I'M HERE Part. II

Monday, December 10, 2012

*******************
i'm here
::Part 2::
******************* 

"Tiar, kamu kenapa?" tegur seorang wanita berambut panjang yang bernama Intan, dia adalah kakak kandungku. Wajahnya terlihat khawatir dan ia mulai merangkul bahuku.

"Gilang, kak... Mulai detik ini dia udah pergi dari hidupku!" jawabku sambil masih mengatur emosiku.

"Gilang? Gilang siapa?" tanya kak Intan lagi. Aku menatap kedua matanya yang hitam pekat, merasa heran kenapa kak Intan gak tau siapa itu Gilang. Ah... sepertinya dia sudah lupa.

"Itu lho kak... Sahabat aku yang dulu! Yang dulu pernah ngilang selama 7 tahun!" ujarku kemudian. Kak Intan tampak berpikir sesaat, wajahnya terlihat sangat khawatir. Mungkin dia sudah ingat siapa itu Gilang yang aku maksud.

"Ooh... Gilang yang itu? Dari kapan kamu ketemu dia lagi?" tanya kak Intan.

"Delapan bulan yang lalu, kak..." aku menjawab pertanyaan kak Intan sambil menunduk.

"Kamu kenapa gak cerita sama kakak kalau kamu ketemu dia lagi?" kak Intan menanyaiku lagi. Dengan ragu, aku mencoba untuk menatap kak Intan.

"Karena... pasti kakak gak suka kan? Kak Intan pasti marah kalau aku deket-deket sama Gilang lagi. Iya kan kak?" balasku dengan suara yang pelan. Kak Intan hanya tersenyum khawatir. Aku tahu... Dari kecil, kak Intan pasti gak suka kalau aku berteman dengan Gilang.

"Tiar, gini lho... Kamu udah besar. Harusnya kamu... kamu gak kayak gini lagi, sayang." ucapnya sambil memegang wajahku dengan kedua tangannya. Nah kan... aku tau kalau kak Intan bakalan ngomong seperti ini. Aku tau dia gak suka kalau aku dekat-dekat dengan Gilang. Tapi... Kak Intan benar. Harusnya dari dulu aku gak usah dekat-dekat dengan Gilang.

"Udahlah kak, semua itu udah berlalu kok. Sekarang Gilang gak akan gangguin hidup aku lagi. Nah, sekarang aku pamit dulu ya kak. Mau kerumahnya Kirana dulu..." ujarku sambil berdiri dari atas kasurku. Kak Intan hanya menatapku sampai aku keluar dari pintu kamar, sepertinya dia benar-benar khawatir. Hah.. kak Intan memang selalu berlebihan.



******************* 

Sore ini aku sudah sampai tepat di depan gerbang rumahnya Kirana. Ah... ada mobilnya Kirana, asik, berarti dia ada di rumah nih. Untung aja masih ada di rumah. Disaat aku sudah selesai memakirkan mobilku, aku langsung bertemu dengan Mbok yang sedang menyirami tanaman-tanaman.

"Oalah mas Tiar, iki akeh tenan kembang'e" tegur Mbok sambil melihat bunga yang aku bawa.

"Hahaha, iya nih Mbok. Cantik kan bunganya?" sapa ku balik sambil tertawa kecil. "Oh ya mbok, Kirana nya ada di dalem?" tanyaku kemudian.

"Lho, ya anu... anu... saya panggilin dulu ya mas..." jawab Mbok dengan sedikit gelisah. Aku pun langsung melarangnya, dan menawarkan diri untuk masuk memberi surprise ke Kirana.

"Jangan mas, udah saya panggilin aja ya!" nggak. Ini bukan perasaanku aja, tapi keliataannya Mbok emang bener-bener lagi bingung. Sepertinya ada sesuatu yang sedang diumpetin sama Mbok. "Anu mas... di dalem lagi ada tamu. Jadi saya aja yang..."

Tanpa diberi izin, aku langsung menerobos untuk masuk ke rumahnya Kirana.

"Iya sayang... Yang penting kan aku udah gak sama dia lagi..."

"Haha, I told you before, Kirana. Ada yang gak beres sama dia. Kamu tuh gak pantes diperlakukan seperti itu..."

"Aww Denis, I love you..."

Ternyata dugaan aku benar. Ini persis seperti yang ada di dalam mimpi aku. Aku hanya bisa terdiam melihat Denis, dan juga Kirana... yang sedang bermesraan tepat di hadapanku. Hingga akhirnya Kirana sadar akan keberadaanku, ia segera berdiri dari sofa, dan menghampiriku.


