Showing posts with label Romance. Show all posts
Showing posts with label Romance. Show all posts

The King Part. 1

Monday, December 24, 2012

The King
***♚***

Disebuah ruangan yang hanya diterangi oleh lampu kecil, terdapat seseorang yang terlihat sedang berdiam diri. Di atas mejanya, terdapat sebuah Handphone model kini dan sebuah buku yang memperlihatkan foto sekumpulan orang-orang. Bibir lelaki itu tergerak, mengalunkan sebuah nada indah walaupun tanpa sepenggal lirik.

Beberapa detik kemudian, Handphonenya berbunyi. Dia pun segera melihat isi pesan yang baru saja diterimanya.... Dan dia tersenyum. 
***♚***
Order #1
Show Your Feeling!
***♚***
"Bukan Rel, Of Course itu nggak disambung tulisannya... Iya. Hmm? Iya bener... Nah itu kamu bisa, haha. Ada lagi yang mau kamu tanyain?"

Terlihat seorang lelaki yang sedang sibuk berbicara oleh seseorang melalui telepon genggamnya. Lelaki itu sedang berada di kamarnya yang tidak terlalu luas, namun tertata rapih, jadi sangat nyaman dilihatnya. Ditambah dengan penerawangan yang tidak terlalu terang, menambah suasana kamar menjadi sangat tenang. Jarang sekali menemukan laki-laki yang pandai menata kamarnya. Namun tidak heran untuk seorang Terry yang memang rajin dalam urusan pekerjaan rumah tangga. Disamping itu, Terry juga pandai dalam hal pelajaran. Tidak heran kalau dia menjadi murid kebanggan guru-gurunya.

"Nggak deh, kayaknya udah cukup. Gue juga udah ngantuk nih... Thanks ya 'Ry buat hari ini!" ujar seorang lelaki dari seberang telpon. Lelaki yang baru saja berbicara tadi bernama Darrel, dia adalah teman sekelas Terry sekaligus sahabat dekatnya Terry dari kecil.

"Ok deh. Besok jangan kesiangan ya, bye!" ujarnya sebelum memutuskan line telephone.

Terry menaruh Handphone miliknya di meja kecil yang berada di samping tempat tidurnya, dan ia segera menarik selimutnya tanda bahwa ia akan segera menikmati alam mimpi. Namun, tak lama HP nya berbunyi kembali. Terry segera meraih HP nya, dan melihat email yang baru saja ia terima.

"The King? Siapa ya?" Terry bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Seinget dia, dia belum pernah memasuki kontak bernama The King. Tanpa basa-basi lagi, Terry langsung membaca Emailnya.

***♚***
From: The King
Subject: Order #1
Message:
Order #1: Show your felling!


Selamat malam, teman-teman! Selamat bergabung dalam King's Game!
Untuk nama yang telah disebutkan, segera lakukan perintah dari King dalam jangka waktu 24 jam~! 

Jika ada yang tidak melakukan atau bermain curang, maka harus mendapatkan hukuman~!

Bintang kita hari ini adalah...
Absen no. 5
Arga Mahendra


Nama yang disebutkan diatas akan mengutarakan perasaannya kepada orang yang disukainya~!

Selamat berjuang!

sincerely,
The King

***♚***

"Arga? A-apa ini?" Terry tampak berfikir sejenak, namun ia segera meletakkan handphonenya kembali ke atas meja. Mungkin saja hanya spam, pikirnya.
***♚***
Keesokan paginya, seperti biasa... Terry menghampiri Darrel supaya mereka berangkat bareng ke Sekolah. Di depan rumahnya Darrel sudah berdiri seorang lelaki yang tak lain adalah teman sekelas Terry juga. Lelaki bermata hitam itu segera menghampiri Terry.

"Yo, Terry! Good morning~!" Terry tersenyum melihat lelaki itu.

"Pagi, Gilang~!" jawab Terry sambil tersenyum lebar.

"Hei, 'Ry, 'Lang! Sorry nunggu lama... Hahaha!" ternyata Darrel pun juga sudah keluar dari rumahnya. Akhirnya mereka langsung berangkat menaiki sepeda masing-masing.

Ditengah perjalanan, Terry tiba-tiba saja teringat oleh email yang diterimanya tadi malam. Dan dia segera menanyakan hal itu pada Gilang dan Darrel. Kedua lelaki itu saling bertatapan. Ternyata Gilang dan Darrel juga mendapatkan email yang sama.

"Lu gak ngerjain kita kan, 'Rel?" tanya Gilang.

"Kok gue sih yang dituduh? Siala lu 'Lang!" balas Darrel sambil menjitak sahabatnya itu. Terry hanya tertawa kecil melihat kedua sahabatnya.

Sesampainya mereka di kelas, ternyata semua penghuni kelas XI IPS 1 tengah mengerubungi Arga.

"Hei~! Ayolah, beritahu kita dong siapa orang yang kamu suka!"

"Sobat macam apa lu bro, punya orang yang disukain tapi gak bilang-bilang! Dasar!"

"Kyaaa, dari kelas mana, Arga? apa satu kelas sama kita?"

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teman-temannya. Sedangkan lelaki yang bernama Arga itu hanya tertawa grogi menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-temannya. Arga tidak memberikan jawaban yang pasti, mungkin dia belum siap untuk mengutarakan perasaannya.

"Kayaknya satu kelas dapet email dari The King deh..." ujar Darrel pelan. Terry dan Gilang langsung menatap Darrel. Wajah Terry tampak gelisah, sepertinya dia merasakan hal yang tidak enak tentang email itu.

Berbalik ke arah Arga kembali. Walaupun saat ini ia sedang berada ditengah keramaian, tetapi matanya tetap terpaku pada seorang lelaki yang menjabat sebagai Ketua Kelas di XI IPS 1. Ya... sudah lama Arga memperhatikan Ketua Kelasnya itu. Bahkan ia bersusah payah untuk memasuki SMA yang sama dengan orang yang disukainya itu. Sayangnya... Arga tidak punya keberanian yang cukup untuk menyatakan cintanya. Padahal sudah tiga tahun ia memendam perasaan sukanya pada Andri, sang ketua kelas.

Tapi... Arga kembali mengingat isi email yang diterimanya tadi malam. Bagaimana The King bisa tahu kalau ia sedang menyimpan perasaan pada seseorang? Dan terlebih lagi... Perintah yang diberikan The King adalah mutlak. Jika dalam waktu 24 jam Arga tidak menyampaikan perasaannya... maka ia akan mendapatkan hukuman. Arga mencoba mengalihkan perasaan tidak enaknya dan mencoba berfikit positive. Mungkin "The King" adalah penopang Arga agar ia bisa menjadi lebih berani untuk mengutarakan perasaannya pada Andri.

Ya, mungkin saja begitu...

Ketika ia melihat Andri yang tengah berdiri, Arga pun ingin segera menyusulnya. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaannya secara sembunyi-sembunyi.

"Ah, maaf... Gue keluar dulu ya sebentar, hehe." Arga segera melepas dirinya dari kerumunan teman-teman sekelasnya, dan langsung menuju pintu kelas. Yang lain menghempaskan nafas mereka karena pada akhirnya Arga tidak mau memberitahu nama orang yang sedang ditaksirnya.

Sedangkan di tempat lain, Arga dan Andri sedang berada di kamar mandi sekolahnya. Hanya berdua.
Arga berdiri tepat di sebelah Andri yang tengah membasuh tangannya di wastafel. Lelaki itu menatap lekat kedua mata Ketua Kelasnya dari kaca. Andri yang kebingungan karena diperhatikan seperti itu, akhirnya ia angkat bicara.

"Ada apa?" tanya Andri. Arga kembali melebarkan matanya, dan menatap kedua bola mata Andri dengas tegas. Arga tampak ragu dengan keputusannya ini, tapi...

"Gue... Gue suka sama lo, 'Ndri!" ucap Arga dengan lantang. Wajahnya yang putih kini berubah menjadi merah padam. Sekaligus berkeringat.

Andri yang mendengar pengakuan dari Arga, sempat tidak bisa berkutik. Ia hanya menatap teman sekelasnya itu dengan tatapan yang aneh.

"Uhm... Aku gak salah denger kan?" tanya Andri. Lelaki yang ada di hadapannya hanya menggelengkan kepalanya, tanda kalau Andri tidak salah mendengar. "Ah... Kalau gitu, aku minta maaf ya..." lanjut Andri.

Untuk sesaat, Arga tersontak kaget mendengar jawaban dari Arga. Tapi akhirnya Arga mengerti. Dari awal dia juga sudah tau kalau jawaban dari Andri pasti seperti ini.

Suasana canggung mereka dipecahkan oleh suara dering Handphone mereka masing-masing. Arga dan Andri segera mengecek pesan yang baru saja masuk.

***♚***

From: The King
Subject: Congratulation!
Message:
Selamat kepada bintang kita hari ini~! Siswa dengan No. Absen 5 yang bernama Arga Mahendra telah menyatakan cinta pada orang yang disukainya~!

Sincerely,
The King

***♚***

Arga dan Andri saling bertatapan ketika mereka selesai membaca email dari The King. "Apa ini perbuatanmu?" tanya Andri.

"K-kenapa gue? Kamu liat sendiri kan tadi? Gue gak pegang HP..." jawab Arga. Lelaki itu segera mengecek seluk beluk kamar mandi untuk mengetahui apakah ada orang atau tidak. Arga sangat yakin kalau hanya ada Andri dan dirinya, tapi kenapa The King bisa tahu kalau Arga sudah menyatakan cintanya?

"Ayo, 'Ga. Kita balik ke kelas aja dulu..." ajak Andri.
***♚***
Selepas istirahat, Terry, Darrel, dan Gilang berdiskusi di kantin mengenai email yang dikirim oleh The King. Mereka mempunyai firasat buruk soal permainan yang dibuat oleh The King ini.

Bahkan ketika Darrel mencoba membalas email dari The King, ia tidak bisa mengirimkan email untuk The King. Disebutkan bahwa email yang tercantum tidak terdaftar.

Ketiga lelaki itu saling bertatapan. Mereka yakin bahwa email ini bukanlah hanya sekedar Spam, ataupun Black Mail. Apalagi The King mampu mengetahui Absen dan alamat email masing-masing murid di kelas XI IPS 1. Tidak jauh, pasti pelakunya berada di kelas yang sama. Mereka bertiga yakin bahwa The King berada di 31 murid kelas XI IPS 1, kelas mereka sendiri.

Disaat Terry, Darrel, dan Gilang sedang sibuk berdiskusi. Mereka sampai tidak sadar, bahwa ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka bertiga. Lelaki itu tersenyum kecil, dan berkata...

