Showing posts with label Mystery. Show all posts
Showing posts with label Mystery. Show all posts

The King Part. 1

Monday, December 24, 2012

The King
***♚***

Disebuah ruangan yang hanya diterangi oleh lampu kecil, terdapat seseorang yang terlihat sedang berdiam diri. Di atas mejanya, terdapat sebuah Handphone model kini dan sebuah buku yang memperlihatkan foto sekumpulan orang-orang. Bibir lelaki itu tergerak, mengalunkan sebuah nada indah walaupun tanpa sepenggal lirik.

Beberapa detik kemudian, Handphonenya berbunyi. Dia pun segera melihat isi pesan yang baru saja diterimanya.... Dan dia tersenyum. 
***♚***
Order #1
Show Your Feeling!
***♚***
"Bukan Rel, Of Course itu nggak disambung tulisannya... Iya. Hmm? Iya bener... Nah itu kamu bisa, haha. Ada lagi yang mau kamu tanyain?"

Terlihat seorang lelaki yang sedang sibuk berbicara oleh seseorang melalui telepon genggamnya. Lelaki itu sedang berada di kamarnya yang tidak terlalu luas, namun tertata rapih, jadi sangat nyaman dilihatnya. Ditambah dengan penerawangan yang tidak terlalu terang, menambah suasana kamar menjadi sangat tenang. Jarang sekali menemukan laki-laki yang pandai menata kamarnya. Namun tidak heran untuk seorang Terry yang memang rajin dalam urusan pekerjaan rumah tangga. Disamping itu, Terry juga pandai dalam hal pelajaran. Tidak heran kalau dia menjadi murid kebanggan guru-gurunya.

"Nggak deh, kayaknya udah cukup. Gue juga udah ngantuk nih... Thanks ya 'Ry buat hari ini!" ujar seorang lelaki dari seberang telpon. Lelaki yang baru saja berbicara tadi bernama Darrel, dia adalah teman sekelas Terry sekaligus sahabat dekatnya Terry dari kecil.

"Ok deh. Besok jangan kesiangan ya, bye!" ujarnya sebelum memutuskan line telephone.

Terry menaruh Handphone miliknya di meja kecil yang berada di samping tempat tidurnya, dan ia segera menarik selimutnya tanda bahwa ia akan segera menikmati alam mimpi. Namun, tak lama HP nya berbunyi kembali. Terry segera meraih HP nya, dan melihat email yang baru saja ia terima.

"The King? Siapa ya?" Terry bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Seinget dia, dia belum pernah memasuki kontak bernama The King. Tanpa basa-basi lagi, Terry langsung membaca Emailnya.

***♚***
From: The King
Subject: Order #1
Message:
Order #1: Show your felling!


Selamat malam, teman-teman! Selamat bergabung dalam King's Game!
Untuk nama yang telah disebutkan, segera lakukan perintah dari King dalam jangka waktu 24 jam~! 

Jika ada yang tidak melakukan atau bermain curang, maka harus mendapatkan hukuman~!

Bintang kita hari ini adalah...
Absen no. 5
Arga Mahendra


Nama yang disebutkan diatas akan mengutarakan perasaannya kepada orang yang disukainya~!

Selamat berjuang!

sincerely,
The King

***♚***

"Arga? A-apa ini?" Terry tampak berfikir sejenak, namun ia segera meletakkan handphonenya kembali ke atas meja. Mungkin saja hanya spam, pikirnya.
***♚***
Keesokan paginya, seperti biasa... Terry menghampiri Darrel supaya mereka berangkat bareng ke Sekolah. Di depan rumahnya Darrel sudah berdiri seorang lelaki yang tak lain adalah teman sekelas Terry juga. Lelaki bermata hitam itu segera menghampiri Terry.

"Yo, Terry! Good morning~!" Terry tersenyum melihat lelaki itu.

"Pagi, Gilang~!" jawab Terry sambil tersenyum lebar.

"Hei, 'Ry, 'Lang! Sorry nunggu lama... Hahaha!" ternyata Darrel pun juga sudah keluar dari rumahnya. Akhirnya mereka langsung berangkat menaiki sepeda masing-masing.

Ditengah perjalanan, Terry tiba-tiba saja teringat oleh email yang diterimanya tadi malam. Dan dia segera menanyakan hal itu pada Gilang dan Darrel. Kedua lelaki itu saling bertatapan. Ternyata Gilang dan Darrel juga mendapatkan email yang sama.

"Lu gak ngerjain kita kan, 'Rel?" tanya Gilang.

"Kok gue sih yang dituduh? Siala lu 'Lang!" balas Darrel sambil menjitak sahabatnya itu. Terry hanya tertawa kecil melihat kedua sahabatnya.

Sesampainya mereka di kelas, ternyata semua penghuni kelas XI IPS 1 tengah mengerubungi Arga.

"Hei~! Ayolah, beritahu kita dong siapa orang yang kamu suka!"

"Sobat macam apa lu bro, punya orang yang disukain tapi gak bilang-bilang! Dasar!"

"Kyaaa, dari kelas mana, Arga? apa satu kelas sama kita?"

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teman-temannya. Sedangkan lelaki yang bernama Arga itu hanya tertawa grogi menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-temannya. Arga tidak memberikan jawaban yang pasti, mungkin dia belum siap untuk mengutarakan perasaannya.

"Kayaknya satu kelas dapet email dari The King deh..." ujar Darrel pelan. Terry dan Gilang langsung menatap Darrel. Wajah Terry tampak gelisah, sepertinya dia merasakan hal yang tidak enak tentang email itu.

Berbalik ke arah Arga kembali. Walaupun saat ini ia sedang berada ditengah keramaian, tetapi matanya tetap terpaku pada seorang lelaki yang menjabat sebagai Ketua Kelas di XI IPS 1. Ya... sudah lama Arga memperhatikan Ketua Kelasnya itu. Bahkan ia bersusah payah untuk memasuki SMA yang sama dengan orang yang disukainya itu. Sayangnya... Arga tidak punya keberanian yang cukup untuk menyatakan cintanya. Padahal sudah tiga tahun ia memendam perasaan sukanya pada Andri, sang ketua kelas.

Tapi... Arga kembali mengingat isi email yang diterimanya tadi malam. Bagaimana The King bisa tahu kalau ia sedang menyimpan perasaan pada seseorang? Dan terlebih lagi... Perintah yang diberikan The King adalah mutlak. Jika dalam waktu 24 jam Arga tidak menyampaikan perasaannya... maka ia akan mendapatkan hukuman. Arga mencoba mengalihkan perasaan tidak enaknya dan mencoba berfikit positive. Mungkin "The King" adalah penopang Arga agar ia bisa menjadi lebih berani untuk mengutarakan perasaannya pada Andri.

Ya, mungkin saja begitu...

Ketika ia melihat Andri yang tengah berdiri, Arga pun ingin segera menyusulnya. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaannya secara sembunyi-sembunyi.

"Ah, maaf... Gue keluar dulu ya sebentar, hehe." Arga segera melepas dirinya dari kerumunan teman-teman sekelasnya, dan langsung menuju pintu kelas. Yang lain menghempaskan nafas mereka karena pada akhirnya Arga tidak mau memberitahu nama orang yang sedang ditaksirnya.