"Gak nyangka aku... Semoga kamu bahagia ya, Kirana." aku menaruh bunga yang aku bawa tadi di atas meja ruang tamu Kirana. Dan aku segera keluar rumah Kirana, gak peduli Kirana terus menerus memanggil namaku.

"Tiar...! Tiar!! Wait for me! Biar aku jelaskan!" Kirana memegang lenganku untuk memberhentikan langkahku. Dan akupun berbalik. Menatap matanya dengan penuh emosi.

"How could you do that, Kirana? I thought that you really love me, but I was wrong...! Gak ada yang mesti kamu jelasin lagi, ini semua persis seperti yang di mimpi aku."

"I did really love you, Tiar... so much. Tapi sikap kamu tuh terlalu aneh! Aku gak ngerti harus gimana... It's like... kamu punya dunia kamu sendiri..." jawab Kirana sambil menangis.

Sayangnya, aku sudah tak peduli lagi. Mau dia nangis, atau apa... Akupun langsung menepis tangan Kirana dan berlari menuju parkiran mobilku.

Ternyata Gilang benar....

Harusnya aku mengikuti apa kata sahabatku. Aku memang bodoh.

Tanpa sadar, Mobilku melaju ke depan dengan kecepatan tinggi, sangat tinggi, terlalu tinggi, sehingga awan hitam yang bergulung-gulung di hadapanku tampak menyergap dan menelanku dengan begitu cepat, begitu beda dengan awan gemawan senja di kaca spion yang semarak keemas emasan. Aku melaju di jalan tol dengan kecepatan tinggi bagaikan menuju ke sebuah dunia yang dengan pasti merupakan kegelapan. Segalanya memesona di kaca spion dan segalanya tergandakan di kaca spion, tetapi aku sedang meninggalkannya dengan kecepatan yang tidak tertampung oleh speedometer. Dalam keadaan seperti ini... aku merasa semua kegelisahanku lepas.

Gilang, where are you? I really need you now. Kamu benar, Gilang. Aku yang selalu ngebutuhin kamu. Kamu yang selalu tau kebaikan aku. Cuman kamu yang bisa ngertiin aku. Gilang, please... come back to me.
 

To Be Continued...

I AM NOT FUDAN! Part. 2

Saturday, December 8, 2012

I AM NOT FUDAN!
Part. 2
***
Masih pada inget gue kan? Nama gue Andre, umur 17 tahun, dari luar gue cuman berperan sebagai layaknya murid SMA biasa. Tapi ada satu rahasia yang gue simpen... yaitu mempunyai pekerjaan freelance sebagai mangaka eroge. Kehidupan gue selama ini baik-baik saja.... tapi....

"Sensei~ Aku seneeeeng banget ketemu mangaka pro seperti sensei~" ujar seorang lelaki yang tadinya bersifat tsundere kini berubah layaknya cewek-cewek moe di manga. KUSO!!! APA YANG GUE SEBUT TADI!? MOE!?? NO! Mikir apa sih gue ini... sadar dong 'Ndre, dia itu Vian yang sering ceramahin elu. Yang sering ngomelin elu. Gak mungkin cowok kayak dia bisa dibilang Moe!

"Sensei..." Vian mulai meraih kedua tangan gue dari atas meja gue. Dan dia menggenggamnya. Wait... dan dia apa? "Sensei~ maukah kau mendampingiku... untuk membuat manga Yaoi~?"

"DAFUQ!??? YAOI!?? NOOOOOOOO! GUE GAK BAKALAN GAMBAR KOMIK YANG CERITANYA TENTANG COWOK SAMA COWOK YANG LAGI CIUMAN ATAU LAGI XXX!! NO WAY! EVER! WALAUPUN LU CIUM GUE JUGA GAK BAKALAN GUE BIKIN KOMIK KAYAK GITU!!!"

"..............."

Hening.

Entah perasaan gue aja... atau gue beneren lagi diliatin sama anak-anak sekelas ya? Nggak.... GUE BENERIN DILIATIN SAMA ANAK-ANAK SEKELAS!

"Hahahaha, tadi gue bercanda kok. Gak usah pada serius kali, HAHAHA. Hahaha. Haha..." setelah gue berkata begitu, akhirnya anak-anak sekelas pada lanjut asik sendiri-sendiri lagi. Fiuh, aman.... sialan, gara-gara bocah yang bernama Vian ini. Kuso!!!

"Ne~ Sensei~ ngomongnya jangan keras-keras, nanti rahasia yang kita simpan berdua ketauan sama teman-teman sekelas lho..." bisik Vian pelan ditelinga gue, dengan jarak yang sangat sangat dekat..... dan itu ngebuat gue....