"Akhirnya... Sesuatu yang menarik akan di mulai..."

To be continued...

One Day With You


One Day With You
***

“Ini sudah waktunya kamu pergi?” Panggil seorang lelaki berbaju putih itu pada seorang pemuda yang sedari tadi berdiri memandang kearah kasur dengan tatapan kosong. Di kasur itu terbaring remaja tampan,bau rumah sakit dan obat2an sangat terasa kala itu.

Remaja tampan yang terbaring di rumah sakit itu di penuhi dengan alat2 rumah sakit yang menempel di tubuhnya yang membuatnya tetap bertahan hidup.

Entah apa yang ada dipikiran pemuda itu,matanya agak sayu,dia membalikanya badannya dan memandang lelaki yang berbaju putih yang sedang menatapnya tajam. Kemudian dia tersenyum lemah pada lelaki berbaju putih.
“hari ini ya?”
“iya hari ini,kamu sudah siap semuanya?”
“hum….tapi maukah kamu mendengarkan permintaan egoisku kali ini saja?”
“baiklah”
_keesokan harinya_
‘ahhhhh akhirnya sampai juga’pikir seorang pemuda yang membanting tubuhnya kekasurnya yang empuk.
Hum liburan sekolah selama 2 seminggu benar2 menguras tenaganya,bagaimana tidak,selama 2 minggu liburannnya dia habiskan dengan hiking ke gunung rinjani. Pikiran dan tubuhnya benar2 lelah.
Sebenarnya bukan keinginannya untuk mendaki gunung rinjani yang merupakan salah satu gunung tertinggi di Indonesia,ini semua adalah perbuatan ayah dan ibunya yang merupakan seorang pecinta traveling,Yang memaksanya untuk naik ke gunung itu. Padahal dia sudah menjadwal semua kegiatannya selama 2 minggu bersama teman baiknya,tapi rencana itu batal begitu saja ketika kedua orang tuanya menyeretnya untuk ikut mendaki gunung rinjani,sehingga membuat semua rencananya berantakan begitu saja.
Selain pikiran dan tubuhnya yang lelah,hatinya juga merasa lelah. Jujur saja dia kecewa dan marah,sahabat baiknya yang berjanji akan ikut bersama mendaki rinjani membatalkan janjinya karena dia harus menyusul orang tuanya ke bogor dan tidak juga menyusulnya ke rinjani. Dia benar2 marah tapi apa boleh buat dia tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada sahabat baiknya.
‘ck daripada mikirin itu lebih baik aku tidur’ucapnya pelan,dia tak mau memikirkan yang rumit2 untuk saat ini. Seluruh tubuhnya sudah sangat lelah dia ingin tidur untuk mencharger kembali energinya yang hilang. Besok,semester awal sudah dimulai dia tak mau kesiangan hanya kelelahan yang dialaminya.

Namun belum sempat dia memejamkan matanya,tiba2 dia merasa ada tubuhnya menjadi berat dan sulit dibangunkan. Seseorang tengah mendudukinya dan dia tau siapa itu.
“please van gw cape gw mau tidur”ucapnya pelan
“lo masih marah ama gw ka?”
“tau akh”
“sori deh,gw bener2 minta maaf ama lo. Gw gak bisa nyusul lo ke rinjani soalnya nyokap ama bokap gw minta gw jemput mereka di bogor”
“brisik lo gw mau tidur”
“please maafin gw ka”
“hum”
“gini deh,sebagai permintaan maaf gw ama lo kita kencan hari ini seharian gw yang bayar”
“ikh kencan ama lo???? Gak ada asik2nya tau kencan ama lo”
“ayolah kafka,masa lo gak mau sih nemenin gw seharian ini…gw janji deh gakkan maksa lo setelah ini please…”
“hum”
“ka”
“……”
“kafka”
“……”
“WOI KAFKA”
“iya2 berisik amat sih lo,udah lo tunggu dibawah gw mau ganti baju”
“gw tunggu di bawah ya darling sayang”ucap revan sahabatnya itu sambil mengecup pipi kafka
“REVAN SARAP LO”
Revan langsung berlari setelah mencium pipi kafka,ketika revan sudah keluar dari kamar kafka,pipi kafka langsung memerah,jujur saja kafka memiliki perasaan yang seharusnya tak dimiliki oleh pria seperti dirinya. Dia mencintai sahabatnya sendiri, tentu saja dia tahu kalau dia tidak boleh memendam perasaan seperti ini apalagi pada sahabatnya sendiri. Tapi apa daya perasaannya pada sahabatnya itu sudah terlanjur tumbuh dan berkembang menjadi perasaan yang lebih dari sekedar sayang pada sahabat.

