Showing posts with label HSI. Show all posts
Showing posts with label HSI. Show all posts

Hari Senin dan Ilusi Part. II

Monday, December 24, 2012

Hari Senin dan Ilusi
***

Siang hari yang panas membuat Farren enggan keluar dari rumah, tapi tadi mama memberi perintah untuk pergi ke pasar membelikannya santan dan beberapa sayur. Padahal di rumah ada Dea adik Farren, tapi berdalih bahwa ia akan segera berangkat les siang ini mau tak mau Farrenlah pilihan terakhir mama. Tidak mungkin menyuruh papa karena papa tidak tau bedanya santan dengan susu kental manis. Yang ada bukannya masak sayur mama malah jadi membuat kue.

Sampai di pasar yang tak jauh dari rumah segera Farren mencari pesanan mama. Memang sial bagi Farren, ia malah bertemu dengan Gilang dan segerombolan teman-temannya. Pikiran pertama yang ada di otak Farren adalah, ngapain mereka di pasar? Jangan-jangan… kerja sambilan jadi tukang angkat barang…

Nampaknya Gilang sendiri menyadari keberadaan Farren dan langsung menghampirinya. “Ciyeee! Eh guys, ada sissy boy nih! Liat tuh, belanja ke pasar, mau masak apa mba bro?” ,ucap Gilang disusul tawa teman-temannya sementara Farren hanya diam.

Sebenarnya jika dilihat baik-baik Gilang itu termasuk remaja berwajah cantik, sangat tidak sesuai dengan perangainya yang kasar. Farren menghela nafas, coba saja dia yang berwajah seperti itu, pastilah banyak wanita yang akan menggilainya.

Melihat Farren yang tidak bereaksi Gilang malah jengkel. Dirampasnya belanjaan Farren lalu dihamburkan ke jalanan. Teman-temannya tidak mau tinggal diam, mereka menginjak-injak belanjaan Farren sambil tertawa kegirangan. Lagi, Farren terdiam melongo, pikirnya lagi, emang mereka anak-anak ya? Lompat-lompat gaje sambil injek-injek sayur? Dasar MKKB (masa kecil kurang bahagia)

Puas menginjak belanjaan Farren, Gilang dan teman-temannya pergi sambil tertawa terbahak-bahak. Farren menghela nafas, yang ada dipikirannya sekarang adalah bagaimana mengatakan pada mama tentang masalah belanjaan itu. Sementara Farren tidak membawa dompet untuk membeli lagi belanjaan tadi.

Saat membungkuk mengambil sayuran yang berserakan tiba-tiba dua buah kaki muncul di depan mata Farren. Farren mendongak dan mendapati seorang remaja seusianya menatap Farren serta belanjaan yang berserakan hancur tanpa ekspresi. Wajahnya terlihat lebam di ujung bibir kanan dan bajunya kotor.

“Elu kenapa?” ,tanya Farren. Padahal melihat dari situasinya, harusnya pemuda di hadapan Farren itulah yang bertanya.

Bukannya menjawab pertanyaan Farren, pemuda itu malah balik bertanya, “Kenapa ga beli yang baru?”

“Enggak bawa dompet.” Jawab Farren masih dalam keadaan bingung.

Pemuda itu berbalik meninggalkan Farren dengan seribu tanya di kepala dan sepuluh menit kemudian kembali dengan membawa jawaban dari pertanyaan Farren. Ia membawa belanjaan yang sama dengan yang dibeli Farren tadi lalu menyodorkannya ke Farren.

“Udah ya, gue mesti buru-buru. Elu juga gue saranin cepet pulang.” Ujarnya sambil lalu meninggalkan Farren.

“Eh! Tunggu! Elu siapa sebenarnya? Emang lu buru-buru kemana sambil bawa muka bonyok gitu? Terus kenapa harus cepat pulang??”

“Nama gue Grey, kelas XII SMA Pelita dan gue harus berangkat les sekarang. Bye.” ,tanpa menunggu balasan kata dari Farren pemuda yang bernama Grey itupun berjalan dengan cepat dan menghilang di tengah kerumunan orang bagaikan ilusi.