Sedangkan di tempat lain, Arga dan Andri sedang berada di kamar mandi sekolahnya. Hanya berdua.
Arga berdiri tepat di sebelah Andri yang tengah membasuh tangannya di wastafel. Lelaki itu menatap lekat kedua mata Ketua Kelasnya dari kaca. Andri yang kebingungan karena diperhatikan seperti itu, akhirnya ia angkat bicara.

"Ada apa?" tanya Andri. Arga kembali melebarkan matanya, dan menatap kedua bola mata Andri dengas tegas. Arga tampak ragu dengan keputusannya ini, tapi...

"Gue... Gue suka sama lo, 'Ndri!" ucap Arga dengan lantang. Wajahnya yang putih kini berubah menjadi merah padam. Sekaligus berkeringat.

Andri yang mendengar pengakuan dari Arga, sempat tidak bisa berkutik. Ia hanya menatap teman sekelasnya itu dengan tatapan yang aneh.

"Uhm... Aku gak salah denger kan?" tanya Andri. Lelaki yang ada di hadapannya hanya menggelengkan kepalanya, tanda kalau Andri tidak salah mendengar. "Ah... Kalau gitu, aku minta maaf ya..." lanjut Andri.

Untuk sesaat, Arga tersontak kaget mendengar jawaban dari Arga. Tapi akhirnya Arga mengerti. Dari awal dia juga sudah tau kalau jawaban dari Andri pasti seperti ini.

Suasana canggung mereka dipecahkan oleh suara dering Handphone mereka masing-masing. Arga dan Andri segera mengecek pesan yang baru saja masuk.

***♚***

From: The King
Subject: Congratulation!
Message:
Selamat kepada bintang kita hari ini~! Siswa dengan No. Absen 5 yang bernama Arga Mahendra telah menyatakan cinta pada orang yang disukainya~!

Sincerely,
The King

***♚***

Arga dan Andri saling bertatapan ketika mereka selesai membaca email dari The King. "Apa ini perbuatanmu?" tanya Andri.

"K-kenapa gue? Kamu liat sendiri kan tadi? Gue gak pegang HP..." jawab Arga. Lelaki itu segera mengecek seluk beluk kamar mandi untuk mengetahui apakah ada orang atau tidak. Arga sangat yakin kalau hanya ada Andri dan dirinya, tapi kenapa The King bisa tahu kalau Arga sudah menyatakan cintanya?

"Ayo, 'Ga. Kita balik ke kelas aja dulu..." ajak Andri.
***♚***
Selepas istirahat, Terry, Darrel, dan Gilang berdiskusi di kantin mengenai email yang dikirim oleh The King. Mereka mempunyai firasat buruk soal permainan yang dibuat oleh The King ini.

Bahkan ketika Darrel mencoba membalas email dari The King, ia tidak bisa mengirimkan email untuk The King. Disebutkan bahwa email yang tercantum tidak terdaftar.

Ketiga lelaki itu saling bertatapan. Mereka yakin bahwa email ini bukanlah hanya sekedar Spam, ataupun Black Mail. Apalagi The King mampu mengetahui Absen dan alamat email masing-masing murid di kelas XI IPS 1. Tidak jauh, pasti pelakunya berada di kelas yang sama. Mereka bertiga yakin bahwa The King berada di 31 murid kelas XI IPS 1, kelas mereka sendiri.

Disaat Terry, Darrel, dan Gilang sedang sibuk berdiskusi. Mereka sampai tidak sadar, bahwa ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka bertiga. Lelaki itu tersenyum kecil, dan berkata...

"Akhirnya... Sesuatu yang menarik akan di mulai..."

To be continued...

Hari Senin dan Ilusi Part. II


Hari Senin dan Ilusi
***

Siang hari yang panas membuat Farren enggan keluar dari rumah, tapi tadi mama memberi perintah untuk pergi ke pasar membelikannya santan dan beberapa sayur. Padahal di rumah ada Dea adik Farren, tapi berdalih bahwa ia akan segera berangkat les siang ini mau tak mau Farrenlah pilihan terakhir mama. Tidak mungkin menyuruh papa karena papa tidak tau bedanya santan dengan susu kental manis. Yang ada bukannya masak sayur mama malah jadi membuat kue.

Sampai di pasar yang tak jauh dari rumah segera Farren mencari pesanan mama. Memang sial bagi Farren, ia malah bertemu dengan Gilang dan segerombolan teman-temannya. Pikiran pertama yang ada di otak Farren adalah, ngapain mereka di pasar? Jangan-jangan… kerja sambilan jadi tukang angkat barang…

Nampaknya Gilang sendiri menyadari keberadaan Farren dan langsung menghampirinya. “Ciyeee! Eh guys, ada sissy boy nih! Liat tuh, belanja ke pasar, mau masak apa mba bro?” ,ucap Gilang disusul tawa teman-temannya sementara Farren hanya diam.

Sebenarnya jika dilihat baik-baik Gilang itu termasuk remaja berwajah cantik, sangat tidak sesuai dengan perangainya yang kasar. Farren menghela nafas, coba saja dia yang berwajah seperti itu, pastilah banyak wanita yang akan menggilainya.

Melihat Farren yang tidak bereaksi Gilang malah jengkel. Dirampasnya belanjaan Farren lalu dihamburkan ke jalanan. Teman-temannya tidak mau tinggal diam, mereka menginjak-injak belanjaan Farren sambil tertawa kegirangan. Lagi, Farren terdiam melongo, pikirnya lagi, emang mereka anak-anak ya? Lompat-lompat gaje sambil injek-injek sayur? Dasar MKKB (masa kecil kurang bahagia)

Puas menginjak belanjaan Farren, Gilang dan teman-temannya pergi sambil tertawa terbahak-bahak. Farren menghela nafas, yang ada dipikirannya sekarang adalah bagaimana mengatakan pada mama tentang masalah belanjaan itu. Sementara Farren tidak membawa dompet untuk membeli lagi belanjaan tadi.

Saat membungkuk mengambil sayuran yang berserakan tiba-tiba dua buah kaki muncul di depan mata Farren. Farren mendongak dan mendapati seorang remaja seusianya menatap Farren serta belanjaan yang berserakan hancur tanpa ekspresi. Wajahnya terlihat lebam di ujung bibir kanan dan bajunya kotor.

“Elu kenapa?” ,tanya Farren. Padahal melihat dari situasinya, harusnya pemuda di hadapan Farren itulah yang bertanya.

Bukannya menjawab pertanyaan Farren, pemuda itu malah balik bertanya, “Kenapa ga beli yang baru?”

“Enggak bawa dompet.” Jawab Farren masih dalam keadaan bingung.

Pemuda itu berbalik meninggalkan Farren dengan seribu tanya di kepala dan sepuluh menit kemudian kembali dengan membawa jawaban dari pertanyaan Farren. Ia membawa belanjaan yang sama dengan yang dibeli Farren tadi lalu menyodorkannya ke Farren.