REVAN KHARISMA adalah lelaki yang selama ini selalu mengganggu pikirannya pikiran seorang kafka.
Hum klo dilihat revan memang anak yang cukup mencolok,dia adalah ketua osis,dia juga memiliki paras tampan dan tubuh yang atletis. Dengan tinggi 180 cm dan berat badan 71 kg,kulit coklat sawo matang, dengan rambut pendek dan tipis membuatnya jadi incaran para wanita. Selain badannya yang ideal revan juga memiliki otak yang cemerlang. Baru2 ini saja dia mengikuti olimpiade fisika sebagai perwakilan di sekolahnya belum lagi kemampuan olahraga dia yang tak usah diragukan lagi. Revan juga memiliki attitude yang baik sehingga dia di sukai oleh siapa saja baik lelaki maupun perempuan yang salah satunya adalah kafka.
Kafka hanyalah anak lelaki biasa yang memiliki tinggi 172 cm dan berat badan 63 kg,dia tidak memiliki kemampuan sehebat revan. Sebenarnya paras kafka cukup menawan,dia memiliki paras sebagai seorang androgini,adakalanya dia menjadi remaja lelaki yang tampan namun tak jarang juga kafka menunjukan sisi cantik dia. Paras kafka memang dapat menembus batasan antara laki2 dan wanita. Hal ini sedikit membuat kafka repot,pasalnya dia jadi sering mendapat pengakuan cinta bukan hanya dari kaum hawa tetapi juga dari kaum adam. Karena ini juga lah kepribadian kafka agak kasar dan terkesan cuek pada semua orang.
Revan tau benar sifat kafka yang satu ini,mereka sudah kenal sejak smp. Tidak mudah memang untuk revan mendekati kafka yang dingin dan kasar itu. Butuh waktu 1 tahun agar kafka mau menjadikannya sahabat baik. Kadang orang2 sekeliling mereka merasa agak aneh dengan persabatan mereka,dimana ada kafka disana ada revan begitu juga sebaliknya. Hanya revan saja yang masih bertahan dengan sikap kasar kafka. Kafka sebenarnya bukan orang yang jahat dia hanya lelah dengan pendapat orang tentang wajah androgini nya itu,jadi dia memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan orang lain kalau tidak perlu.
Karena kegigihan revan itu pula yang menyebabkan kafka menjadi jatuh cinta pada sahabatnya itu,tidak mudah bagi kafka untuk menahan perasaannya pada revan,dia tak mau persahabatnya dengan revan hancur begitu saja hanya karena dia menyatakan perasaannya pada dia,meski dia tau konsekunsi yang harus dia dia dapat adalah melihat revan pacaran dengan wanita. Kafka sudah biasa melihat temannya itu mengenalkan pacar barunya padanya,meski biasa bukan berarti dia tak sakit melihatnya.
Dengan t-shirt hitam,jaket dan celana jeans yang dikenakan,kafka segera turun kebawah menemui sahabatnya itu.
“lo tuh yak lo dandan lama banget kayak cewe”sewot revan padanya yang sudah menunggu lama,maklum saja kafka memang meiliki kebiasaan dandan yang cukup lama,kafka hanya tersenyum melihat revan. Dia tak mau bertengkar dengan revan hari ini,entahlah apa yang membuat dia berpikiran seperti itu atau mungkin karena dia sudah lelah dengan perjalanan dia hiking ke gunung rinjani dia tak tau.
“gw males berdebat ama lo van,gw lagi cape banget”
“ya udah ayo berangkat”
Revan dan kafka berjalan menuju mobil revan,kafka memasang seatbeltnya. Dan akhirnya mobil itu jalan. Selama perjalanan revan lebih banyak bicara tentang liburannya bersama orang tuanya sementara kafka lebih banyak diam. Keadaan ini memang agak kurang biasa karena biasanya kafka lah yang banyak bercerita sementara revan yang banyak diam. Mata kafka sudah tak sanggup lagi menahan kantuk,sehingga akhirnya dia tertidur.
“ka,ngomong dong masa gw sendiri yang ngoceh sendiri kayak orang gila”tanya revan,namun tak ada balasan dari kafka membuat revan melirikan matanya kea rah kafka.
Revan hanya tersenyum melihat sahabatnya itu terlelap dengan nyeyaknya
“ I know you are tired but just for this day,just one day I wanna have u”ucap revan pelan sambil menyibakan rambut kafka yang menutupi kelopak matanya.
_1 hours later_
Kafka membelalakan matanya,dia mengucek kedua matanya namun yang ada di hadapanya bukanlah ilusi semata. Sungguh dia tak menyangka kalau sahabat baiknya itu akan membawanya ke tempat ini,bagaimana kau tidak kaget ketika kamu dibangunkan dan ketika kamu membuka mata kamu sudah ada di theme park alias taman bermain dufan alias dunia fantasi.
“van….lo gak lagi mempermainkan gw kan”
“gak kok kenapa yang?”
“van otak lo gak lagi error kan”
“emang kenapa sih ,kok kayaknya lo speechless banget…ah atau jangan2 lo tersepona yang kamu terharu aku membawa ketempat gini ya yang? ”
“tersepona otakmu peyang,ngapain sih van lo ngajak gw kesini”
“kan gw udah bilang gw mau kencan ama lo”
“emang gak bisa kita jalan ke tempat lain selain dufan”
“akh lo mah kebanyakan ngomong,udah masuk aja”
Revan menarik lembut tangan kafka,tentu saja hal ini membuat kafka berdebar debar,tapi ketika pandangan orang2 yang aneh pada mereka ,kafka berhenti
“kenapa??”
“gak usah pegang tangan”
“lo kenapa??”
“orang2 mandang kita aneh van,jadi lepasin tangan gw”
Bukannya melepaskan revan malah makin mencengkram erat tangan kafka.
“gak usah peduliin pandangan orang2,emangnya mereka siapa?”
“tapi kan ntar kita disangka pasangan gay?”
“sejak kapan kamu peduli dengan pendapat orang,udah deh yuk masuk”
Ini adalah salah satu hal yang membuat kafka makin jatuh cinta pada revan,sudah banyak orang yang menyangka mereka pasangan gay,tapi revan sama sekali tak ambil peduli malah sering kali revan malah menambah parah gosip2 yang sudah berseliweran. Dengan sengaja revan mencium pipi kafka,kadang2 juga memegang lembut tangan kafka,bahkan tak jarang kafka sering di sexual harrasement oleh revan yang tentu saja membuat kafka marah besar dengan kejailan revan.
Semua permainan wahana di dufan mereka naiki dari yang soft seperti bianglala sampai yang hard seperti tornado atau halilintar.
Sudah 3 jam mereka ada disana,tertawa,tersenyum dan menghabiskan waktu bersama sungguh hari yang menyenangkan. Mereka bermain sampai kelelahan sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang.
Memang waktu sudah menunjukan pukul 2 siang,mereka memutuskan untuk makan siang di salah satu kafe di Jakarta sebelum melanjutkan ‘kencan’ mereka.
Tujuan kedua mereka adalah kebun binatang ragunan.
“van kenapa sih kita jalan2 kesini??mau jenguk saudara lo? ”
“sialan lo ka, ya gak lah kan jarang2 kita main kesini ka”
“iya sih tapi kenapa mesti keragunan?”
“kamu maunya kemana yang,outbond??”
“yang yang kepala kamu peyang ????lo kenapa sih van?? Dari tadi sikap lo tuh aneh banget”
“aneh gimana sih yang perasaan aku biasa aja deh”
“nah ntu pake bahasa aku-kamu bukan gw- lo belum lagi yang yang yang kenapa sih lo van??? Ada baut yang lepas di otakmu ya”
“ka,Cuma untuk hari,hari ini aja aku mau kamu dan aku kencan sebagai pasangan”
“hah???otak lo memang udah error dah van udah yuk pulang dulu kerumah kayaknya lo kurang istirahat sampai lo ngelantur kayak gitu”
“ka please,aku gak cape kok,Cuma hari ini saja aku ingin kamu jadi pacar aku….aku pingin kita jalan2 dan bersenang2…”
“kamu mau kita jadi pasangan gay beneran??”
“please ka Cuma hari ini aja”
“ya udah klo itu mau lo,gw gak tau apa yang ngebuat hari ini lo aneh banget gw bakal nurutin semua kemauan lo deh”
“klo gitu jangan panggil lo – gw lagi dung ”
“iya2 van”
“pokoknya hari ini harus jadi kenangan yang gak terlupakan buat aku dan kamu ok yang”
Kafka hanya tersenyum lembut pada sahabatnya itu,meski dia tak mengerti apa yang telah terjadi pada revan,tapi dia sunggguh senang dengan kata2 revan yang bilang klo hari ini adalah hari kencan mereka,sungguh dia bahagia meski status dia sebagai kekasih revan hanya 1 hari tapi dia ingin hari ini menjadi kenangan tak terlupakannya seumur hidupnya.
Setelah 2 jam puas ,mereka melihat2 di kebun binatang ragunan,mereka kemudian pergi lagi.
Mereka pergi nonton,main di game center,belanja,foto di fotobox sampai keliling Jakarta. Mereka habiskan waktu ini dengan bersama selayaknya pasangan yang sedang kasmaran. Kafka dan revan sudah tak peduli lagi dengan padangan aneh orang2 yang menatap mereka. Mereka ingin hari ini menjadi hari yang bahagia untuk mereka.
Tempat terakhir yang mereka kunjungi adalah puncak,disana revan ingin menunjukan bukit dimana dia dan kafka melihat banyak bintang. Diatas bukit itu mereka duduk berdua,kafka meyenderkan kepalanya di bahu revan sementara revan mengelus – elus kepala kafka dengan lembut
“yang kamu tau hari ini adalah hari yang bahagia buat aku”
“hum”
“makasih ya yang kamu udah mau nurutin kemauan egois aku yang kayak gini,aku tau kamu capek habis hiking dari gunung rinjani tapi kamu tetep mau nemenin dan ngikutin kemauan egois aku”
“iya sama2 van,hari ini aku juga seneng banget bisa bareng kamu”
“yang,kamu tau kalau aku gak ada kamu jangan sedih ya,kamu boleh nangis tapi jangan terus2an nanti aku juga ikut sedih”
“kamu ini ngomong apa sih van,ya aku sedih lah klo kamu gak ada”
“yang,kamu tau aku tuh sayang banget sama kamu…aku ingin kamu hidup bahagia aku ingin kamu terus maju kedepan apapun yang terjadi,aku akan selalu jagain kamu karena itu kamu gak usah takut sendirian yang”
“van kenapa kamu ngomong seolah-olah kamu akan pergi ninggalin aku”tanya kafka penasaran,sejak tadi perkataan revan terlalu memutar-mutar,kata2 revan seolah2 revan akan pergi dari sisinya,kafka tidak mau itu terjadi meski revan hanya menganggapnya hanya sebagi seorang sahabat dia tak mau klo sampai harus kehilangan revan.
Kafka membalikan tubuhnya dan menatap revan dengan penuh tanda tanya,revan hanya tersenyum mendengar pernyataan kekasihnya itu. Dia mengambil sesuatu dari saku celananya dan memasang kalung dengan sepasang cincin sebagai liontinnya
“ini apa van??”
“kalung ini menandakan bahwa aku pernah hadir dalam hidup kamu,bahwa aku pernah menjadi bagian dari hidup kamu,kalung ini akan selalu menjadi pengingat kamu,yang ”
“my heart is always yours,my soul will always protect u R&K”ucap kafka pelan ketika dia membaca tulisan yang ada di cincin yang di jadikan liontin itu
“cincin ini membuktikan kesetiaan cinta aku sama kamu,siapapun orang yang pernah singgah dalam hidup aku, hati aku Cuma punya kamu….dan aku akan selalu jagain kamu yang”revan menjeleskan pelan sambil menempelkan keningnya di kening kafka
“inget ya yang,kamu harus janji sama aku,kamu harus jadi orang yang bahagia,kamu harus terus melangkah kedepan jangan berhenti hanya karena aku gak ada….jangan pedulikan kata2 orang lain,kamu harus buktiin sama aku kalau kamu mampu menjadi orang yang bahagia tanpa aku…aku akan selalu jagain kamu,aku akan selalu liat kamu yang”
“van,kamu mau pergi ninggalin aku???kenapa kamu ngomong kayak gitu”
Revan hanya tersenyum dan memberikan kelingkingnya
“janji ya yang kamu harus bisa bahagia tanpa aku”
“kenapa??”
“kamu harus janji dulu”
“iya aku janji,aku akan bahagia meski tanpa kamu”balas kafka pelan lalu dia menautkan kelingkingnya di kelingking revan
“good boy….you are always be my special person and my beautiful baby for me that’s why I want u to be happiness although without me”ucap revan sambil mendekatkan wajahnya pada kafka.
Bibir mereka saling berpaut,bukan ciuman yang agresif namun ciuman lembut dimana perasaan cinta ada disana. Revan memperdalam ciumannya pada kafka masih dalam ciuman lembut,kemudian revan menyudahi ciuman itu.
“pulang yuk udah malam”
Sekitar pukul 11.30 mereka sampai dirumah kafka,revan mengantar kafka sampai depan pagar,sebelum kafka masuk rumah,revan mencium lembut kening kafka dan mengucapkan selamat tinggal pada kafka.
Malam itu adalah malam yang indah bagi revan maupun kafka,kafka begitu bahagia meski dengan perkataan revan yang aneh tapi dia bahagia. Dia bahagia karena hati revan hanya untuknya. Dan diapun terlelap dengan mimpi indahnya.
Sementara itu…..
“sudah puas”ucap tiba2 lelaki yang tiba2 muncul dihadapan revan
“iya thanks ya”
“kamu gak bilang padanya?”
“nanti dia juga akan tau”senyum revan
“kamu bahagia dengan kayak gini”
“iya aku sangat bahagia,sekali lagi makasih ya……aku gak sangka ternyata dewa kematian mau mendengarkan keegoisanku”
“aku gak mau membawamu yang penuh penyesalan,Cuma merepotkan aku nantinya….”
“bye-bye my love”
Kemudian keduanya menghilang…..
Keesokan harinya kafka bangun dengan penuh semangat menyambut hari baru di sekolahnya,dia tak sabar untuk bertemu dengan revan lagi,satu hari kemarin sungguh menyenangkan..
Sesampainya disekolah dia tidak melihat revan
‘aneh biasanya dia datang paling pagi,dia kan ketua osis harusnya dia sibukan di awal sekolah kayak gini….apa mungkin dia kesiangan’pikir kafka
Belum selesai pikiran kafka tiba2 teman2 kafka yang melihat kafka,langsung berlari dan memeluk kafka dengan erat dia tak tahu apa yang terjadi.
“ka….ini emang berat banget buat lo,tapi lo harus sabar ya ka…kita2 disini ada buat lo ka”
“kalian kenapa sih??”
“ka…..revan meninggal tadi malem”
Bagai petir di siang bolong hati kafka hancur mendengar perkataan salah satu temannya.
“jangan bercanda deh kalian”
“kita gak bercanda ka,revan meninggal tadi malem”
“ke…..kenapa…..tadi malem dia masih sama gw,kemarin bahkan kita habis main bareng”
Semua menatap kafka dengan wajah heran…
“ka…kita tau kamu pasti terpukul banget karena kematian revan tapi kamu gak boleh kayak gini”
“maksud lo apa????”
“ka,revan gak mungkin main sama lo kemarin”
“gak gw kemarin main ama dia kok”
“itu gak mungkin ka….”
“kenapa gak mungkin?”
“ka…seminggu yang lalu revan kecelakaan motor waktu dia pulang dari bogor,dan selama seminggu itu dia koma ka jadi gak mungkin kemarin dia main sama lo sementara dia aja lagi koma di rumah sakit”
Mata kafka panas airmata tak tertahankan lagi keluar dari matanya….
‘jadi ini maksud perkataan revan kemarin……’
Kafka segera berlari kerumah sakit tempat revan meninggal,tubuhnya langsung lemas ketika melihat revan telah tertutupi kain putih,dia menangis sekencang-kencangnya,perasaannya hancur melihat yang di kasihinya sudah tidak ada.
Kafka masih berdiri di pusara revan,dia masih ingin berada di dekat kekasihnya,entah ilusi atau bukan kafka melihat revan tersenyum padanya.
“keep your promise baby”bisik revan pelan sambil mencium bibir kafka kemudian bayangan revanpun menghilang,kafka tak mampu lagi membendung air matanya…
‘Kali ini saja….kali ini saja biarkan aku menangis dan bersedih van…..lalu aku akan kembali tersenyum padamu……’