Kelas XII SMA Pelita? Itukan sekolah gue? Kok gue ga pernah liat atau ketemu ya? Pikir Revan bingung. Tapi ia dengan segera menepis harapan itu. Dari pada kebingungan hari ini lebih baik besok ia mencari tahu tentang Grey di sekolah. Toh, jika mereka memang satu sekolah tidak akan susah mencari informasi tentangnya dari teman-teman.

Tak lama hujan rintik-rintik mulai turun. Untung saja Farren sudah dekat dari rumah. Lamat-lamat hujan rintik berubah menjadi deras sore itu. Saat senja hujan mulai reda dan saat itulah Farren melihat pelangi yang indah. Membuatnya teringat akan kertas yang diremas itu beserta isinnya.
***
Hari ini Farren benar-benar dibuat kebingungan. Yang pertama, tidak ada kakak kelas mereka yang bernama Grey. Yang kedua ulangan dadakan dari Mr. Ahmat mengenai Direct-Indirect speech membuat Farren kelabakan karena ia memang tidak belajar. Yang ketiga, ada surat balasan. Kali ini tidak diremas tapi diselipkan ke dalan pipa yang dipotong sangat pendek.

Oh, jadi elu cowok ya? Sama dong
Hahaha, gimana? Kemarin hujan’kan?
Tapi habis itu pelanginya muncul
Dari kelas ini, dari tempat duduk ini gue ngeliat
Elu liat juga ga?
Tapi bosen nih, pak Hilman ngajarin soal Biologi
Panjang kali lebar alias luas
Padahal mah intinya sama aja

Itulah isinya surat yang kedua. Farren menggeleng kepala geli. Setidaknya dari surat tadi Farren tahu orang itu adalah anak IPA. Hmm… makin lama Farren semakin penasaran. Siapa sebenarnya sosok asli si penulis surat itu. Karena keasyikan melamun Farren tak sadar kalau saat itu sudah pertengahan istirahat. Saat itulah Farren melihat sosok yang sama sekali tidak ia sangka. Gray melewati tepat di samping jendela kelas.
Setengah berlari Farren keluar dari kelas mengejar sosok Grey. Aneh sekali pikir Farren. Padahal saat ini adalah pertengahan istirahat jadi harusnya lorong sepi karena rata-rata siswa pergi ke kantin tapi saat ini lorong justru ramai sekali.

Akhirnya Farren berhenti tepat di simpang tiga lorong sekolah. Sosok Grey menghilang, ia tidak bisa mengejarnya. Rona kecewa terpancar di wajah Farren. Dengan gontai ia berbalik kembali menuju ke kelas. Saat itulah ia mendengar suara isakan. Saat menoleh ke arah ruangan IPA, Farren melihat seorang pemuda tengah menggosok matanya dan setelah dicermati, orang itu ternyata adalah Gilang. Gilang nangis? Kenapa?


To be continued... 

Hari Senin dan Ilusi Part. I

Saturday, December 8, 2012

Hari Senin dan Ilusi
part. I
***
Ini bukan ceritaku tapi aku dengan senang hati menceritakannya padamu.
Ini cerita tentang dia dan ‘ilusi’. Maksudnya? Mungkin inilah pertanyaan pertama yang kalian tanyakan tapi abaikanlah. Mulailah gerakan matamu mengikuti alur cerita ini. Biar kau tahu sendiri cerita apa ini dan maksud dari kalimat pernyataan tadi. bukannya aku pelit berbagi informasi, hanya ingin sedikit biarkan kalian berfantasi, dengan khayal diri sendiri.
 
Aku tahu kalian mulai tak sabar. Risih dengan awal yang panjang lebar. Tapi aku sendiri tak paksa kalian untuk membaca. Jika kalian risih palingkan wajah dari layar kaca. Entah itu ponselmu atau televisi, karena cerita ini belum tentu berisi.***
Hari Senin bukanlah hari yang menyenangkan, terutama bagi pelajar. Padahal jika dipikirkan apa
salahnya hari Senin? Bukan dia yang meminta untuk menjadi hari setelah Minggu. Bukan dia juga yang meminta jadi hari pertama dari hari kerja. Tega sekali orang membencinya. Setidaknya itulah yang ada di dalam otak Farren atau nama lengkapnya Farren Oktavio.
 
