahan ajaib ini.

Nama panjangnya Angelito Ariena, semua orang memanggilnya dengan sebutan Ari... Walaupun aku lebih sreg manggil dia Angel, hehe, soalnya unyu sekale. Bukan namanya aja yang unyu lho, haha. Tapi wajahnya juga bener-bener imut. Kayaknya dia juga sepantaran kayak aku, tapi entahlah... Terlihat lebih muda.

Kalau pak Fahmi kan mengajar di bidang seni rupa, nah... Kalau Angel, dia mengajar di bidang seni musik. Dia itu orangnya jarang banget ngomong, sekalipun ngomong palingan cuman kalau ada perlunya aja. Tapi sifatnya itu benar-benar mengalihkan dunia si Jomblo Ngenes, alias gue... Hiks. Pernah sih sekali gue ajak ngobrol dia, gini nih;

"'Njel? Kamu mau pulang ya?" tanyaku basa-basi dan tanpa embel-embel 'pak'. Karena dari awal aku udah minta izin buat manggil dia Angel, hehe.

"Uhm, iya nih Julian. Saya duluan yah," ucapnya sembari menenteng tas selempangnya yang keliatan berat itu.

"Kamu naik apa, 'Njel?" tanyaku.

"Naik angkot, 'Yan..."

"Emang ada angkot di depan sekolah?"

"Nggak sih, cuman saya jalan dulu kedepan. Baru saya naik angkot, hehe..." DEG! Seseorang, tolong katakan padaku... Apa ada yang salah dariku? Kenapa jantungku berdetak ya untuk beberapa saat tadi? Aku juga seneng banget pas ngeliat senyumnya yang... Bisa dibilang manis itu. Seandainya kalau gue udah gak punya akal sehat lagi, pengen rasanya gue jedot-jedotin kepala gue yang gak waras ini ketembok!

"Bareng sama aku aja, 'Njel? Kedepannya? Aku bawa motor kok!" ajakku yang bermaksud buat PDKT. Tunggu, kenapa gue jadi PDKT ma cowok ya!? No! Kemana akal sehat gue!?

"Nggak usah, Julian. Makasih ya, saya duluan ya," beserta dengan kalimatnya itu... Ia tega meninggalkanku sendirian seperti ini. Hiks, demi apa? Gue ditolak? Gak salah? Puluhan tahun saya mengajar, eh, maksudnya... Belasan tahun gue hidup di dunia, baru kali ini ada orang yang menolak pulang bareng bersamaku. Hiks, apa aku kurang ganteng ya? Hancur, hancur hatiku.

Well, itulah perkenalan kecil tentang lingkungan gue sekarang. Gue sendiri juga jadi ikut-ikutan rada gak waras karena ngajar disini... Udah ngomongnya nggak konsisten, kadang pake aku, saya, dan gue. And, yang lebih parahnya lagi... Gue jadi suka sama cowok! OMG! Apa kata dunia!? Entah apa yang terjadi selanjutnya... Disekolah yang semua penghuninya stress kayak gini.
¤¤¤¤¤
Z to H: Rival is Real
¤¤¤¤¤
Seperti biasa, hari ini adalah hari yang cerah. Akupun belum pernah menemukan bukti kalau anak IPA dengan anak IPS itu saling bermusuhan. Yah, walaupun aku juga gak pernah liat anak didikku bermain bersama anak-anak IPA.

Tapi, ternyata... Pagi ini ada yang berbeda.

"Hei, kalian! Jangan buang sampah sembarangan dong!" tegur seorang lelaki yang suaranya sangat kukenal. Dengan mengeluarkan jurus ninja mutant ku, aku mencoba untuk mengintip lelaki itu yang berada di taman sekolah.

"Heh... Ngapain lo disini? Anak IPS mah nggak usah ikut campur soal alam!" kali ini terdengar suara cowok yang bener-bener nggak enak buat di dengar, upss.. Alamak, keceplosan aku.

"Percuma kalau kalian anak IPA, tapi kalian nggak cinta sama alam!" ucap sang lelaki mungil itu sambil memunguti sampah-sampah yang berserakan diatas rumput, dan ia buang ketempat sampah.