Sebuah tangan besar melingkar di leher kafka,ketika dia sedang memandang foto dirinya dan revan sambil menangis….
Hembusan nafas di tengkuk kafka,dan ciuman manis di lehernya membuat dia tersadar dari lamunannya
“hari ini ultah revan ya yang??”
“iya rion,hari ini ultah revan”
“hari ini kamu mau aku temenin atau kamu sendirian ke tempat revan yang??”
“temenin aku ya yang”
“ok,tapi aku tunggu di tempat biasa ya yang,aku gak mau ganggu acara kencan kamu ama revan,nanti kalau udah selesai telepon aku aja”
“iya yang”
“kamu harus dandan yang caem yang,kan kamu mau ketemu ayang revan”
“hum”
“ok deh yang aku siapin mobil dulu ya”ucap rion sambil sekilas mencium bibir kafka.
Rion dan kafka adalah sepasang kekasih yang saling melengkapi,keduanya sama2 pernah kehilangan orang yang dicintainya sehingga keduanya saling mengisi satu sama lain.
Keduanya sepakat meski mereka saling mencintai satu sama lain tapi hati mereka tidak bisa sepenuhnya milik mereka,setengah hati mereka telah terisi dan terbawa oleh orang yang mereka cintai.
Rion oleh dafa dan kafka oleh revan.
Hanya revan yang boleh mengisi setengah hati kafka dan hanya dafa yang boleh mengisi setengah hati rion.
Rion akan membiarkan kafka melepaskan kasih sayangnya pada revan baik ketika ulang tahun revan ataupun peringatan kematian revan karena di hari itu,kafka sepenuhnya milik revan,begitu juga sebaliknya kafka akan membiarkan rion untuk melepaskan sayangnya pada dafa di hari ulang tahun dafa ataupun hari kematiannya.
Hanya kepada revanlah rion akan meperbolehkan kekasihnya itu berbagi cinta,dan hanya kepada dafalah kafka mau diduakan oleh kekasihnya.
Mereka sama2 pernah merasakan kehilangan atas orang yang dincintainya,sehingga tak ada rasa iri yang terbesit di hati mereka ketika salah satu diantara mereka tengah tenggelam dalam kisah masa lalunya atau memikirkan pasangannya di masa lalu.
Mereka saling mengerti satu sama lain,karena revan dan dafa adalah bagian dari mereka yang takkan bisa lepas dari ingatan mereka…..
‘kamu tau van,satu hari bersamamu waktu itu sungguh sangat meyenangkan untukku,dan aku sudah memenuhi janjiku untuk bahagia tanpa kamu dan terus maju kedepan…thanks van atas semua yang kamu kasih sama aku aku bahagia….i love u my other half’
“Ini sudah waktunya kamu pergi?” Panggil seorang lelaki berbaju putih itu pada seorang pemuda yang sedari tadi berdiri memandang kearah kasur dengan tatapan kosong. Di kasur itu terbaring remaja tampan,bau rumah sakit dan obat2an sangat terasa kala itu.
Remaja tampan yang terbaring di rumah sakit itu di penuhi dengan alat2 rumah sakit yang menempel di tubuhnya yang membuatnya tetap bertahan hidup.
Entah apa yang ada dipikiran pemuda itu,matanya agak sayu,dia membalikanya badannya dan memandang lelaki yang berbaju putih yang sedang menatapnya tajam. Kemudian dia tersenyum lemah pada lelaki berbaju putih.
“hari ini ya?”
“iya hari ini,kamu sudah siap semuanya?”
“hum….tapi maukah kamu mendengarkan permintaan egoisku kali ini saja?”
“baiklah”
_keesokan harinya_
‘ahhhhh akhirnya sampai juga’pikir seorang pemuda yang membanting tubuhnya kekasurnya yang empuk.
Hum liburan sekolah selama 2 seminggu benar2 menguras tenaganya,bagaimana tidak,selama 2 minggu liburannnya dia habiskan dengan hiking ke gunung rinjani. Pikiran dan tubuhnya benar2 lelah.
Sebenarnya bukan keinginannya untuk mendaki gunung rinjani yang merupakan salah satu gunung tertinggi di Indonesia,ini semua adalah perbuatan ayah dan ibunya yang merupakan seorang pecinta traveling,Yang memaksanya untuk naik ke gunung itu. Padahal dia sudah menjadwal semua kegiatannya selama 2 minggu bersama teman baiknya,tapi rencana itu batal begitu saja ketika kedua orang tuanya menyeretnya untuk ikut mendaki gunung rinjani,sehingga membuat semua rencananya berantakan begitu saja.

Selain pikiran dan tubuhnya yang lelah,hatinya juga merasa lelah. Jujur saja dia kecewa dan marah,sahabat baiknya yang berjanji akan ikut bersama mendaki rinjani membatalkan janjinya karena dia harus menyusul orang tuanya ke bogor dan tidak juga menyusulnya ke rinjani. Dia benar2 marah tapi apa boleh buat dia tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada sahabat baiknya.
‘ck daripada mikirin itu lebih baik aku tidur’ucapnya pelan,dia tak mau memikirkan yang rumit2 untuk saat ini. Seluruh tubuhnya sudah sangat lelah dia ingin tidur untuk mencharger kembali energinya yang hilang. Besok,semester awal sudah dimulai dia tak mau kesiangan hanya kelelahan yang dialaminya.
Namun belum sempat dia memejamkan matanya,tiba2 dia merasa ada tubuhnya menjadi berat dan sulit dibangunkan. Seseorang tengah mendudukinya dan dia tau siapa itu.
“please van gw cape gw mau tidur”ucapnya pelan
“lo masih marah ama gw ka?”
“tau akh”
“sori deh,gw bener2 minta maaf ama lo. Gw gak bisa nyusul lo ke rinjani soalnya nyokap ama bokap gw minta gw jemput mereka di bogor”
“brisik lo gw mau tidur”
“please maafin gw ka”
“hum”
“gini deh,sebagai permintaan maaf gw ama lo kita kencan hari ini seharian gw yang bayar”
“ikh kencan ama lo???? Gak ada asik2nya tau kencan ama lo”
“ayolah kafka,masa lo gak mau sih nemenin gw seharian ini…gw janji deh gakkan maksa lo setelah ini please…”
“hum”
“ka”
“……”
“kafka”
“……”
“WOI KAFKA”
“iya2 berisik amat sih lo,udah lo tunggu dibawah gw mau ganti baju”
“gw tunggu di bawah ya darling sayang”ucap revan sahabatnya itu sambil mengecup pipi kafka
“REVAN SARAP LO”
Revan langsung berlari setelah mencium pipi kafka,ketika revan sudah keluar dari kamar kafka,pipi kafka langsung memerah,jujur saja kafka memiliki perasaan yang seharusnya tak dimiliki oleh pria seperti dirinya. Dia mencintai sahabatnya sendiri, tentu saja dia tahu kalau dia tidak boleh memendam perasaan seperti ini apalagi pada sahabatnya sendiri. Tapi apa daya perasaannya pada sahabatnya itu sudah terlanjur tumbuh dan berkembang menjadi perasaan yang lebih dari sekedar sayang pada sahabat.

REVAN KHARISMA adalah lelaki yang selama ini selalu mengganggu pikirannya pikiran seorang kafka.
Hum klo dilihat revan memang anak yang cukup mencolok,dia adalah ketua osis,dia juga memiliki paras tampan dan tubuh yang atletis. Dengan tinggi 180 cm dan berat badan 71 kg,kulit coklat sawo matang, dengan rambut pendek dan tipis membuatnya jadi incaran para wanita. Selain badannya yang ideal revan juga memiliki otak yang cemerlang. Baru2 ini saja dia mengikuti olimpiade fisika sebagai perwakilan di sekolahnya belum lagi kemampuan olahraga dia yang tak usah diragukan lagi. Revan juga memiliki attitude yang baik sehingga dia di sukai oleh siapa saja baik lelaki maupun perempuan yang salah satunya adalah kafka.
Kafka hanyalah anak lelaki biasa yang memiliki tinggi 172 cm dan berat badan 63 kg,dia tidak memiliki kemampuan sehebat revan. Sebenarnya paras kafka cukup menawan,dia memiliki paras sebagai seorang androgini,adakalanya dia menjadi remaja lelaki yang tampan namun tak jarang juga kafka menunjukan sisi cantik dia. Paras kafka memang dapat menembus batasan antara laki2 dan wanita. Hal ini sedikit membuat kafka repot,pasalnya dia jadi sering mendapat pengakuan cinta bukan hanya dari kaum hawa tetapi juga dari kaum adam. Karena ini juga lah kepribadian kafka agak kasar dan terkesan cuek pada semua orang.

Revan tau benar sifat kafka yang satu ini,mereka sudah kenal sejak smp. Tidak mudah memang untuk revan mendekati kafka yang dingin dan kasar itu. Butuh waktu 1 tahun agar kafka mau menjadikannya sahabat baik. Kadang orang2 sekeliling mereka merasa agak aneh dengan persabatan mereka,dimana ada kafka disana ada revan begitu juga sebaliknya. Hanya revan saja yang masih bertahan dengan sikap kasar kafka. Kafka sebenarnya bukan orang yang jahat dia hanya lelah dengan pendapat orang tentang wajah androgini nya itu,jadi dia memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan orang lain kalau tidak perlu.