“Udah ya, gue mesti buru-buru. Elu juga gue saranin cepet pulang.” Ujarnya sambil lalu meninggalkan Farren.

“Eh! Tunggu! Elu siapa sebenarnya? Emang lu buru-buru kemana sambil bawa muka bonyok gitu? Terus kenapa harus cepat pulang??”

“Nama gue Grey, kelas XII SMA Pelita dan gue harus berangkat les sekarang. Bye.” ,tanpa menunggu balasan kata dari Farren pemuda yang bernama Grey itupun berjalan dengan cepat dan menghilang di tengah kerumunan orang bagaikan ilusi.

Kelas XII SMA Pelita? Itukan sekolah gue? Kok gue ga pernah liat atau ketemu ya? Pikir Revan bingung. Tapi ia dengan segera menepis harapan itu. Dari pada kebingungan hari ini lebih baik besok ia mencari tahu tentang Grey di sekolah. Toh, jika mereka memang satu sekolah tidak akan susah mencari informasi tentangnya dari teman-teman.

Tak lama hujan rintik-rintik mulai turun. Untung saja Farren sudah dekat dari rumah. Lamat-lamat hujan rintik berubah menjadi deras sore itu. Saat senja hujan mulai reda dan saat itulah Farren melihat pelangi yang indah. Membuatnya teringat akan kertas yang diremas itu beserta isinnya.
***
Hari ini Farren benar-benar dibuat kebingungan. Yang pertama, tidak ada kakak kelas mereka yang bernama Grey. Yang kedua ulangan dadakan dari Mr. Ahmat mengenai Direct-Indirect speech membuat Farren kelabakan karena ia memang tidak belajar. Yang ketiga, ada surat balasan. Kali ini tidak diremas tapi diselipkan ke dalan pipa yang dipotong sangat pendek.

Oh, jadi elu cowok ya? Sama dong
Hahaha, gimana? Kemarin hujan’kan?
Tapi habis itu pelanginya muncul
Dari kelas ini, dari tempat duduk ini gue ngeliat
Elu liat juga ga?
Tapi bosen nih, pak Hilman ngajarin soal Biologi
Panjang kali lebar alias luas
Padahal mah intinya sama aja

Itulah isinya surat yang kedua. Farren menggeleng kepala geli. Setidaknya dari surat tadi Farren tahu orang itu adalah anak IPA. Hmm… makin lama Farren semakin penasaran. Siapa sebenarnya sosok asli si penulis surat itu. Karena keasyikan melamun Farren tak sadar kalau saat itu sudah pertengahan istirahat. Saat itulah Farren melihat sosok yang sama sekali tidak ia sangka. Gray melewati tepat di samping jendela kelas.
Setengah berlari Farren keluar dari kelas mengejar sosok Grey. Aneh sekali pikir Farren. Padahal saat ini adalah pertengahan istirahat jadi harusnya lorong sepi karena rata-rata siswa pergi ke kantin tapi saat ini lorong justru ramai sekali.

Akhirnya Farren berhenti tepat di simpang tiga lorong sekolah. Sosok Grey menghilang, ia tidak bisa mengejarnya. Rona kecewa terpancar di wajah Farren. Dengan gontai ia berbalik kembali menuju ke kelas. Saat itulah ia mendengar suara isakan. Saat menoleh ke arah ruangan IPA, Farren melihat seorang pemuda tengah menggosok matanya dan setelah dicermati, orang itu ternyata adalah Gilang. Gilang nangis? Kenapa?


To be continued... 

I'M HERE Part. II

Monday, December 10, 2012

*******************
i'm here
::Part 2::
******************* 

"Tiar, kamu kenapa?" tegur seorang wanita berambut panjang yang bernama Intan, dia adalah kakak kandungku. Wajahnya terlihat khawatir dan ia mulai merangkul bahuku.

"Gilang, kak... Mulai detik ini dia udah pergi dari hidupku!" jawabku sambil masih mengatur emosiku.

"Gilang? Gilang siapa?" tanya kak Intan lagi. Aku menatap kedua matanya yang hitam pekat, merasa heran kenapa kak Intan gak tau siapa itu Gilang. Ah... sepertinya dia sudah lupa.

"Itu lho kak... Sahabat aku yang dulu! Yang dulu pernah ngilang selama 7 tahun!" ujarku kemudian. Kak Intan tampak berpikir sesaat, wajahnya terlihat sangat khawatir. Mungkin dia sudah ingat siapa itu Gilang yang aku maksud.

"Ooh... Gilang yang itu? Dari kapan kamu ketemu dia lagi?" tanya kak Intan.

"Delapan bulan yang lalu, kak..." aku menjawab pertanyaan kak Intan sambil menunduk.

"Kamu kenapa gak cerita sama kakak kalau kamu ketemu dia lagi?" kak Intan menanyaiku lagi. Dengan ragu, aku mencoba untuk menatap kak Intan.

"Karena... pasti kakak gak suka kan? Kak Intan pasti marah kalau aku deket-deket sama Gilang lagi. Iya kan kak?" balasku dengan suara yang pelan. Kak Intan hanya tersenyum khawatir. Aku tahu... Dari kecil, kak Intan pasti gak suka kalau aku berteman dengan Gilang.

"Tiar, gini lho... Kamu udah besar. Harusnya kamu... kamu gak kayak gini lagi, sayang." ucapnya sambil memegang wajahku dengan kedua tangannya. Nah kan... aku tau kalau kak Intan bakalan ngomong seperti ini. Aku tau dia gak suka kalau aku dekat-dekat dengan Gilang. Tapi... Kak Intan benar. Harusnya dari dulu aku gak usah dekat-dekat dengan Gilang.

"Udahlah kak, semua itu udah berlalu kok. Sekarang Gilang gak akan gangguin hidup aku lagi. Nah, sekarang aku pamit dulu ya kak. Mau kerumahnya Kirana dulu..." ujarku sambil berdiri dari atas kasurku. Kak Intan hanya menatapku sampai aku keluar dari pintu kamar, sepertinya dia benar-benar khawatir. Hah.. kak Intan memang selalu berlebihan.



******************* 

Sore ini aku sudah sampai tepat di depan gerbang rumahnya Kirana. Ah... ada mobilnya Kirana, asik, berarti dia ada di rumah nih. Untung aja masih ada di rumah. Disaat aku sudah selesai memakirkan mobilku, aku langsung bertemu dengan Mbok yang sedang menyirami tanaman-tanaman.

"Oalah mas Tiar, iki akeh tenan kembang'e" tegur Mbok sambil melihat bunga yang aku bawa.

"Hahaha, iya nih Mbok. Cantik kan bunganya?" sapa ku balik sambil tertawa kecil. "Oh ya mbok, Kirana nya ada di dalem?" tanyaku kemudian.

"Lho, ya anu... anu... saya panggilin dulu ya mas..." jawab Mbok dengan sedikit gelisah. Aku pun langsung melarangnya, dan menawarkan diri untuk masuk memberi surprise ke Kirana.