Farren memang hanya siswa biasa tapi setidaknya dia punya satu kelebihan yang lumayan ia banggakan, bahwa ia menyukai hari Senin. Baginya hari Senin adalah hari pertama kita memulai aktivitas kembali yang tak kita tahu apa yang akan menanti. Itulah yang dinanti-nanti Farren meski ia hanya anak kelas XI SMA biasa.

“Woy Ren, tumben lu pagi-pagi ke kantin hari Senin, biasanya kan hari Senin lu duduk manis diem di kelas,” sebuah suara menyadarkan Farren dari lamunannya. Ia hampir saja lupa kalau ia sedang duduk menikmati bakso mang Ujang di kantin pagi-pagi sekali. Tahu-tahu baksonya sudah dingin.

“Eh, elu Mor, tumben. Biasanya nangkring di kelas Dian dulu. Eh, traktir gue yah? Lagi tipis nih dompet gue! Hehe,” dengan tampang santai Farren langsung ‘memalak’ temannya yang bernama Mori itu.

“Ah! Elu mah tiap ada gue ngakunya tuh dompet tipis mulu! Nyatanya tipis sih iya, tapi isinya yang lembar warna merah lima!” jawab Mori sewot tapi tetap saja ia sambil memesan langsung membayar makan untuk mereka berdua di kasir. “Iya nih, gue lagi bete sama si Dian. Lagi deket dia sama cina kesasar, Gilang!” lanjut Mori setelah kembali duduk.
 
Farren diam. Memang ada masalah antara dia dengan Gilang. Entah kenapa Gilang suka sekali mencari masalah dengan Farren. Gilang merupakan orang Bandung asli tapi entah kenapa wajahnya seperti wajah oriental sehingga banyak perempuan menyukainya karena keimutannya. Tapi Farren sendiri jarang menanggapi Gilang yang sering bertingkah menyebalkan, ia hanya heran.

Bukan hanya Farren yang heran, Mori juga sama. Padahal jika dilihat Farren jelas lebih besar dari Gilang, tapi Gilang masih saja suka menantang Farren. Mungkin karena Farren terlihat sangat biasa dan seolah tidak dapat melawan. Belum lagi ia sering menutupi matanya dengan poni dan kacamata, salah satu hal yang membuat Mori iri karena Farren selalu lolos dari gunting maut guru BP mereka, pak Sonon.
***
Hari pun bergulir berganti menjadi hari Selasa. Bukan hari kesukaan Farren karena hari ini ada pelajaran sejarah. Farren sangat lemah dalam berhapal, tulisannya jelek, dan suaranya datar. Sangat tidak cocok untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan sastra dan sejarah tapi ia lumayan bisa mengerti hitungan. Setidaknya berada di peringkat 10 besar sudah cukup lumayan.

Saat sibuk mencari penghapus di kolong meja, ia menemukan sebuah kertas yang telah diremas. Entah apa dan kenapa, seolah tertarik oleh medan magnet yang diciptakan oleh kertas itu, Farren membuka remasan kertas itu.

Buat siapapun yang baca surat ini

Hei, kenalin, gue cuma pengen kenalan

Oh ya, apa lu tau kalau hari ini bakal ada hujan?

Setelah hujan bakal muncul pelangi

Well, denger-denger guru TIK ga bakal masuk karena sakit perut

Mungkin dia diare kali

Hmm… ngomong-ngomong gimana kabar lu?

Senang bisa kenalan ^~^
 
Farren terkikik geli membaca tulisan di dalam remasan kertas tersebut, mungkin orang yang menulis ini adalah anak kelas dua belas yang tiap sore saat pelajaran tambahan belajar dan duduk disini. Maklum, saat mendekati ujian tiap sore anak kelas dua belas harus turun.
 
Awalnya Farren ingin mengabaikan kertas itu tapi tanpa sadar ia membalas surat itu. Entah kenapa Farren jadi penasaran, siapa gerangan penulisnya? Seperti apa orangnya? Kenapa ia bisa seyakin itu bahwa suratnya akan dibalas?
+to be continued+