"AAAARGH!!! NGAPAIN LU BARUSAN!?? JANGAN NIUP-NIUP KUPING GUE!!!"

"Aha~ Sensei sensitive banget ya... Kawaii~"

Anjrit, gue lebih milih Vian jadi tsuntsun tanpa dere dari pada Vian yang bersikap seperti tokoh-tokoh Moe kayak sekarang!! Kamisama, aku tau kau telah mengabulkan permintaanku agar aku bisa dipertemukan dengan teman satu seperjuangan. Tapi... INI BEDA JALUR!!

Gue punya mimpi sebagai mangaka pro di genre Ero. Alias Hentai. Tapi kalau Vian... dia punya mimpi sebagai mangaka pro spesialis Yaoi. iya, YAOI. YE-A-YA-YO-I-YI, YAOI!! Yaoi adalah salah satu genre dimana ceritanya berfokus pada seorang lelaki yang jatuh cinta dengan seorang lelaki juga. Wait, KENAPA GUE JADI JELASIN YAOI!!!??

"Ne... sensei... Hari ini sensei bisa datang ke rumah ku gak?"

APALAGI SEKARANG!?? Ke-kenapa tiba-tiba Vian ngajakin gue kerumah dia!?? Vian... apa yang sebenarnya lu rencanain!!??

"Nggak bisa! Gue sibuk!" tolak gue sambil melipat keduatangan gue di depan dada gue.

"Hoo~ jadi lu lagi sibuk ya? Ngomong-ngomong hari ini lu telat, dan gue nolongin lu dari guru BP lho. Gimana ya kalau guru BP tau kalau lu telat lagi? Bisa-bisa ortu lu dipang..."

"GUE IKUT!! MAU ADA ANGIN TOPAN MELANDA JUGA GUE TETEP DATENG KERUMAH LO! PUAS LO VIAN!??"

"Yatta~ Sensei baik banget deh~"

Kamisama... Oh janshin... Oh lord... Oh god... Sebenernya apa salah aku sampai kau memberikan ujian ini kepadaku??

Vian itu cowok. Dan dia suka Yaoi. Terus dia ngajakin gue kerumahnya...

Nggak, nggak... Apapun yang terjadi gue mesti tetep sama pendirian gue untuk menjadi mangaka Ero yang pro. Bukan yaoi, tapi ERO!! Gue gak bakalan kebujuk sama jebakan-jebakan yang bakal dia pake pas nanti gue kerumah dia. Gue gak bakalan terpengaruh sama muka Bishounennya Vian. Mau dia crossdress jadi maid juga gak bakalan ngaruh ke gue buat suka sama genre Yaoi. Walaupun dia naked dan cuman pake apron pun juga gak bakalan gue serang dia, cium dia, dan desahannya juga gak bakal ngebuat gue.... Wait, KENAPA GUE JADI MIKIR HAL MACEM-MACEM SOAL VIAN!!?? Siapapun... BUNUH GUE SEKARANG!! GUE UDAH GILA!

---------------------------------------------
Depan Rumahnya Vian
 ---------------------------------------------

Ok, sekarang udah jam 4:15, dan saat ini udah tepat 15 menit gue berdiri di depan rumahnya Vian. Kuso! Kenapa gue jadi deg-degan gini!?? Tinggal pencet tombol bel doang... tapi... tapi... arrrgh!!

"Aih, kamu pasti temennya Vian ya?" tegur seorang wanita cantik yang baru saja keluar dari pintu gerbang rumahnya Vian. HEEE!?? Siapa dia!? Kenapa Vian gak pernah cerita kalau dia tinggal bersama cewek cantik ini!?? A-aaaa kawaii! "Hmm... siapa ya tadi namanya... Ah, iya! Kamu yang namanya Andre kan?"

"Aaah haha, iya iya. Saya Andre, temen sekelasnya Vian..."

"Wah, kalau gitu langsung masuk aja. Kamarnya Vian ada di lantai dua, disana cuman ada satu kamar, nah... itu kamarnya Vian. Kamu langsung ke kamarnya aja ya, tante lagi ada urusan sebentar. Selamat bersenang-senang~"

Ta-tante dia bilang? M-masaka... Dia ibunya Vian!?? Gila... muda banget. Kawaii lagi. Daripada jadi ibu, lebih pantes jadi kakaknya Vian. Hah.... keluarga aneh.

"Permisi~" ucap gue sambil memasuki rumah Vian. Hoo... keliatannya gak ada orang. Oke, kayaknya gue langsung ke lantai dua aja deh. Cuman ada satu kamar kan? Berarti yang ini... Pake ketok dulu gak ya? Nggak usah deh. Sekalian mau ngagetin. HAHAHA. RASAIN!