"Jangan mas, udah saya panggilin aja ya!" nggak. Ini bukan perasaanku aja, tapi keliataannya Mbok emang bener-bener lagi bingung. Sepertinya ada sesuatu yang sedang diumpetin sama Mbok. "Anu mas... di dalem lagi ada tamu. Jadi saya aja yang..."

Tanpa diberi izin, aku langsung menerobos untuk masuk ke rumahnya Kirana.

"Iya sayang... Yang penting kan aku udah gak sama dia lagi..."

"Haha, I told you before, Kirana. Ada yang gak beres sama dia. Kamu tuh gak pantes diperlakukan seperti itu..."

"Aww Denis, I love you..."

Ternyata dugaan aku benar. Ini persis seperti yang ada di dalam mimpi aku. Aku hanya bisa terdiam melihat Denis, dan juga Kirana... yang sedang bermesraan tepat di hadapanku. Hingga akhirnya Kirana sadar akan keberadaanku, ia segera berdiri dari sofa, dan menghampiriku.


"Gak nyangka aku... Semoga kamu bahagia ya, Kirana." aku menaruh bunga yang aku bawa tadi di atas meja ruang tamu Kirana. Dan aku segera keluar rumah Kirana, gak peduli Kirana terus menerus memanggil namaku.

"Tiar...! Tiar!! Wait for me! Biar aku jelaskan!" Kirana memegang lenganku untuk memberhentikan langkahku. Dan akupun berbalik. Menatap matanya dengan penuh emosi.

"How could you do that, Kirana? I thought that you really love me, but I was wrong...! Gak ada yang mesti kamu jelasin lagi, ini semua persis seperti yang di mimpi aku."

"I did really love you, Tiar... so much. Tapi sikap kamu tuh terlalu aneh! Aku gak ngerti harus gimana... It's like... kamu punya dunia kamu sendiri..." jawab Kirana sambil menangis.

Sayangnya, aku sudah tak peduli lagi. Mau dia nangis, atau apa... Akupun langsung menepis tangan Kirana dan berlari menuju parkiran mobilku.

Ternyata Gilang benar....

Harusnya aku mengikuti apa kata sahabatku. Aku memang bodoh.

Tanpa sadar, Mobilku melaju ke depan dengan kecepatan tinggi, sangat tinggi, terlalu tinggi, sehingga awan hitam yang bergulung-gulung di hadapanku tampak menyergap dan menelanku dengan begitu cepat, begitu beda dengan awan gemawan senja di kaca spion yang semarak keemas emasan. Aku melaju di jalan tol dengan kecepatan tinggi bagaikan menuju ke sebuah dunia yang dengan pasti merupakan kegelapan. Segalanya memesona di kaca spion dan segalanya tergandakan di kaca spion, tetapi aku sedang meninggalkannya dengan kecepatan yang tidak tertampung oleh speedometer. Dalam keadaan seperti ini... aku merasa semua kegelisahanku lepas.

Gilang, where are you? I really need you now. Kamu benar, Gilang. Aku yang selalu ngebutuhin kamu. Kamu yang selalu tau kebaikan aku. Cuman kamu yang bisa ngertiin aku. Gilang, please... come back to me.
 

To Be Continued...

Hari Senin dan Ilusi Part. I

Saturday, December 8, 2012

Hari Senin dan Ilusi
part. I
***
Ini bukan ceritaku tapi aku dengan senang hati menceritakannya padamu.
Ini cerita tentang dia dan ‘ilusi’. Maksudnya? Mungkin inilah pertanyaan pertama yang kalian tanyakan tapi abaikanlah. Mulailah gerakan matamu mengikuti alur cerita ini. Biar kau tahu sendiri cerita apa ini dan maksud dari kalimat pernyataan tadi. bukannya aku pelit berbagi informasi, hanya ingin sedikit biarkan kalian berfantasi, dengan khayal diri sendiri.
 
Aku tahu kalian mulai tak sabar. Risih dengan awal yang panjang lebar. Tapi aku sendiri tak paksa kalian untuk membaca. Jika kalian risih palingkan wajah dari layar kaca. Entah itu ponselmu atau televisi, karena cerita ini belum tentu berisi.***
Hari Senin bukanlah hari yang menyenangkan, terutama bagi pelajar. Padahal jika dipikirkan apa
salahnya hari Senin? Bukan dia yang meminta untuk menjadi hari setelah Minggu. Bukan dia juga yang meminta jadi hari pertama dari hari kerja. Tega sekali orang membencinya. Setidaknya itulah yang ada di dalam otak Farren atau nama lengkapnya Farren Oktavio.
 
Farren memang hanya siswa biasa tapi setidaknya dia punya satu kelebihan yang lumayan ia banggakan, bahwa ia menyukai hari Senin. Baginya hari Senin adalah hari pertama kita memulai aktivitas kembali yang tak kita tahu apa yang akan menanti. Itulah yang dinanti-nanti Farren meski ia hanya anak kelas XI SMA biasa.

“Woy Ren, tumben lu pagi-pagi ke kantin hari Senin, biasanya kan hari Senin lu duduk manis diem di kelas,” sebuah suara menyadarkan Farren dari lamunannya. Ia hampir saja lupa kalau ia sedang duduk menikmati bakso mang Ujang di kantin pagi-pagi sekali. Tahu-tahu baksonya sudah dingin.

“Eh, elu Mor, tumben. Biasanya nangkring di kelas Dian dulu. Eh, traktir gue yah? Lagi tipis nih dompet gue! Hehe,” dengan tampang santai Farren langsung ‘memalak’ temannya yang bernama Mori itu.

“Ah! Elu mah tiap ada gue ngakunya tuh dompet tipis mulu! Nyatanya tipis sih iya, tapi isinya yang lembar warna merah lima!” jawab Mori sewot tapi tetap saja ia sambil memesan langsung membayar makan untuk mereka berdua di kasir. “Iya nih, gue lagi bete sama si Dian. Lagi deket dia sama cina kesasar, Gilang!” lanjut Mori setelah kembali duduk.
 
Farren diam. Memang ada masalah antara dia dengan Gilang. Entah kenapa Gilang suka sekali mencari masalah dengan Farren. Gilang merupakan orang Bandung asli tapi entah kenapa wajahnya seperti wajah oriental sehingga banyak perempuan menyukainya karena keimutannya. Tapi Farren sendiri jarang menanggapi Gilang yang sering bertingkah menyebalkan, ia hanya heran.

Bukan hanya Farren yang heran, Mori juga sama. Padahal jika dilihat Farren jelas lebih besar dari Gilang, tapi Gilang masih saja suka menantang Farren. Mungkin karena Farren terlihat sangat biasa dan seolah tidak dapat melawan. Belum lagi ia sering menutupi matanya dengan poni dan kacamata, salah satu hal yang membuat Mori iri karena Farren selalu lolos dari gunting maut guru BP mereka, pak Sonon.
***
Hari pun bergulir berganti menjadi hari Selasa. Bukan hari kesukaan Farren karena hari ini ada pelajaran sejarah. Farren sangat lemah dalam berhapal, tulisannya jelek, dan suaranya datar. Sangat tidak cocok untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan sastra dan sejarah tapi ia lumayan bisa mengerti hitungan. Setidaknya berada di peringkat 10 besar sudah cukup lumayan.