Karena kegigihan revan itu pula yang menyebabkan kafka menjadi jatuh cinta pada sahabatnya itu,tidak mudah bagi kafka untuk menahan perasaannya pada revan,dia tak mau persahabatnya dengan revan hancur begitu saja hanya karena dia menyatakan perasaannya pada dia,meski dia tau konsekunsi yang harus dia dia dapat adalah melihat revan pacaran dengan wanita. Kafka sudah biasa melihat temannya itu mengenalkan pacar barunya padanya,meski biasa bukan berarti dia tak sakit melihatnya.
Dengan t-shirt hitam,jaket dan celana jeans yang dikenakan,kafka segera turun kebawah menemui sahabatnya itu.
“lo tuh yak lo dandan lama banget kayak cewe”sewot revan padanya yang sudah menunggu lama,maklum saja kafka memang meiliki kebiasaan dandan yang cukup lama,kafka hanya tersenyum melihat revan. Dia tak mau bertengkar dengan revan hari ini,entahlah apa yang membuat dia berpikiran seperti itu atau mungkin karena dia sudah lelah dengan perjalanan dia hiking ke gunung rinjani dia tak tau.
“gw males berdebat ama lo van,gw lagi cape banget”
“ya udah ayo berangkat”
Revan dan kafka berjalan menuju mobil revan,kafka memasang seatbeltnya. Dan akhirnya mobil itu jalan. Selama perjalanan revan lebih banyak bicara tentang liburannya bersama orang tuanya sementara kafka lebih banyak diam. Keadaan ini memang agak kurang biasa karena biasanya kafka lah yang banyak bercerita sementara revan yang banyak diam. Mata kafka sudah tak sanggup lagi menahan kantuk,sehingga akhirnya dia tertidur.
“ka,ngomong dong masa gw sendiri yang ngoceh sendiri kayak orang gila”tanya revan,namun tak ada balasan dari kafka membuat revan melirikan matanya kea rah kafka.
Revan hanya tersenyum melihat sahabatnya itu terlelap dengan nyeyaknya
“ I know you are tired but just for this day,just one day I wanna have u”ucap revan pelan sambil menyibakan rambut kafka yang menutupi kelopak matanya.
_1 hours later_
Kafka membelalakan matanya,dia mengucek kedua matanya namun yang ada di hadapanya bukanlah ilusi semata. Sungguh dia tak menyangka kalau sahabat baiknya itu akan membawanya ke tempat ini,bagaimana kau tidak kaget ketika kamu dibangunkan dan ketika kamu membuka mata kamu sudah ada di theme park alias taman bermain dufan alias dunia fantasi.
“van….lo gak lagi mempermainkan gw kan”
“gak kok kenapa yang?”
“van otak lo gak lagi error kan”
“emang kenapa sih ,kok kayaknya lo speechless banget…ah atau jangan2 lo tersepona yang kamu terharu aku membawa ketempat gini ya yang? ”
“tersepona otakmu peyang,ngapain sih van lo ngajak gw kesini”
“kan gw udah bilang gw mau kencan ama lo”
“emang gak bisa kita jalan ke tempat lain selain dufan”
“akh lo mah kebanyakan ngomong,udah masuk aja”
Revan menarik lembut tangan kafka,tentu saja hal ini membuat kafka berdebar debar,tapi ketika pandangan orang2 yang aneh pada mereka ,kafka berhenti
“kenapa??”
“gak usah pegang tangan”
“lo kenapa??”
“orang2 mandang kita aneh van,jadi lepasin tangan gw”
Bukannya melepaskan revan malah makin mencengkram erat tangan kafka.
“gak usah peduliin pandangan orang2,emangnya mereka siapa?”
“tapi kan ntar kita disangka pasangan gay?”
“sejak kapan kamu peduli dengan pendapat orang,udah deh yuk masuk”
Ini adalah salah satu hal yang membuat kafka makin jatuh cinta pada revan,sudah banyak orang yang menyangka mereka pasangan gay,tapi revan sama sekali tak ambil peduli malah sering kali revan malah menambah parah gosip2 yang sudah berseliweran. Dengan sengaja revan mencium pipi kafka,kadang2 juga memegang lembut tangan kafka,bahkan tak jarang kafka sering di sexual harrasement oleh revan yang tentu saja membuat kafka marah besar dengan kejailan revan.
Semua permainan wahana di dufan mereka naiki dari yang soft seperti bianglala sampai yang hard seperti tornado atau halilintar.
Sudah 3 jam mereka ada disana,tertawa,tersenyum dan menghabiskan waktu bersama sungguh hari yang menyenangkan. Mereka bermain sampai kelelahan sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang.
Memang waktu sudah menunjukan pukul 2 siang,mereka memutuskan untuk makan siang di salah satu kafe di Jakarta sebelum melanjutkan ‘kencan’ mereka.
Tujuan kedua mereka adalah kebun binatang ragunan.
“van kenapa sih kita jalan2 kesini??mau jenguk saudara lo? ”
“sialan lo ka, ya gak lah kan jarang2 kita main kesini ka”
“iya sih tapi kenapa mesti keragunan?”
“kamu maunya kemana yang,outbond??”
“yang yang kepala kamu peyang ????lo kenapa sih van?? Dari tadi sikap lo tuh aneh banget”
“aneh gimana sih yang perasaan aku biasa aja deh”
“nah ntu pake bahasa aku-kamu bukan gw- lo belum lagi yang yang yang kenapa sih lo van??? Ada baut yang lepas di otakmu ya”
“ka,Cuma untuk hari,hari ini aja aku mau kamu dan aku kencan sebagai pasangan”
“hah???otak lo memang udah error dah van udah yuk pulang dulu kerumah kayaknya lo kurang istirahat sampai lo ngelantur kayak gitu”
“ka please,aku gak cape kok,Cuma hari ini saja aku ingin kamu jadi pacar aku….aku pingin kita jalan2 dan bersenang2…”
“kamu mau kita jadi pasangan gay beneran??”
“please ka Cuma hari ini aja”
“ya udah klo itu mau lo,gw gak tau apa yang ngebuat hari ini lo aneh banget gw bakal nurutin semua kemauan lo deh”
“klo gitu jangan panggil lo – gw lagi dung ”
“iya2 van”
“pokoknya hari ini harus jadi kenangan yang gak terlupakan buat aku dan kamu ok yang”
Kafka hanya tersenyum lembut pada sahabatnya itu,meski dia tak mengerti apa yang telah terjadi pada revan,tapi dia sunggguh senang dengan kata2 revan yang bilang klo hari ini adalah hari kencan mereka,sungguh dia bahagia meski status dia sebagai kekasih revan hanya 1 hari tapi dia ingin hari ini menjadi kenangan tak terlupakannya seumur hidupnya.
Setelah 2 jam puas ,mereka melihat2 di kebun binatang ragunan,mereka kemudian pergi lagi.
Mereka pergi nonton,main di game center,belanja,foto di fotobox sampai keliling Jakarta. Mereka habiskan waktu ini dengan bersama selayaknya pasangan yang sedang kasmaran. Kafka dan revan sudah tak peduli lagi dengan padangan aneh orang2 yang menatap mereka. Mereka ingin hari ini menjadi hari yang bahagia untuk mereka.
Tempat terakhir yang mereka kunjungi adalah puncak,disana revan ingin menunjukan bukit dimana dia dan kafka melihat banyak bintang. Diatas bukit itu mereka duduk berdua,kafka meyenderkan kepalanya di bahu revan sementara revan mengelus – elus kepala kafka dengan lembut
“yang kamu tau hari ini adalah hari yang bahagia buat aku”
“hum”
“makasih ya yang kamu udah mau nurutin kemauan egois aku yang kayak gini,aku tau kamu capek habis hiking dari gunung rinjani tapi kamu tetep mau nemenin dan ngikutin kemauan egois aku”
“iya sama2 van,hari ini aku juga seneng banget bisa bareng kamu”
“yang,kamu tau kalau aku gak ada kamu jangan sedih ya,kamu boleh nangis tapi jangan terus2an nanti aku juga ikut sedih”
“kamu ini ngomong apa sih van,ya aku sedih lah klo kamu gak ada”
“yang,kamu tau aku tuh sayang banget sama kamu…aku ingin kamu hidup bahagia aku ingin kamu terus maju kedepan apapun yang terjadi,aku akan selalu jagain kamu karena itu kamu gak usah takut sendirian yang”
“van kenapa kamu ngomong seolah-olah kamu akan pergi ninggalin aku”tanya kafka penasaran,sejak tadi perkataan revan terlalu memutar-mutar,kata2 revan seolah2 revan akan pergi dari sisinya,kafka tidak mau itu terjadi meski revan hanya menganggapnya hanya sebagi seorang sahabat dia tak mau klo sampai harus kehilangan revan.
Kafka membalikan tubuhnya dan menatap revan dengan penuh tanda tanya,revan hanya tersenyum mendengar pernyataan kekasihnya itu. Dia mengambil sesuatu dari saku celananya dan memasang kalung dengan sepasang cincin sebagai liontinnya
“ini apa van??”
“kalung ini menandakan bahwa aku pernah hadir dalam hidup kamu,bahwa aku pernah menjadi bagian dari hidup kamu,kalung ini akan selalu menjadi pengingat kamu,yang ”
“my heart is always yours,my soul will always protect u R&K”ucap kafka pelan ketika dia membaca tulisan yang ada di cincin yang di jadikan liontin itu
“cincin ini membuktikan kesetiaan cinta aku sama kamu,siapapun orang yang pernah singgah dalam hidup aku, hati aku Cuma punya kamu….dan aku akan selalu jagain kamu yang”revan menjeleskan pelan sambil menempelkan keningnya di kening kafka
“inget ya yang,kamu harus janji sama aku,kamu harus jadi orang yang bahagia,kamu harus terus melangkah kedepan jangan berhenti hanya karena aku gak ada….jangan pedulikan kata2 orang lain,kamu harus buktiin sama aku kalau kamu mampu menjadi orang yang bahagia tanpa aku…aku akan selalu jagain kamu,aku akan selalu liat kamu yang”
“van,kamu mau pergi ninggalin aku???kenapa kamu ngomong kayak gitu”
Revan hanya tersenyum dan memberikan kelingkingnya
“janji ya yang kamu harus bisa bahagia tanpa aku”
“kenapa??”
“kamu harus janji dulu”
“iya aku janji,aku akan bahagia meski tanpa kamu”balas kafka pelan lalu dia menautkan kelingkingnya di kelingking revan
“good boy….you are always be my special person and my beautiful baby for me that’s why I want u to be happiness although without me”ucap revan sambil mendekatkan wajahnya pada kafka.
Bibir mereka saling berpaut,bukan ciuman yang agresif namun ciuman lembut dimana perasaan cinta ada disana. Revan memperdalam ciumannya pada kafka masih dalam ciuman lembut,kemudian revan menyudahi ciuman itu.
“pulang yuk udah malam”
Sekitar pukul 11.30 mereka sampai dirumah kafka,revan mengantar kafka sampai depan pagar,sebelum kafka masuk rumah,revan mencium lembut kening kafka dan mengucapkan selamat tinggal pada kafka.
Malam itu adalah malam yang indah bagi revan maupun kafka,kafka begitu bahagia meski dengan perkataan revan yang aneh tapi dia bahagia. Dia bahagia karena hati revan hanya untuknya. Dan diapun terlelap dengan mimpi indahnya.
Sementara itu…..
“sudah puas”ucap tiba2 lelaki yang tiba2 muncul dihadapan revan
“iya thanks ya”
“kamu gak bilang padanya?”
“nanti dia juga akan tau”senyum revan
“kamu bahagia dengan kayak gini”
“iya aku sangat bahagia,sekali lagi makasih ya……aku gak sangka ternyata dewa kematian mau mendengarkan keegoisanku”
“aku gak mau membawamu yang penuh penyesalan,Cuma merepotkan aku nantinya….”
“bye-bye my love”
Kemudian keduanya menghilang…..
Keesokan harinya kafka bangun dengan penuh semangat menyambut hari baru di sekolahnya,dia tak sabar untuk bertemu dengan revan lagi,satu hari kemarin sungguh menyenangkan..
Sesampainya disekolah dia tidak melihat revan
‘aneh biasanya dia datang paling pagi,dia kan ketua osis harusnya dia sibukan di awal sekolah kayak gini….apa mungkin dia kesiangan’pikir kafka
Belum selesai pikiran kafka tiba2 teman2 kafka yang melihat kafka,langsung berlari dan memeluk kafka dengan erat dia tak tahu apa yang terjadi.
“ka….ini emang berat banget buat lo,tapi lo harus sabar ya ka…kita2 disini ada buat lo ka”
“kalian kenapa sih??”
“ka…..revan meninggal tadi malem”
Bagai petir di siang bolong hati kafka hancur mendengar perkataan salah satu temannya.
“jangan bercanda deh kalian”
“kita gak bercanda ka,revan meninggal tadi malem”
“ke…..kenapa…..tadi malem dia masih sama gw,kemarin bahkan kita habis main bareng”
Semua menatap kafka dengan wajah heran…
“ka…kita tau kamu pasti terpukul banget karena kematian revan tapi kamu gak boleh kayak gini”
“maksud lo apa????”
“ka,revan gak mungkin main sama lo kemarin”
“gak gw kemarin main ama dia kok”
“itu gak mungkin ka….”
“kenapa gak mungkin?”
“ka…seminggu yang lalu revan kecelakaan motor waktu dia pulang dari bogor,dan selama seminggu itu dia koma ka jadi gak mungkin kemarin dia main sama lo sementara dia aja lagi koma di rumah sakit”
Mata kafka panas airmata tak tertahankan lagi keluar dari matanya….
‘jadi ini maksud perkataan revan kemarin……’
Kafka segera berlari kerumah sakit tempat revan meninggal,tubuhnya langsung lemas ketika melihat revan telah tertutupi kain putih,dia menangis sekencang-kencangnya,perasaannya hancur melihat yang di kasihinya sudah tidak ada.