"Halah... Anak IPS gak usah sok lah ngajarin anak IPA segala! Sini, gua kasih pelajaran!" dua orang lelaki yang badannya lebih besar dibanding lelaki mungil itu, mencoba untuk melukai anak IPS itu. Aku yang panik dan ingin menghentikan aksi mereka, malah aku yang jadi menghentikan aksiku sendiri. Karena...

"Heh, bencong! Kalau ngelawan orang jangan keroyokan dong! Bencong banget sih lu pada..." ternyata seseorang sudah menolong lelaki mungil yang bernama Giovani itu. Dan sang penolong juga berasal dari kelas XII IPS 1, ia tinggi, badannya kebentuk banget, dan model rambutnya spike. Yep, that's him. Adam Ferdiansyah, sang ketua kelas XII IPS 1.

"Masa dua lawan satu? Gak fair banget sih. Kalau mau lu berdua lawan gua!" tantang si Adam yang melindungi Giovani. Sedangkan lelaki mungil itu hanya bisa berlindung dibelakang tubuh Adam dengan muka yang sangat cemas.

"Banyak bacot lu ya! Gue kasih pelajaran baru tau rasa," sebelum pukulannya mengenai wajah Adam, dengan sigapnya Adam menahan tangan lelaki itu dan dipelintirnya. Sedangkan anak IPA yang satu lagi mencoba untuk memukul perut Adam, namun nasib anak IPA itu sama saja dengan yang sebelumnya. Hanya dengan satu perlawanan, mereka berdua sudah jatuh dibawah tanah dan tanpa mereka sadari mereka mulai menjauhkan jarak mereka dengan Adam.

"GUA BAKAL INGET PERLAKUAN LO TADI!" teriak salah satu dari mereka sambil berlari meninggalkan Adam dan Giovani, disusul oleh temannya yang ikut-ikutan kabur juga.

"Jyah, cuman diinget doang? Payah ah..." gumam Adam sambil terkekeh pelan. "Kamu gak apa-apa?" tanya Adam ke Giovani. Lelaki mungil itu hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.

"Kalau kamu baik-baik aja, senyum dong!" ucap Adam yang sambil menarik kedua pipi tembemnya si Giovani.

"Aaauw... Sakit..." protes Giovani yang sambil memegang kedua pipinya. Lagi-lagi Adam hanya tertawa kecil, dan kini ia sedang merogoh kantong celananya... Mengambil sesuatu.

"Ini, permen buatmu. Jadi jangan nangis lagi, ok?" terlihat senyuman yang mengembang dari bibir tipis milik Giovani. Wow, ternyata Adam pinter juga buat ngehibur orang. Dia memang pantas kalau jadi ketua kelas...

"Yuk, sekarang kita kekelas," ajak Adam sambil menggandeng tangan Giovani. Wait...!? Dia mau keluar!? Waduh... Mesti cepet-cepet ambil langkah seribu nih, dari pada ketauan ngintip.

KRRRIIIING!

Bel sekolah sudah berkumandang diseluruh sudut sekolah, itu tandanya semua siswa harus kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran pertama. Akupun segera memasuki kelas XII IPS 1 untuk mengajar Bahasa Indonesia.

"Selamat pagi, anak-anak!" sapaku dengan senyuman.

"Selamaaaaat pagiiii, paak!" ucap mereka dengan serentak dan penuh semangat. Hah... Semangat masa muda yang indah, mengingatkanku sewaktu aku muda dulu... Tunggu, emang sekarang aku udah tua ya?

"Permisi pak Julian, saya minta waktunya sebentar bisa?" tegur seorang wanita paruh baya yang sedang berada didepan pintu. Akupun mengizinkan wanita itu untuk memasuki kelas ini.

"Terima kasih, Pak," tutur guru itu yang sambil berjalan ketengah kelas. "Buat Adam dan Giovani, ikut ibu keruang BP sekarang!" perintah guru itu dengan mata yang melotot kearah Adam dan Giovani. Mereka berdua dengan pasrah meninggalkan tempat duduk mereka dan mengikuti guru itu keluar kelas.

Terdengar bisikkan murid-murid XII IPS 1 yang tak begitu jelas. Mungkin mereka khawatir dengan Adam dan Giovani? Entahlah, tapi yang pasti....