Saat sibuk mencari penghapus di kolong meja, ia menemukan sebuah kertas yang telah diremas. Entah apa dan kenapa, seolah tertarik oleh medan magnet yang diciptakan oleh kertas itu, Farren membuka remasan kertas itu.

Buat siapapun yang baca surat ini

Hei, kenalin, gue cuma pengen kenalan

Oh ya, apa lu tau kalau hari ini bakal ada hujan?

Setelah hujan bakal muncul pelangi

Well, denger-denger guru TIK ga bakal masuk karena sakit perut

Mungkin dia diare kali

Hmm… ngomong-ngomong gimana kabar lu?

Senang bisa kenalan ^~^
 
Farren terkikik geli membaca tulisan di dalam remasan kertas tersebut, mungkin orang yang menulis ini adalah anak kelas dua belas yang tiap sore saat pelajaran tambahan belajar dan duduk disini. Maklum, saat mendekati ujian tiap sore anak kelas dua belas harus turun.
 
Awalnya Farren ingin mengabaikan kertas itu tapi tanpa sadar ia membalas surat itu. Entah kenapa Farren jadi penasaran, siapa gerangan penulisnya? Seperti apa orangnya? Kenapa ia bisa seyakin itu bahwa suratnya akan dibalas?
+to be continued+

I AM REAL

Tuesday, October 30, 2012

I AM REAL
*** 
a story by Sierra, and Credit to IMVU World (Virtual 3D Chat with Avatar)
***

Aku terbangun di suatu tempat, antara sadar dan tidak sadar. Di sekelilingku semuanya terasa berbeda. Lantai yang kupijak, dinding yang ada di sekelilingku, langit-langit ruangan, bahkan diriku sendiripun terasa berbeda. Rasanya tak seperti yang pernah kulihat dan kurasakan selama lima belas tahun masa hidupku. Seperti berada disuatu tempat yang asing, lebih indah, penuh misteri, dan seperti yang kukatakan, tidak nyata.


Aku mengamati sekeliling, masih dengan rasa tak tercaya. Ada sedikit kecemasan karna berada di suatu tempat yang tak kukenal. Namun dibalik kecemasan itu ada pula rasa takjub akan dunia yang baru kupijak saat ini. Ok, aku tak sepenuhnya jujur aku tak mengenal tempat ini. Aku tahu tempat ini, atau setidaknya dunia yang baru kumasuki.

Ini benar-benar gila. Aku tidak mungkin berada disini kan? Aku nyata, dan tempat ini seharusnya tidak nyata. Ini adalah Dunia Maya. Tapi kenyataannya aku berada disini. Jadi apakah tempat ini nyata? Ataukah aku yang tidak nyata? Pikiranku dipenuhi oleh segudang pertanyaan. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih kumiliki, otakku mulai mencoba mengingat-ingat kembali kejadian sebelumnya. Yang terakhir dapat kuingat adalah aku sedang bertengkar dengan ibuku karena suatu masalah.

Ibu ku tidak suka kalau aku terlalu lemah. Ibuku tidak terima kalau aku tidak berperilaku layaknya seorang lelaki normal. Intinya, Ibuku tidak suka kalau anak tunggalnya adalah seorang Gay. Aku rasa.... keputusanku untuk Coming Out kepada ibuku adalah keputusan yang salah. 

Aku capek menjalani hidup ini. Aku butuh pertolongan. Tapi taukah kau kenyataannya? Internet adalah obatku. Ibuku saja yang tidak bisa mengerti. Jadi setelah itu aku berlari ke kamar, membanting pintu keras-keras dan hal selanjutnya menjadi samar-samar. Kemudian aku tak ingat apapun. Dan begitu aku bangun.... aku sudah ada disini, terjebak dalam dunia yang tidak nyata.
______________

Tempat ini berupa sebuah ruangan mewah yang sangat besar. Tak banyak barang-barang memang. Ada beberapa lukisan yang tergantung di dinding, beberapa kursi antik dan hiasan-hiasan indah yang nampak tak nyata. Ya, sekali lagi kubilang, tak nyata! Disalah satu sudut tempat terdapat sebuah kaca besar berukuran setinggi tubuh manusia. Aku menghampiri kaca itu lalu berdiri di depannya. Aku mengenal wajah di depanku. Itu adalah aku, tapi bukan aku yang sesungguhnya. Itu adalah aku yang lain. Aku yang membuat diriku sendiri. Harusnya aku tak mungkin ada disosok ini. Aku yang ini tidak nyata dan tidak mungkin akan menjadi nyata. Apa aku sedang bermimpi? Mungkin saja. Jika benar begitu aku tidak ingin cepat-cepat meninggalkan mimpi ataupun dunia ini.


Penampilanku di kaca seperti yang sudah bisa kuduga, secara keseluruhan aku tampak seperti manusia pada umumnya. Tapi dengan bentuk mata yang lebih indah dari mata biasa, rambut tertata rapi dan berkilau, warna kulit lebih cemerlang, dan bentuk muka yang sedikit berbeda dari umumnya namun memiliki kelebihan yang jarang dimiliki oleh manusia. Inilah hebatnya tinggal di dunia 'ini'. Aku mengenakan hoodie dan skinny jeans berwarna hitam kontras dengan warna kulitku yang terang. 

Aku melihat telinga kucingku bergoyang-goyang di atas kepala dan secuil ekor kecil menggantung di bawah punggungku. Aku tersenyum memandang diriku sendiri di cermin. Memiliki kuping dan ekor kucing, sunggu hal yang tak bisa kudapatkan di dunia nyata...

Sesuatu muncul secara tiba-tiba, atau lebih tepatnya seseorang. Aku menengok kearah datangnya seseorang itu. Dia ada di tempatku pertama kali aku datang. Hal yang luput dariku yaitu aku tak tau bagaimana cara dia datang. Dia tampak seperti tiba-tiba sudah ada disitu dalam sekejap. Bahkan aku pun tak melihat ada pintu yang terbuka. Tapi sesungguhnya sesuatu dalam diriku tahu bagaimana cara dia datang.



Dia seorang lelaki dengan penampilan yang tak jauh beda dari yang sudah kudeskripsikan pada penampilaku sendiri. Bedanya... dia lebih terlihat tampan, sejenis ketampanan yang hanya bisa kau jumpai pada cowok yang paling tampan di majalah-majalah remaja barat atau di gambar-gambar coretan tangan yang sudah profesional. Sempurna, kau bisa menyebutnya begitu. Rambut hitamnya dipotong sesuai gaya rambut remaja sekarang, agak tidak beraturan dan berbeda panjang di beberapa sisi.  Matanya tajam dan sebiru langit dikala cerah. Hidung dan bibirnya indah. Bentuk wajahnya seperti patung porselin yang sudah didesain untuk terpahat sempurna.