Kafka masih berdiri di pusara revan,dia masih ingin berada di dekat kekasihnya,entah ilusi atau bukan kafka melihat revan tersenyum padanya.

“keep your promise baby”bisik revan pelan sambil mencium bibir kafka kemudian bayangan revanpun menghilang,kafka tak mampu lagi membendung air matanya…
‘Kali ini saja….kali ini saja biarkan aku menangis dan bersedih van…..lalu aku akan kembali tersenyum padamu……’


Sebuah tangan besar melingkar di leher kafka,ketika dia sedang memandang foto dirinya dan revan sambil menangis….

Hembusan nafas di tengkuk kafka,dan ciuman manis di lehernya membuat dia tersadar dari lamunannya...

“hari ini ultah revan ya yang??”
“iya rion,hari ini ultah revan”
“hari ini kamu mau aku temenin atau kamu sendirian ke tempat revan yang??”
“temenin aku ya yang”
“ok,tapi aku tunggu di tempat biasa ya yang,aku gak mau ganggu acara kencan kamu ama revan,nanti kalau udah selesai telepon aku aja”
“iya yang”
“kamu harus dandan yang caem yang,kan kamu mau ketemu ayang revan”
“hum”
“ok deh yang aku siapin mobil dulu ya”ucap rion sambil sekilas mencium bibir kafka.

Rion dan kafka adalah sepasang kekasih yang saling melengkapi,keduanya sama2 pernah kehilangan orang yang dicintainya sehingga keduanya saling mengisi satu sama lain.

Keduanya sepakat meski mereka saling mencintai satu sama lain tapi hati mereka tidak bisa sepenuhnya milik mereka,setengah hati mereka telah terisi dan terbawa oleh orang yang mereka cintai.cRion oleh dafa dan kafka oleh revan.

Hanya revan yang boleh mengisi setengah hati kafka dan hanya dafa yang boleh mengisi setengah hati rion.

Rion akan membiarkan kafka melepaskan kasih sayangnya pada revan baik ketika ulang tahun revan ataupun peringatan kematian revan karena di hari itu,kafka sepenuhnya milik revan,begitu juga sebaliknya kafka akan membiarkan rion untuk melepaskan sayangnya pada dafa di hari ulang tahun dafa ataupun hari kematiannya.

Hanya kepada revanlah rion akan meperbolehkan kekasihnya itu berbagi cinta,dan hanya kepada dafalah kafka mau diduakan oleh kekasihnya.

Mereka sama2 pernah merasakan kehilangan atas orang yang dincintainya,sehingga tak ada rasa iri yang terbesit di hati mereka ketika salah satu diantara mereka tengah tenggelam dalam kisah masa lalunya atau memikirkan pasangannya di masa lalu.

Mereka saling mengerti satu sama lain,karena revan dan dafa adalah bagian dari mereka yang takkan bisa lepas dari ingatan mereka…..

‘kamu tau van,satu hari bersamamu waktu itu sungguh sangat meyenangkan untukku,dan aku sudah memenuhi janjiku untuk bahagia tanpa kamu dan terus maju kedepan…thanks van atas semua yang kamu kasih sama aku aku bahagia….i love u my other half’ 

THE END 

I'M HERE Part. II

Monday, December 10, 2012

*******************
i'm here
::Part 2::
******************* 

"Tiar, kamu kenapa?" tegur seorang wanita berambut panjang yang bernama Intan, dia adalah kakak kandungku. Wajahnya terlihat khawatir dan ia mulai merangkul bahuku.

"Gilang, kak... Mulai detik ini dia udah pergi dari hidupku!" jawabku sambil masih mengatur emosiku.

"Gilang? Gilang siapa?" tanya kak Intan lagi. Aku menatap kedua matanya yang hitam pekat, merasa heran kenapa kak Intan gak tau siapa itu Gilang. Ah... sepertinya dia sudah lupa.

"Itu lho kak... Sahabat aku yang dulu! Yang dulu pernah ngilang selama 7 tahun!" ujarku kemudian. Kak Intan tampak berpikir sesaat, wajahnya terlihat sangat khawatir. Mungkin dia sudah ingat siapa itu Gilang yang aku maksud.

"Ooh... Gilang yang itu? Dari kapan kamu ketemu dia lagi?" tanya kak Intan.

"Delapan bulan yang lalu, kak..." aku menjawab pertanyaan kak Intan sambil menunduk.

"Kamu kenapa gak cerita sama kakak kalau kamu ketemu dia lagi?" kak Intan menanyaiku lagi. Dengan ragu, aku mencoba untuk menatap kak Intan.

"Karena... pasti kakak gak suka kan? Kak Intan pasti marah kalau aku deket-deket sama Gilang lagi. Iya kan kak?" balasku dengan suara yang pelan. Kak Intan hanya tersenyum khawatir. Aku tahu... Dari kecil, kak Intan pasti gak suka kalau aku berteman dengan Gilang.

"Tiar, gini lho... Kamu udah besar. Harusnya kamu... kamu gak kayak gini lagi, sayang." ucapnya sambil memegang wajahku dengan kedua tangannya. Nah kan... aku tau kalau kak Intan bakalan ngomong seperti ini. Aku tau dia gak suka kalau aku dekat-dekat dengan Gilang. Tapi... Kak Intan benar. Harusnya dari dulu aku gak usah dekat-dekat dengan Gilang.

"Udahlah kak, semua itu udah berlalu kok. Sekarang Gilang gak akan gangguin hidup aku lagi. Nah, sekarang aku pamit dulu ya kak. Mau kerumahnya Kirana dulu..." ujarku sambil berdiri dari atas kasurku. Kak Intan hanya menatapku sampai aku keluar dari pintu kamar, sepertinya dia benar-benar khawatir. Hah.. kak Intan memang selalu berlebihan.



******************* 

Sore ini aku sudah sampai tepat di depan gerbang rumahnya Kirana. Ah... ada mobilnya Kirana, asik, berarti dia ada di rumah nih. Untung aja masih ada di rumah. Disaat aku sudah selesai memakirkan mobilku, aku langsung bertemu dengan Mbok yang sedang menyirami tanaman-tanaman.

"Oalah mas Tiar, iki akeh tenan kembang'e" tegur Mbok sambil melihat bunga yang aku bawa.

"Hahaha, iya nih Mbok. Cantik kan bunganya?" sapa ku balik sambil tertawa kecil. "Oh ya mbok, Kirana nya ada di dalem?" tanyaku kemudian.

"Lho, ya anu... anu... saya panggilin dulu ya mas..." jawab Mbok dengan sedikit gelisah. Aku pun langsung melarangnya, dan menawarkan diri untuk masuk memberi surprise ke Kirana.

"Jangan mas, udah saya panggilin aja ya!" nggak. Ini bukan perasaanku aja, tapi keliataannya Mbok emang bener-bener lagi bingung. Sepertinya ada sesuatu yang sedang diumpetin sama Mbok. "Anu mas... di dalem lagi ada tamu. Jadi saya aja yang..."

Tanpa diberi izin, aku langsung menerobos untuk masuk ke rumahnya Kirana.

"Iya sayang... Yang penting kan aku udah gak sama dia lagi..."

"Haha, I told you before, Kirana. Ada yang gak beres sama dia. Kamu tuh gak pantes diperlakukan seperti itu..."

"Aww Denis, I love you..."

Ternyata dugaan aku benar. Ini persis seperti yang ada di dalam mimpi aku. Aku hanya bisa terdiam melihat Denis, dan juga Kirana... yang sedang bermesraan tepat di hadapanku. Hingga akhirnya Kirana sadar akan keberadaanku, ia segera berdiri dari sofa, dan menghampiriku.


"Gak nyangka aku... Semoga kamu bahagia ya, Kirana." aku menaruh bunga yang aku bawa tadi di atas meja ruang tamu Kirana. Dan aku segera keluar rumah Kirana, gak peduli Kirana terus menerus memanggil namaku.

"Tiar...! Tiar!! Wait for me! Biar aku jelaskan!" Kirana memegang lenganku untuk memberhentikan langkahku. Dan akupun berbalik. Menatap matanya dengan penuh emosi.

"How could you do that, Kirana? I thought that you really love me, but I was wrong...! Gak ada yang mesti kamu jelasin lagi, ini semua persis seperti yang di mimpi aku."

"I did really love you, Tiar... so much. Tapi sikap kamu tuh terlalu aneh! Aku gak ngerti harus gimana... It's like... kamu punya dunia kamu sendiri..." jawab Kirana sambil menangis.

Sayangnya, aku sudah tak peduli lagi. Mau dia nangis, atau apa... Akupun langsung menepis tangan Kirana dan berlari menuju parkiran mobilku.

Ternyata Gilang benar....

Harusnya aku mengikuti apa kata sahabatku. Aku memang bodoh.