"Maaf, semuanya. Bapak izin keluar kelas dulu ya, tolong kerjakan soal di buku paket halaman 65 tugas 1 dan 2. Dikumpulkan sekarang ya," beserta dengan kalimatku itu, aku segera mengambil langkah keluar kelas. Namun baru satu langkah aku keluar dari ruangan itu, ada seorang murid yang keluar dari dalam kelas dan segera menghampiriku.

"Pak, tolong jangan menghakimi Adam dan Giovani pak! Saya tahu mereka anak yang baik-baik," pinta anak itu, yang tak lain adalah Rangga. Aku hanya tersenyum kecil menanggapi kalimatnya itu.

"Kamu gak usah khawatir, Serangga! Bapak tahu mana yang benar dan mana yang salah," ucapku yang sambil mengacak-ngacak rambut hitamnya. Ia membalas senyumanku dan kembali keruangan kelasnya.

Tak butuh waktu lama untuk keruang BP, hanya membutuhkan waktu tiga menit saja, aku sudah sampai di depan pintu ruang BP.

"Dia yang memukul kami, pak! Lihat saja luka ini..." terdengar suara seorang lelaki yang tidak enak didengar... Ah! Ini pasti orang yang tadi!?

"Adam, apa benar kamu memukul mereka berdua?" tanya seorang wanita dengan nada yang prihatin.

"Ya," jawab Adam cuek.

"Tapi kenapa? Mereka berdua gak salah apa-apa kan?" bisa kudengar suara tawa kecil yang keluar dari mulut Adam.

"Kalau ibu gak tau hal yang sebenarnya, mending gak usah ngomong deh bu!" aku tersentak mendengar kalimat Adam. Waduh... Dia kalau mau ngomong gak pilih-pilih kata dulu ya!?

"Kamu... Oke, ibu sudah mencoba sabar buat ngadepin kamu! Pokoknya kamu..."

"Tunggu! Bisa kita bicarakan masalah ini baik-baik?"

Aku membuka pintu ruangan BP dan menampakkan diriku yang bercahaya oleh... Sinar matahari.

"Pak Julian? Ada apa pak?" tanya guru tengah baya itu.

"Gini bu, saya mau meluruskan masalah ini secara kekeluargaan," jawabku dan guru itu langsung memberikanku tempat duduk disebelahnya Giovani, dan Adam. Bisa terlihat jelas raut wajah mereka berdua yang bingung menatapku, dan kubalas dengan sebuah senyuman yang sok cool.

"Gini bu, tadi pagi saya melihat Giovani yang sedang memberi nasehat pada dua anak dari kelas IPA ini, lalu..."

"Hah!? Nasehat? Yang ada kita berdua yang nasehatin Giovani, soalnya dia buang sampah sembarangan!" Giovani menatap kesal pada dua lelaki yang berasal dari kelas IPA itu.

"Sudah, diam kamu Dion, dan Gilang! Dengarkan penjelasan pak Julian dulu!" tegur guru itu.

"Yaelah, bu! Masa iya ibu lebih percaya omongan pak Julian yang notabenenya adalah wali kelas XII IPS 1!? Ya jelaskah dia mencari alasan agar anak didiknya bisa selamat dari masalah ini!" DEG! Gila, ini anak dikasih makan apa ya sama orangtuanya? Bisa-bisanya dia berbohong kayak gitu.

"Aduh, aduh... Udah, ibu pusing mendengarnya. Ibu bakal panggil wali kelas kalian dulu, biar cepat selesai," sepeninggalan guru BP itu, aku, Giovani, Adam, dan kedua anak IPA itu hanya terdiam menunggu guru itu kembali. Hah... Ada baiknya juga guru itu manggil wali kelasnya. Muridnya aja gak bener gini, gimana wali kelasnya ya? Gak bisa bayangin, pasti gak bener deh.

"Nah, silahkan masuk pak. Silahkan duduk disebelahnya Dion dan Gilang," akhirnya... Guru itu kembali! Siapa ya wali kelasnya? Apa aku kenal guru itu? Dan...

"Terima kasih, bu. Maaf merepotkan," DEG! Su-suara itu.... Gak mungkin kalau dia......

"Pagi, Pak Julian..." tegurnya dengan senyuman khasnya yang sangat manis itu. Dia...

"Pagi... Pak Angel...." sapaku balik dengan sangat lemas.