Dia mengenakan pakaian serba hitam sepertiku, namun lebih rumit dengan hiasan disana sini. Aku tau di ‘dunia ini’ cowok berdandan tak  kalah hebohnya dari cewek. Jas elegan yang dikenakannya cocok dengan celana hitam ketat yang menutupi kakinya hingga amblas ke sepatu boot berwarna senada. Dia mengenakan syal yang lebih mirip serangkaian bulu binatang berwarna hitam. Apa itu bulu burung? Nah itu dia, itu bulu burung gagak. Aku melihat satu yang hidup bertengger di bahu kirinya. Dia juga menyematkan dua buah katakana yang saling menyilang di belakang pinggang, sarung tangan spike dan gelang-gelang spike masing-masing di lengan dan mata kaki juga di leher yang dipakainya sebagai kalung. Kilatan-kilatan listrik menyambar-nyambar di sekeliling tubuhnya seakan hal itu sudah wajar saja ada. Dan entah darimana aku bisa tau bagaimana harus menyebutnya di kala pertemuan kami  yang pertama ini. Dia MEPHIST0 dengan semua huruf ditulis secara kapital dan angka 0 sebagai pengganti huruf O. Hey, aku bahkan bisa mengeja namanya secara benar. Ini seperti sesuatu yang aku dapat langsung ketahui tanpa harus susah-payah menanyakannya. Kurasa dia pun tau bagaimana harus menyebutku.



“Hi LittleMonster,” dia menyapaku.



“Hello MEPHIST0,” aku pun menjawabnya.



Selanjutnya terjadi percakapan antara kami berdua. Aku sudah memutuskan memasukkan MEPHIST0 dalam daftarku. Ya, semua orang disini punya daftar untuk menggolongkan siapa saja yang disukainya kedalam suatu kelompok yang meraka sebut sebagai "Friend List". MEPHIST0 sudah menjadi temanku. Kami mengobrol cukup lama hingga muncul beberapa orang lagi di ruangan tersebut. Sama sepertiku dan MEPHIST0, orang-orang itu muncul secara tiba-tiba dari suatu tempat.  Rasanya di tempat ini tak ada batasan ruang dan waktu. Lalu MEPHIST0 pun mengajakku pergi kesuatu tempat berlatar belakang senja hari setelah baru beberapa menit sebelumnya  kami mengunjungi tepi danau cerah dengan suasana pagi yang indah. Aneh bukan? Aku tak tau sudah berapa lama aku menghabiskan waktu di tempat ini. Mengobrol bersama MEPHIST0 dan bertemu orang-orang baru, tak pernah merasa lelah ataupun pusing memikirkan kewajiban yang harus dilakukan di dunia yang sesungguhnya, bahkan tak perlu mengkhawatirkan akan menjadi jelek. Benar-benar dunia yang sempurna. Tapi benarkah dunia bisa sesempurna ini? Kalau ‘dunia ini’ benar-benar ada, rasanya aku ingin tinggal selamanya disini.


Tidak. 

Aku tak bisa tinggal selamanya disini. Ini tidak nyata. Aku mencoba memaksakan otak logikaku berkerja. Namun MEPHIST0 dan seluruhnya yang ada disini seakan mengajakku untuk berfikir yang sebaliknya. 



“Ada apa?” tanya MEPHIST0, menyadari aku tak merespon ucapannya.



Aku menggelengkan kepala lalu berbalik lagi memandang wajah MEPHIST0 yang tampan. Benarkah aku bisa menjumpai cowok seperti ini di duniaku?



“Apa kamu capek?” imbuhnya.



“Aku tidak pernah merasa capek jika berada disini. Kupikir kau juga begitu, iya kan?”



“Kau benar. Memangnya ada tempat lain selain disini?”



“Tentu saja. Kita tidak tinggal selamanya disini. Kita punya kehidupan lain yang harus dijalani.”



“Aku tidak tahu kalau ada kehidupan lain selain disini. Sepanjang hidupku aku tinggal disini.”



Ucapan MEPHIST0 sedikit membuatku mengernyitkan dahi. “Kau tidak serius kan? Kita semua punya kehidupan yang lebih nyata dari ini. Ini tidak benar-benar nyata.” Kataku.



“Well, not for me...” Jawaban itu terdengar lirih dari mulut MEPHIST0 sampai hampir-hampir aku tidak bisa menangkapnya bila tidak sungguh-sungguh mendengarkan. "Kau bisa selalu datang di dunia ini... aku akan menunggumu, sampai kita bersama disini selamanya...." ucap MEPHIST0 sambil mencium keningku.



Itu percakapan terakhirku dengan MEPHIST0 sebelum rasanya aku seperti tersedot keluar dari tempatku berada saat itu. Aku masih sempat melihat MEPHIST0 memberiku sepucuk kertas sebelum semua bayangan indah tempat itu memudar bersama MEPHIST0 yang hilang dari pandanganku. Aku membuka mata. Suara gedoran di balik pintu kamarku seakan mendorongku untuk mengangkat kelopak mataku yang sebelumnya terpejam. Aku tidak tidur, tidak juga bermimpi. Aku hanya membayangkan apa yang ingin kulihat dan kurasakan. Sudah setahun ini aku melakukan hal yang sama berulang-ulang. Aku menyebutnya "meloloskan diri dari dunia nyata". Gedoran  di balik pintu kamarku bertambah keras diringi dengan suara ibuku yang memanggil namaku. Aku bangkit dari posisiku duduk bersandar dibalik pintu, membukakan pintu untuk ibuku dan melakukan percakapan singkat lalu menutupnya kembali.


Kali ini aku berhasil lagi melarikan diri sejenak ke ‘duniaku’ yang lain. Tak ada yang tahu hal ini kecuali diriku sendiri. Tenang, aku pun tak berniat memberitahukannya kepada orang lain.  Lagi pula itu hanya ilusi yang kuciptakan sendiri. Bukannya begitu? Tapi apa benar itu sekedar ilusi? Kamarku tampak berbeda. Sebelumnya aku memang meninggalkannya dalam keadaan berantakan dan sekarang pun masih tetap begitu. Tapi kali ini ada sesuatu yang lain. Aku melihat beberapa helai bulu burung gagak tergeletak di lantai kamarku. Bulu itu berwarna sangat hitam sama hitamnya dengan penampilan MEPHIST0 dikala aku bertemu. Lalu aku menyadari sesuatu yang aku lupakan sedari tadi. Aku merasakan benda itu ditanganku. Sebuah kertas dengan tulisan tangan. Aku mengangkatnya. Dikertas itu tertulis sebuah tulisan, jelas bukan tulisan tanganku. Aku membacanya sambil ternganga.





Yang tertulis di kertas itu ialah satu kalimat pendek. Yang membuatku tersenyum....

Akhirnya, pertanyaanku selama ini terjawab juga.