Tanpa sadar, Mobilku melaju ke depan dengan kecepatan tinggi, sangat tinggi, terlalu tinggi, sehingga awan hitam yang bergulung-gulung di hadapanku tampak menyergap dan menelanku dengan begitu cepat, begitu beda dengan awan gemawan senja di kaca spion yang semarak keemas emasan. Aku melaju di jalan tol dengan kecepatan tinggi bagaikan menuju ke sebuah dunia yang dengan pasti merupakan kegelapan. Segalanya memesona di kaca spion dan segalanya tergandakan di kaca spion, tetapi aku sedang meninggalkannya dengan kecepatan yang tidak tertampung oleh speedometer. Dalam keadaan seperti ini... aku merasa semua kegelisahanku lepas.

Gilang, where are you? I really need you now. Kamu benar, Gilang. Aku yang selalu ngebutuhin kamu. Kamu yang selalu tau kebaikan aku. Cuman kamu yang bisa ngertiin aku. Gilang, please... come back to me.
 

To Be Continued...

I AM NOT FUDAN! Part. 2

Saturday, December 8, 2012

I AM NOT FUDAN!
Part. 2
***
Masih pada inget gue kan? Nama gue Andre, umur 17 tahun, dari luar gue cuman berperan sebagai layaknya murid SMA biasa. Tapi ada satu rahasia yang gue simpen... yaitu mempunyai pekerjaan freelance sebagai mangaka eroge. Kehidupan gue selama ini baik-baik saja.... tapi....

"Sensei~ Aku seneeeeng banget ketemu mangaka pro seperti sensei~" ujar seorang lelaki yang tadinya bersifat tsundere kini berubah layaknya cewek-cewek moe di manga. KUSO!!! APA YANG GUE SEBUT TADI!? MOE!?? NO! Mikir apa sih gue ini... sadar dong 'Ndre, dia itu Vian yang sering ceramahin elu. Yang sering ngomelin elu. Gak mungkin cowok kayak dia bisa dibilang Moe!

"Sensei..." Vian mulai meraih kedua tangan gue dari atas meja gue. Dan dia menggenggamnya. Wait... dan dia apa? "Sensei~ maukah kau mendampingiku... untuk membuat manga Yaoi~?"

"DAFUQ!??? YAOI!?? NOOOOOOOO! GUE GAK BAKALAN GAMBAR KOMIK YANG CERITANYA TENTANG COWOK SAMA COWOK YANG LAGI CIUMAN ATAU LAGI XXX!! NO WAY! EVER! WALAUPUN LU CIUM GUE JUGA GAK BAKALAN GUE BIKIN KOMIK KAYAK GITU!!!"

"..............."

Hening.

Entah perasaan gue aja... atau gue beneren lagi diliatin sama anak-anak sekelas ya? Nggak.... GUE BENERIN DILIATIN SAMA ANAK-ANAK SEKELAS!

"Hahahaha, tadi gue bercanda kok. Gak usah pada serius kali, HAHAHA. Hahaha. Haha..." setelah gue berkata begitu, akhirnya anak-anak sekelas pada lanjut asik sendiri-sendiri lagi. Fiuh, aman.... sialan, gara-gara bocah yang bernama Vian ini. Kuso!!!

"Ne~ Sensei~ ngomongnya jangan keras-keras, nanti rahasia yang kita simpan berdua ketauan sama teman-teman sekelas lho..." bisik Vian pelan ditelinga gue, dengan jarak yang sangat sangat dekat..... dan itu ngebuat gue....

"AAAARGH!!! NGAPAIN LU BARUSAN!?? JANGAN NIUP-NIUP KUPING GUE!!!"

"Aha~ Sensei sensitive banget ya... Kawaii~"

Anjrit, gue lebih milih Vian jadi tsuntsun tanpa dere dari pada Vian yang bersikap seperti tokoh-tokoh Moe kayak sekarang!! Kamisama, aku tau kau telah mengabulkan permintaanku agar aku bisa dipertemukan dengan teman satu seperjuangan. Tapi... INI BEDA JALUR!!

Gue punya mimpi sebagai mangaka pro di genre Ero. Alias Hentai. Tapi kalau Vian... dia punya mimpi sebagai mangaka pro spesialis Yaoi. iya, YAOI. YE-A-YA-YO-I-YI, YAOI!! Yaoi adalah salah satu genre dimana ceritanya berfokus pada seorang lelaki yang jatuh cinta dengan seorang lelaki juga. Wait, KENAPA GUE JADI JELASIN YAOI!!!??

"Ne... sensei... Hari ini sensei bisa datang ke rumah ku gak?"

APALAGI SEKARANG!?? Ke-kenapa tiba-tiba Vian ngajakin gue kerumah dia!?? Vian... apa yang sebenarnya lu rencanain!!??

"Nggak bisa! Gue sibuk!" tolak gue sambil melipat keduatangan gue di depan dada gue.

"Hoo~ jadi lu lagi sibuk ya? Ngomong-ngomong hari ini lu telat, dan gue nolongin lu dari guru BP lho. Gimana ya kalau guru BP tau kalau lu telat lagi? Bisa-bisa ortu lu dipang..."

"GUE IKUT!! MAU ADA ANGIN TOPAN MELANDA JUGA GUE TETEP DATENG KERUMAH LO! PUAS LO VIAN!??"

"Yatta~ Sensei baik banget deh~"

Kamisama... Oh janshin... Oh lord... Oh god... Sebenernya apa salah aku sampai kau memberikan ujian ini kepadaku??

Vian itu cowok. Dan dia suka Yaoi. Terus dia ngajakin gue kerumahnya...

Nggak, nggak... Apapun yang terjadi gue mesti tetep sama pendirian gue untuk menjadi mangaka Ero yang pro. Bukan yaoi, tapi ERO!! Gue gak bakalan kebujuk sama jebakan-jebakan yang bakal dia pake pas nanti gue kerumah dia. Gue gak bakalan terpengaruh sama muka Bishounennya Vian. Mau dia crossdress jadi maid juga gak bakalan ngaruh ke gue buat suka sama genre Yaoi. Walaupun dia naked dan cuman pake apron pun juga gak bakalan gue serang dia, cium dia, dan desahannya juga gak bakal ngebuat gue.... Wait, KENAPA GUE JADI MIKIR HAL MACEM-MACEM SOAL VIAN!!?? Siapapun... BUNUH GUE SEKARANG!! GUE UDAH GILA!

---------------------------------------------
Depan Rumahnya Vian
 ---------------------------------------------

Ok, sekarang udah jam 4:15, dan saat ini udah tepat 15 menit gue berdiri di depan rumahnya Vian. Kuso! Kenapa gue jadi deg-degan gini!?? Tinggal pencet tombol bel doang... tapi... tapi... arrrgh!!

"Aih, kamu pasti temennya Vian ya?" tegur seorang wanita cantik yang baru saja keluar dari pintu gerbang rumahnya Vian. HEEE!?? Siapa dia!? Kenapa Vian gak pernah cerita kalau dia tinggal bersama cewek cantik ini!?? A-aaaa kawaii! "Hmm... siapa ya tadi namanya... Ah, iya! Kamu yang namanya Andre kan?"

"Aaah haha, iya iya. Saya Andre, temen sekelasnya Vian..."

"Wah, kalau gitu langsung masuk aja. Kamarnya Vian ada di lantai dua, disana cuman ada satu kamar, nah... itu kamarnya Vian. Kamu langsung ke kamarnya aja ya, tante lagi ada urusan sebentar. Selamat bersenang-senang~"

Ta-tante dia bilang? M-masaka... Dia ibunya Vian!?? Gila... muda banget. Kawaii lagi. Daripada jadi ibu, lebih pantes jadi kakaknya Vian. Hah.... keluarga aneh.

"Permisi~" ucap gue sambil memasuki rumah Vian. Hoo... keliatannya gak ada orang. Oke, kayaknya gue langsung ke lantai dua aja deh. Cuman ada satu kamar kan? Berarti yang ini... Pake ketok dulu gak ya? Nggak usah deh. Sekalian mau ngagetin. HAHAHA. RASAIN!

Oke... Ambil nafas. 1.... 2....

BRAAAK!!

"DOOORRR!!!!"

".........."

Saat ini... di depan gue ada Vian yang lagi memakai CD. Iya, CD... celana dalem. Pantsu. Itu tandanya? Vian yang ada di hadapan gue sekarang ini keadaannya masih naked. Dan dia masih bengong ngeliat gue yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. Oke, gue sendiri gak tau harus berbuat apa... tapi yang jelas, gue punya perasaan gak enak untuk tiga detik kemudian.... 1.... 2....

"GYAAAAAAAA!!!!!! ANATA WA HENTAI NO BAKA YARO DESU!!!"

BRUGGGH!!

Dengan tendangan side-kick Vian yang mengarah tepat dihadapan muka gue, gue pun terjatuh dan terlempar ke luar kamar.

"A-ara... Sensei...! Daijoubu, ka? Gomenne... aku gak bermaksud nendang sensei lho tadi. Habisnya sensei tiba-tiba masuk kamar sih...."

"Hahaha. Udah lupain aja, slow aja..."

Sebenernya... gue masih kesel karena tiba-tiba ditendang. Lagian dia lebay banget, udah tau sama-sama cowok... kenapa juga mesti malu? Gue juga gak bakal ngelirik kok. Gue sendiri kan punya. Hah... Ada-ada aja deh. Tapi yaudahlah, untung nih anak lagi bersikap moe. Jadi bisa gue tolerir lah.

"Sini Sensei... biar aku bantuin berdiri." tanpa aba-aba Vian langsung narik tangan gue. Tapi, karena gak balance.... Vian pun kepleset dan kepalanya hampir jatuh kena lantai. Sebelum itu terjadi, gue cepet2 mindahin posisi gue sama Vian. Dan akhirnya.... gue jatuh.... untuk yang kedua kalinya.

"Sensei....!!!"

"Ermngh.. lu gak apa-apa 'Yan?" dengan sedikit meringis, gue coba ngebuka mata gue... dan... GOD!! HE'S SO CLOSE TO ME!!! Cuman tinggal beberapa senti lagi... gue yakin bibir gue bakalan kena bibir dia!! "S-sorry...!!" ujar gue lanjut sambil ngelepas pelukan gue ke Vian. Duh... bisa gila gue lama-lama disini...

"Aku gak apa-apa kok sensei... A-Arigatou..."

K-kawaii...!! Gue gak pernah bayangin sama sekali... kalau seorang Vian si ketua kelas yang galak itu...Bisa blushing layaknya karakter-karakter MOE di komik Shoujo. Kalau di adegan-adegan manga ero nih... pasti kita udah ngelakuin xxxx. Aaaargh!! Get real, MAN!! You're guy, and he's a guy!! KUSO!!

