Hari Senin dan Ilusi
***
Siang
hari yang panas membuat Farren enggan keluar dari rumah, tapi tadi mama
memberi perintah untuk pergi ke pasar membelikannya santan dan beberapa
sayur. Padahal di rumah ada Dea adik Farren, tapi berdalih bahwa ia
akan segera berangkat les siang ini mau tak mau Farrenlah pilihan
terakhir mama. Tidak mungkin menyuruh papa karena papa tidak tau bedanya
santan dengan susu kental manis. Yang ada bukannya masak sayur mama
malah jadi membuat kue.
Sampai
di pasar yang tak jauh dari rumah segera Farren mencari pesanan mama.
Memang sial bagi Farren, ia malah bertemu dengan Gilang dan segerombolan
teman-temannya. Pikiran pertama yang ada di otak Farren adalah, ngapain mereka di pasar? Jangan-jangan… kerja sambilan jadi tukang angkat barang…
Nampaknya
Gilang sendiri menyadari keberadaan Farren dan langsung menghampirinya.
“Ciyeee! Eh guys, ada sissy boy nih! Liat tuh, belanja ke pasar, mau
masak apa mba bro?” ,ucap Gilang disusul tawa teman-temannya sementara
Farren hanya diam.
Sebenarnya
jika dilihat baik-baik Gilang itu termasuk remaja berwajah cantik,
sangat tidak sesuai dengan perangainya yang kasar. Farren menghela
nafas, coba saja dia yang berwajah seperti itu, pastilah banyak wanita
yang akan menggilainya.
Melihat
Farren yang tidak bereaksi Gilang malah jengkel. Dirampasnya belanjaan
Farren lalu dihamburkan ke jalanan. Teman-temannya tidak mau tinggal
diam, mereka menginjak-injak belanjaan Farren sambil tertawa kegirangan.
Lagi, Farren terdiam melongo, pikirnya lagi, emang mereka anak-anak ya?
Lompat-lompat gaje sambil injek-injek sayur? Dasar MKKB (masa kecil
kurang bahagia)
Puas
menginjak belanjaan Farren, Gilang dan teman-temannya pergi sambil
tertawa terbahak-bahak. Farren menghela nafas, yang ada dipikirannya
sekarang adalah bagaimana mengatakan pada mama tentang masalah belanjaan
itu. Sementara Farren tidak membawa dompet untuk membeli lagi belanjaan
tadi.
Saat
membungkuk mengambil sayuran yang berserakan tiba-tiba dua buah kaki
muncul di depan mata Farren. Farren mendongak dan mendapati seorang
remaja seusianya menatap Farren serta belanjaan yang berserakan hancur
tanpa ekspresi. Wajahnya terlihat lebam di ujung bibir kanan dan bajunya
kotor.
“Elu kenapa?” ,tanya Farren. Padahal melihat dari situasinya, harusnya pemuda di hadapan Farren itulah yang bertanya.
Bukannya menjawab pertanyaan Farren, pemuda itu malah balik bertanya, “Kenapa ga beli yang baru?”
“Enggak bawa dompet.” Jawab Farren masih dalam keadaan bingung.
Pemuda
itu berbalik meninggalkan Farren dengan seribu tanya di kepala dan
sepuluh menit kemudian kembali dengan membawa jawaban dari pertanyaan
Farren. Ia membawa belanjaan yang sama dengan yang dibeli Farren tadi
lalu menyodorkannya ke Farren.
“Udah ya, gue mesti buru-buru. Elu juga gue saranin cepet pulang.” Ujarnya sambil lalu meninggalkan Farren.
“Eh! Tunggu! Elu siapa sebenarnya? Emang lu buru-buru kemana sambil bawa muka bonyok gitu? Terus kenapa harus cepat pulang??”
“Nama
gue Grey, kelas XII SMA Pelita dan gue harus berangkat les sekarang.
Bye.” ,tanpa menunggu balasan kata dari Farren pemuda yang bernama Grey
itupun berjalan dengan cepat dan menghilang di tengah kerumunan orang
bagaikan ilusi.
Kelas
XII SMA Pelita? Itukan sekolah gue? Kok gue ga pernah liat atau ketemu
ya? Pikir Revan bingung. Tapi ia dengan segera menepis harapan itu. Dari
pada kebingungan hari ini lebih baik besok ia mencari tahu tentang Grey
di sekolah. Toh, jika mereka memang satu sekolah tidak akan susah
mencari informasi tentangnya dari teman-teman.
Tak
lama hujan rintik-rintik mulai turun. Untung saja Farren sudah dekat
dari rumah. Lamat-lamat hujan rintik berubah menjadi deras sore itu.
Saat senja hujan mulai reda dan saat itulah Farren melihat pelangi yang
indah. Membuatnya teringat akan kertas yang diremas itu beserta isinnya.
***
Hari
ini Farren benar-benar dibuat kebingungan. Yang pertama, tidak ada
kakak kelas mereka yang bernama Grey. Yang kedua ulangan dadakan dari
Mr. Ahmat mengenai Direct-Indirect speech membuat Farren kelabakan
karena ia memang tidak belajar. Yang ketiga, ada surat balasan. Kali ini
tidak diremas tapi diselipkan ke dalan pipa yang dipotong sangat
pendek.
Oh, jadi elu cowok ya? Sama dong
Hahaha, gimana? Kemarin hujan’kan?
Tapi habis itu pelanginya muncul
Dari kelas ini, dari tempat duduk ini gue ngeliat
Elu liat juga ga?
Tapi bosen nih, pak Hilman ngajarin soal Biologi
Panjang kali lebar alias luas
Padahal mah intinya sama aja
Itulah
isinya surat yang kedua. Farren menggeleng kepala geli. Setidaknya dari
surat tadi Farren tahu orang itu adalah anak IPA. Hmm… makin lama
Farren semakin penasaran. Siapa sebenarnya sosok asli si penulis surat
itu. Karena keasyikan melamun Farren tak sadar kalau saat itu sudah
pertengahan istirahat. Saat itulah Farren melihat sosok yang sama sekali
tidak ia sangka. Gray melewati tepat di samping jendela kelas.
Setengah
berlari Farren keluar dari kelas mengejar sosok Grey. Aneh sekali pikir
Farren. Padahal saat ini adalah pertengahan istirahat jadi harusnya
lorong sepi karena rata-rata siswa pergi ke kantin tapi saat ini lorong
justru ramai sekali.
Akhirnya
Farren berhenti tepat di simpang tiga lorong sekolah. Sosok Grey
menghilang, ia tidak bisa mengejarnya. Rona kecewa terpancar di wajah
Farren. Dengan gontai ia berbalik kembali menuju ke kelas. Saat itulah
ia mendengar suara isakan. Saat menoleh ke arah ruangan IPA, Farren
melihat seorang pemuda tengah menggosok matanya dan setelah dicermati,
orang itu ternyata adalah Gilang. Gilang nangis? Kenapa?
To be continued...