“I AM REAL”   






THE END

I'M HERE Part. 1

Friday, October 12, 2012

*******************
i'm here
::Part 1::
******************* 

Hari ini aku mau kasih surprise lho kepacar aku, namanya Kirana. Kita udah jadian selama 6 bulan, yah... baru sebentar sih. Tapi lumayan lah udah setengah tahun, hehe. Sekarang ini aku sudah bawakan dia bunga dan coklat kesukaannya, hope she loves it. Dengan tampang yang masih berseri-seri, aku turun dari mobil dan segera menegur pembantu yang kerja di rumah Kirana.
"Mbok, Kirananya ada?" tanyaku. 
Mbok terlihat bingung sebentar, lalu tak lama ia menjawab "Iya, den. Ada kok non Kirananya.."
Akupun langsung tersenyum lebar. "Kalo gitu aku kedalem ya mbok. Aku mau kasih surprise ke dia. Hehe," balasku sambil senyum-senyum.
"Wah jangan dulu den, non Kirana lagi ada tamu. Titipin aja ke mbok ya?" kini mbok terlihat gelisah. Berbagai alasan dia melarangku untuk memasuki rumah Kirana. Ada apa ya ini? Aaargh, siapa yang peduli. Akupun langsung menerobos masuk dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya Kirana. Tapi ternyata....
"Hahaha kamu tuh lucu banget ya. Paling bisa deh ngertiin apa mauku," 
Aku mendengar suara Kirana.
Dia sedang menyenderkan kepalanya pada seorang laki-laki yang tampangnya tidak terlalu jelas dimataku. Siapa dia? Dan kenapa... Kenapa Kirana bisa semesra itu dengannya? 
"Kamu tega ya, Kir..."
 *******************
"Woy, yar! Bangun lo... woy!"

Ermghh.. kubuka kedua kelopak mataku dengan berat untuk melihat siapa yang memanggil namaku. Ah... ternyata Gilang.
"Gilang... Aku mimpiin dia lagi," ujarku dengan lemas. Gilang menatapku sebentar lalu menyeringai sesaat.
"Mimpiin Kirana selingkuh lagi?" tanya Gilang.
"Lho? kok kamu tau?" tanyaku bingung.
"Ya orang tadi lo ngigo, jelas lah gue tau.  Lagian lu cerita ke gue kalau lu udah 2 kali mimpiin Kirana yang selingkuh," jawabnya sambil masih asik membaca buku yang ada ditangannya. Benar juga ya... Udah tiga kali aku mempunyai mimpi yang sama. Kenapa ya? Apa ada yang salah sama Kirana? Apa Kirana benar-benar selingkuh?

"Earth to Tiar! That was just a dream, man. A nightmare sih tepatnya... Udah sana lo mandi, telat sekolahnya baru tau rasa lo!" ujar Gilang sambil memberantakan rambutku. Huh, selalu saja begitu.

Yah, walaupun Gilang ini terkesan cuek. Tapi aku betah kok temenen sama dia semenjak aku kecil. Dulu aku sempat sedih waktu dia hilang selama 7 tahun, tapi akhirnya dia balik lagi kesini. Gilang itu satu-satunya sahabat yang bisa ngertiin aku. Cuman dia.

"Yaudah aku mandi dulu ya. Kamu kan udah mandi, langsung ke mobil aja,"

"Oke deh bro, gue tunggu dibawah ya!"
*******************
"Lama banget sih lo, siap-siap ke sekolah aja lamanya minta ampun. Udah kayak cewek aja lo, dandannya lama!" protes Gilang yang sekarang udah lepas dari buku bacaannya. "Lo yang nyetir gih, nebus kesalahan lu karena udah buat gue nunggu lama-lama," lanjutnya. Aku hanya menekukkan wajahku. Huh, biasanya juga aku yang nyetir kok! Pake acara nebus kesalahan segala, alasan banget. Bilang aja males nyetir.

"Ok, let's talk about your nightmare," ucap Gilang tiba-tiba. 

"Aduh, Gilang. Pinter banget sih kamu, baru aja aku mau ngelupain semua mimpi-mimpi aneh itu..." Gilang hanya tertawa melihat aksi protesku. "Btw, kamu gak kuliah kan hari ini? Mau aku anterin sampe rumah?" tanyaku yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Gak usahlah, orang rumah juga tau kalau gue gak pulang. Berarti gue lagi sama lo," jawab Gilang. "Back to Kirana, gimana hubungan lo sama Kirana?" yap, rencanaku gagal. Gilang memang susah banget dialihkan perhatiannya. 

"Kemarin aku liat dia lagi chat di bbm sama seseorang, cuman Kirana kayak nutup-nutupin gitu dari aku Lang..." curhatku ke Gilang.

"Hmm ok, terus lo gak nanya lagi bbm'an sama siapa gitu ke Kirana?"  tanya Gilang sambil berpose ala-ala detective ternama.

"Gak berani aku... Gak ada reason yang jelas buat ngeliat isi handphonenya..." jawabku pasrah. Gilang langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dan menepuk pundakku.

"Lo punya hak buat nanya yar. Makanya lo jangan lama-lama jomblonya, hampir 7 tahun kali ya lo jomblo. Hahaha. Jadinya kalo punya pacar gini kan..." ledek Gilang.

"Yeeee, sialan!" kali ini aku cuman bisa cemberut. Huh! Kalo gak lagi nyetir, udah aku gebuk dia.

"Eh, tapi serius lho. Gue curiga sama orang yang namanya Denis itu. Dulu lo pernah cerita ke gue kan kalo Kirana pernah minta ijin buat pergi nonton sama Denis? Senior dari ekskulnya itu?" tanya Gilang yang masih bertopik Kirana.

"Tapi dia nonton gak cuma berdua kok, katanya sama yang lain..." balasku.

"Lu tuh entah polos entah bego yar. Jelas-jelas cewek itu terkenal dengan muka dua dan pinter merangkai kata-kata. Cewek lo percaya, hahaha," 

Haaah.. mulai deh Gilang. Selalu aja jelek-jelekin cewek. Tapi, mungkin Gilang ada benarnya juga. Soalnya pertama kali aku mimpiin Kirana yang lagi selingkuh, itu semenjak Kirana dekat dengan Denis. Tapi masa iya sih? Rasanya gak mungkin...

"Udah sekarang gini aja deh. Biar lo gak gusar lagi, mending lo telpon Kirana sekarang. Ajak ketemuan setelah lo pulang sekolah terus ceritain ke dia tentang nightmare lo, gimana? Terus lo liat reaksinya..." ujar Gilang sambil menatapku. Akupun menatapnya dengan ragu.

"Serius kamu? Yakin gak ada masalah dengan cara itu?" tanyaku ragu.

"Ya ciyusan lah. Udah sana lo pergi ke kampus, gue turun disini dulu... mau mampir makan, hehe,"

Akupun langsung menghentikan mobilku di salah satu toko untuk menurunkan Gilang. Tapi sebelum Gilang turun, dia ngucapin sesuatu ke aku.

"Semangat bro. Apapun yang terjadi, pasti itu yang terbaik buat lo. OK?" aku hanya mengangguk mendengar kalimat Gilang. Beuh, lebay banget ya dia. Hahaha. Selalu aja dari kecil dia udah sok nasehatin aku.

******************* 
"Hei, sayang! Udah lama nunggunya? Maaf ya lama, tadi aku nyelesein tugas dulu yar..." tegur seorang wanita berparas cantik. Yap, ini dia... Kirana, my lovely one. Aku pun tersenyum dan mempersilahkannya untuk duduk di hadapanku.