"Ah ya... masuk aja sensei. Ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan ke sensei..."

Sesuatu?? Yang ingin diliatin ke gue? Kira-kira apa ya?

Sambil menunggu Vian yang sedang mengambil "sesuatu" itu, gue cuman duduk sambil liat-liat ruangan kamarnya Vian. Hoooo, ternyata lumayan rame juga nih kamarnya. Beneren masih gak percaya gue.... Kalau si perfectsionis Vian ternyata seorang Otaku juga, dan ternyata orangnya careless gitu.

"Sensei... ini...." Vian ngasih gue beberapa lembar kertas, dan setelah gue liat kertasnya. UWO!? I-ini... "Itu manga buatanku, sensei. Bukan Yaoi sih... Masih kadar Shounen-Ai aja... Karena aku lebih suka menonjolkan kisah cintanya aja. Coba sensei baca, aku butuh pendapat sensei!!"

Ah.... ternyata dia ngundang gue kesini cuman buat ini toh. Gue kira apaan.... Hah... bisa-bisanya gue mikir yang macem-macem. Tau ah, mending gue liat karyanya Vian dulu.

Wow... ternyata gambarnya Vian bagus juga. Tapi...

"Hmm... sepertinya ada yang kurang..." ujar gue pelan.

"Hontou ni!? Apa itu, sensei?"

"Pas disini.... Waktu si cowok pertama ngedempet cowok kedua ke tembok. Harusnya ada adegan lebih dari ciuman, misalnya... si cowok kedua dilempar ke kasur, dan cowok pertama mulai melucuti baju..... Wait.... KENAPA GUE BERKOMENTAR KAYAK GINI!!!!!???"

"Aaaaah~ ternyata di dalam diri sensei, sensei punya bakat buat bikin alur cerita Yaoi ya~ Kalah deh aku, aku aja cuman bisa shounen-ai~"

"Nggak, 'Yan! Gue gak ada minat dan sama sekali gak minat dengan dunia Yaoi, Shounen-Ai, dan sebagainya. Oke? GUE GAK MINAT!! TITIK!!!"

"Aha~ Tapi sensei masih berminat buat meraih mimpi bersamaku kan~?"

Kamisama.... tatsukette kudasai.......!!!!!!!

Entah apa yang akan terjadi selanjutnya kalau gue masih tetep terus bersama Vian untuk meraih mimpi gue sebagai mangaka pro. Kuatkan dirimu Ndre, jangan sampe dirimu masuk ke dalam dunia Yaoi!!
 

ToBeContinued

I AM NOT FUDAN! Part. 1

Thursday, December 6, 2012

I AM NOT FUDAN!
Part. 1
***

Nama gue Andre. Umur 17 tahun, dan hanyalah seorang murid SMA biasa. Well, seenggaknya sih itu yang orang-orang lihat... Tapi dibalik wajah yang tampan nan mempesona ini *huek*, gue sebenernya seorang OTAKU. Tapi ini bukan rahasia lagi sih kalau gue ini seorang otaku, temen-temen gue jg udah pada tau, tapi ada satu hal yang belum diketahuin sama orang-orang... Kalau gue itu adalah seorang mangaka. Bukan seorang mangaka biasa, tapi seorang mangaka yang berada di dalam genre ERO, alias ECCHI, alias HENTAI. So, gak mungkin gue ngumbar2 pekerjaan freelance gue itu ke orang-orang, bisa-bisa gue dikeluarin dari sekolah.. Hahaha.

Oh ya, gue siap-siap mau sekolah dulu ya. Eh...

wait, sekarang jam berapa?

yvb(!*_)%^&*@(I&*()!?????
JAM 7 kurang 10 menit!??? GAWAT. Gue mesti cepet-cepet nih!!

Gini nih repotnya gak ada orang tua dirumah, gak ada yang bangunin. Tapi ada enaknya juga sih, gue bisa gambar dan nonton segala macam hal yang berbau Eroge! Muahaha, AAH! Bukan waktunya bersenang-senang! Cepat beres-beres dan berangkat!!

***
Di sekolah..
***
YES! Masih ada waktu 5 menit sebelum bell masuk. Mesti buru-buru nih gue, kalau nggak....

SLEP!!
BRUGH!!

Sial, kaki siapa sih!?? sengaja banget ngebuat gue kesan...dung.... oh my,

"Good morning, Mr. Lazy. Hampir telat lagi ya?" sapa seorang lelaki yang kayaknya secara sengaja bikin gue kesandung.

"Hahaha, masih mending ada 'hampir' nya kan? Ketua Kelas?" terpaksa deh gue pasang tampang ramah ke dia, hah.

"Sama aja, bodoh. Intinya sama-sama telat. Listen, gue harap ini yang terakhir kalinya gue ngomong kayak gini. Tapi gara-gara lo, kelas kita lama-lama bisa di cap sebagai tukang telat. Catet itu." setelah berkata seperti itu, Vian langsung ninggalin gue tanpa bilang minta maaf karena udah ngebuat gue jatoh. Fine, it's ok. Udah biasa gue di giniin.

Padahal tampangnya bisa dibilang kayak cewek, tapi kalau sifatnya seperti itu sih pantes aja semua orang gak suka dia. Kalau di game-game sama anime sih tipe yang kayak gini bisa dibilang Tsundere, tapi gak ada DERE di dalem Vian. Cuman ada tsun-tsun! Iya, gak ada dere, Wait, KENAPA GUE SEMPET-SEMPETNYA MIKIR HAL YANG GAK PENTING SEPERTI INI!? Aaargh, sial. Ini semua gara-gara Vian!

"Weeeits, pagi bro. Kena omel lagi gak lu sama Vian?" sapa seorang lelaki dari belakang gue.

"Haha, asik banget lo dapet perhatian khusus dari sang ketua kelas, muahahaha!" kini murid lelaki lain yang nyapa gue sambil nepuk bahu gue. Haha, sialan mereka. Gue ditindas gini sama ketua kelas malah mereka ngecengin gue.

"Sialan lu ye, gue doain lu lu semua telat terus kena omelnya!" balas gue.

"Ah masa? Gue dulu pernah telat, tapi gak diomelin tuh. Nasib lu doang kali yang apes, kena omel si ketua kelas mulu. Hahaha"

Jangankan mereka. Gue aja juga heran sih... kenapa sih tuh anak selalu ngomelin gue terus? Apa dia punya dendam ya ama gue? Tapi... gue tau, Vian itu gak selalu menjadi seseorang yang serius, perfectionist, dan semacamnya. Buktinya waktu gue lagi diem-diem baca manga di kelas, Vian ngawasin gue biar gue gak ketauan sama guru. Terus kalau gak ada dia nih, gue pasti selalu lupa ngerjain PR kalau misalnya Vian gak sms in gue terus tiap malemnya. Gue rasa, gak ada salahnya kalau dia merhatiin gue terus. Hah, mungkin memang ada 'dere' di dalam diri Vian, gak cuman Tsuntsun aja.

***
Pulang sekolah..
***

Haaaaah, akhirnya selesai juga hari yang melelahkan di sekolah. Nah, waktunya sekarang menggambar! Gue ambil peralatannya dulu ah...

wait.

Naskah Draft gue mana!?? Perasaan tadi gue bawa ke sekolah, terus.... omg, don't tell me...!?

Mesti cepet-cepet kesekolah gue, sebelum semua terlambat!!!

Kalau gak salah tadi gue nyimpen di kolong mejanya gue. Gue harap masih ada!! Gue harap gak ketauan sama siapa-siapa...!

BRAAK!!

"Vian?"

"An...dre?"

Mati.

Mati gue. Ternyata Vian masih ada di kelas, dan dia lagi duduk di meja gue, ditambah naskah manga eroge gue ada di tangannya. Dengan tampang wajah datar, gue jalan kearahnya. Ngambil naskah dari tangan Vian, terus balik arah. Vian sendiri gue rasa gak tau harus ngomong apa dia, so, dia cuman diem aja kayak gue.

"Kalau misalnya lu mau laporin ke BK, atau ke pihak sekolah... boleh kok. Laporin aja." ujar gue dengan pasrah sebelum keluar dari ruangan kelas.

selamat tinggal masa depanku~
selamat tinggal sekolahku~
selamat tinggal kelasku~
selamat tinggal teman-temanku~
selamat tinggal guru-guruku~

Hah. Hahaha. Kalau orang tua gue balik ke Indonesia, gue mesti bilang apa nih? Apa gue pura-pura lupa ingatan aja ya? Hmmm..

"Andre!! Andre! Tungguin gue sebentar, Andre!" hah? Kenapa si Vian lari-lari gitu?

"Ada apa?" tanya gue singkat sambil balikin badan. Sedangkan Vian mengatur nafasnya sebelum dia berbicara kembali.

"Gue suka sama lo!!!" teriaknya.

hah?

Ini gue yang salah denger? Atau pembaca yang salah baca? Atau Author yang salah ketik??

"Hah?" tanya gue dengan bingung sebingung-bingungnya.

"Gue gak bakal lapor ke siapapun! Gue sebenernya udah nebak dari dulu kalau lu bisa gambar, dan ternyata tebakan gue benar! Gambaran lu tuh bener-bener bagus, gue juga pengen jadi mangaka kayak lo! Onegai, sensei! Ajarin aku unuk menjadi mangaka pro seperti sensei!"

N-N-N-N-N-N-NANIIIIIIIII!???
Ini gue mimpi, atau apa sih? Si Vian... Vian yang ketua kelas itu? Ngerti bahasa jepang? Ngerti istilah-istilah jepang?? What?

"Uhm, sensei?? Daijoubu ka?" tanya Vian sambil mendekatkan wajahnya kearah gue.

"h-hah? iya.. hahaha. Emangnya kalo lu mau jadi mangaka, mau buat manga genre apa?" tanya gue balik sambil masih agak merinding.

"Uhm... sebenarnya terlalu memalukan. Ta-tapi karena sensei yang nanya, jadi aku harus beritahu sensei... A-aku, pengen bikin manga bergenre YAOI."

1....


2....


3....


3 detik sudah gue pasang tampang Bad Poker Face.

"Saya permisi dulu, bye bye!" dalam 3 detik gue ambil langkah kaki seribu supaya jauh-jauh dari ketua kelas. Bye ketua kelas!!!

"Tunggu, senseeeeeeeeei~ Chotto matte kudasai! Jangan lari~ aku cuman tertarik sama yaoi di dunia 2D koook~! SENSEEEEEEEEI!"

Dan begitulah.... awal mula gue bertemu dengan seseorang yang mempunyai mimpi yang sama, namun beda jalur. Haha... Hahaha. HAHAHAHA.

To be continued....