"Gak apa-apa kok, aku juga baru aja sampe nih. Oh ya, ini aku udah pesenin minuman kesukaan kamu..." ucapku sambil memberikannya segelas juz alpukat.

"Aww thank you so much, dear. You know me so well..." ia mengambil juz alpukat dari tanganku dan segera meminumnya. "So, how's your day?" tanyanya sambil tersenyum. Oh god, I don't think i can say it to her...

"Well, I'm generally fine. Tapi ada satu hal yang... erm, nothing. Haha, just forget it..."

Kirana menatapku bingung. Dan perlahan dia meraih tanganku, dan menggenggamnya. "What's wrong baby?" tanya wanita berambut panjang itu. Aku hanya bisa terdiam dan tersenyum gelisah. Bagaimana ini? Aku takut kalau ada kata-kata yang salah dari mulutku. Aku takut menyakiti Kirana. "Please tell me..." pinta Kirana sambil mempererat genggamannya. 

"Ok, fine... I'll tell you," Kirana tersenyum mendengar jawabanku. "It's a nightmare, about you..." ucapku dengan setengah tertahan. "In my dream, you're cheatin on me..."

Kirana menatapku heran, dan dia melepas genggaman tangannya. "Jadi maksud kamu, kamu mau tanya ke aku apa itu beneran apa bukan, gitu?" tanya Kirana yang masih mengeriutkan wajahnya.

"Tapi ini udah ketiga kalinya aku mimpiin hal yang sama. So I thought, it might be a clue..." Kirana menatapku dengan kesal. Oh god, sudah kuduga... reaksinya pasti bakal seperti ini.

"You must be joking. Udah yang ketiga kalinya tapi kenapa kamu baru bilang sekarang?"

"Aku cuman gak mau asal nuduh..."

"Jadi kamu nuduh aku sekarang?"

"Bukan, bukan gitu Kirana...."

"You're so.... ck, aku tuh semakin gak nyaman sama sikap kamu. Orang cuman mimpi kok dibawa-bawa ke dunia nyata. Let me guess, ini pasti idenya Gilang? Sahabat kecil kamu yang aneh itu kan?"

"Kirana, watch your mouth. Hati-hati kamu kalau ngomong soal Gilang. Gilang gak ada hubungannya disini..."

"Kenapa? Memangnya aku salah? Gilang emang aneh kok. Kamu selalu ngabisin waktu kamu sama Gilang ketimbang sama aku. Aku ini pacar kamu yar. Dan yang lebih anehnya lagi, sampe detik ini aku gak pernah ngeliat sosok Gilang. Apa jangan-jangan dia cewek kamu? Iya kan yar? Bukan aku yang selingkuh tapi kamu!"

"Wait, Kirana! Gilang itu lagi banyak urusan, panteslah kalau gak sempat ketemu kamu!"

"6 bulan gak ada waktu buat ketemu? Sedangkan sama kamu selalu ada waktu, gitu? Masuk akal gak?"

"Please, stop talking about him!"

" I WON'T! Aku benci Gilang! Entah mau dia cewek kek, cowok kek, yang pasti aku gak suka dia deket-deket kamu! Dan aku udah capek ngeladenin sifat kamu, yar. I love you, but this is not unfair for both of us. So, kita putus aja."

Hancur.

Hancur sudah semuanya. Seharusnya memang lebih baik aku diam saja. Kalau tahu bakalan seperti ini, aku gak bakal ngikutin apa kata Gilang. Kirana benar... semua ini gara-gara Gilang. Aku harus ketemu sama Gilang sekarang.

******************* 
"Welcome back, bro. Cepet banget pulangnya, haha," 

Tanpa membalas sapaannya, aku langsung mendorong Gilang dan mencengkram kaosnya. 

"Kamu bisa-bisanya santai di kamar aku! Punya hati gak sih!?" ucapku dengan nada yang tinggi sambil terus mencengkram baju Gilang. Gilang menatapku dengan ekspresi kaget. 

"Kenapa lo yar?" cuman itu? cuman itu yang dia ucapkan? Dia benar-benar brengsek! 

"Gak seharusnya kamu dateng lagi kesini, Gilang! Udah bagus-bagus kamu ilang selama 7 tahun. Tapi kenapa lo tiba-tiba muncul lagi disaat aku nemuin cewek yang pas buat aku!?"

Gilang menepis tanganku, dan langsung menukar posisinya denganku. Kini dia yang menindihiku.

"Maksud lu apa? Gue gak pernah ya muncul tiba-tiba. Elo yang manggil gue. Elo yang butuhin gue tiap saat," 
"Not anymore, lang! You ruin my life! My love life!"

"Your love life?" Gilang menyeringai sesaat, kini tangannya memegang daguku. Dia memaksaku untuk menatap kedua bola matanya yang hitam pekat. "Biar gue ingetin ke lo. Inget waktu dulu, waktu lo dikhianati  dengan yang namanya 'wanita' ? Dan lo masih bisa percaya dengan yang namanya 'wanita' ? Let me remind this for you, YOU DON'T SHARE YOUR LIFE WITH GIRLS! Can't you see that?" 
"Aku bisa!" jawabku dengan lantang sambil menepis tangannya dari daguku. "Aku sayang banget sama Kirana, lang! Dan sekarang kita putus gara-gara kamu nyaranin hal yang sesat! Puas lo!??"
"What? Ok.. ok. Just calm down. Gue cuman bisa nuntun lo supaya lo bisa nurutin apa kata hati lo. Lo gak bisa disadarin terus sama gue kan? Lo mesti belajar, supaya lo bisa tegas dengan diri lo sendiri."
"Nggak! Alasan saja! Aku gak pernah butuhin kamu. Dan kamu dateng lagi dikehidupan ku karena aku punya cewek kan? Kamu gak pernah suka kan kalau aku punya cewek? iya kan!? Kamu gak pernah rela kan?"
"Tiar, calm down!" Gilang mencoba memelukku. Tapi aku melunjak. Gak akan pernah sudi aku dekat-dekat dengan dia lagi. "Kalau gue gak penting buat lo... mana mungkin selama ini lo dengerin kata-kata gue? Mana mungkin lo curhat semua tentang hidup lo ke gue? You need me..."
"Nggak! Aku gak butuh kamu, Gilang. Sekarang pergi dari hidupku, atau aku yang mesti musnahin kamu? ayo, jawab!"
"Ok, I'm going out. Tapi lo gak bakal bisa musnahin gue. Karena lo butuh gue. Karena lo bagian dari gue. Lo tau banget seberapa pentingnya gue buat lo. Don't ever deny it, for a second time," Gilang mengusap rambutku... seperti biasanya. Tapi aku langsung menepisnya.
Gilang mengehela nafas panjang, dan segera menuju pintu kamar untuk keluar. Tapi sebelum dia sepenuhnya pergi dari ruangan ini, dia menengok kebelakang. Kembali menatapku. "Lo harus inget satu hal, Tiar. You created me..." dan setelah itu... dia meninggalkan ruangan ini.