Oke... Ambil nafas. 1.... 2....

BRAAAK!!

"DOOORRR!!!!"

".........."

Saat ini... di depan gue ada Vian yang lagi memakai CD. Iya, CD... celana dalem. Pantsu. Itu tandanya? Vian yang ada di hadapan gue sekarang ini keadaannya masih naked. Dan dia masih bengong ngeliat gue yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. Oke, gue sendiri gak tau harus berbuat apa... tapi yang jelas, gue punya perasaan gak enak untuk tiga detik kemudian.... 1.... 2....

"GYAAAAAAAA!!!!!! ANATA WA HENTAI NO BAKA YARO DESU!!!"

BRUGGGH!!

Dengan tendangan side-kick Vian yang mengarah tepat dihadapan muka gue, gue pun terjatuh dan terlempar ke luar kamar.

"A-ara... Sensei...! Daijoubu, ka? Gomenne... aku gak bermaksud nendang sensei lho tadi. Habisnya sensei tiba-tiba masuk kamar sih...."

"Hahaha. Udah lupain aja, slow aja..."

Sebenernya... gue masih kesel karena tiba-tiba ditendang. Lagian dia lebay banget, udah tau sama-sama cowok... kenapa juga mesti malu? Gue juga gak bakal ngelirik kok. Gue sendiri kan punya. Hah... Ada-ada aja deh. Tapi yaudahlah, untung nih anak lagi bersikap moe. Jadi bisa gue tolerir lah.

"Sini Sensei... biar aku bantuin berdiri." tanpa aba-aba Vian langsung narik tangan gue. Tapi, karena gak balance.... Vian pun kepleset dan kepalanya hampir jatuh kena lantai. Sebelum itu terjadi, gue cepet2 mindahin posisi gue sama Vian. Dan akhirnya.... gue jatuh.... untuk yang kedua kalinya.

"Sensei....!!!"

"Ermngh.. lu gak apa-apa 'Yan?" dengan sedikit meringis, gue coba ngebuka mata gue... dan... GOD!! HE'S SO CLOSE TO ME!!! Cuman tinggal beberapa senti lagi... gue yakin bibir gue bakalan kena bibir dia!! "S-sorry...!!" ujar gue lanjut sambil ngelepas pelukan gue ke Vian. Duh... bisa gila gue lama-lama disini...

"Aku gak apa-apa kok sensei... A-Arigatou..."

K-kawaii...!! Gue gak pernah bayangin sama sekali... kalau seorang Vian si ketua kelas yang galak itu...Bisa blushing layaknya karakter-karakter MOE di komik Shoujo. Kalau di adegan-adegan manga ero nih... pasti kita udah ngelakuin xxxx. Aaaargh!! Get real, MAN!! You're guy, and he's a guy!! KUSO!!

"Ah ya... masuk aja sensei. Ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan ke sensei..."

Sesuatu?? Yang ingin diliatin ke gue? Kira-kira apa ya?

Sambil menunggu Vian yang sedang mengambil "sesuatu" itu, gue cuman duduk sambil liat-liat ruangan kamarnya Vian. Hoooo, ternyata lumayan rame juga nih kamarnya. Beneren masih gak percaya gue.... Kalau si perfectsionis Vian ternyata seorang Otaku juga, dan ternyata orangnya careless gitu.

"Sensei... ini...." Vian ngasih gue beberapa lembar kertas, dan setelah gue liat kertasnya. UWO!? I-ini... "Itu manga buatanku, sensei. Bukan Yaoi sih... Masih kadar Shounen-Ai aja... Karena aku lebih suka menonjolkan kisah cintanya aja. Coba sensei baca, aku butuh pendapat sensei!!"

Ah.... ternyata dia ngundang gue kesini cuman buat ini toh. Gue kira apaan.... Hah... bisa-bisanya gue mikir yang macem-macem. Tau ah, mending gue liat karyanya Vian dulu.

Wow... ternyata gambarnya Vian bagus juga. Tapi...

"Hmm... sepertinya ada yang kurang..." ujar gue pelan.

"Hontou ni!? Apa itu, sensei?"

"Pas disini.... Waktu si cowok pertama ngedempet cowok kedua ke tembok. Harusnya ada adegan lebih dari ciuman, misalnya... si cowok kedua dilempar ke kasur, dan cowok pertama mulai melucuti baju..... Wait.... KENAPA GUE BERKOMENTAR KAYAK GINI!!!!!???"

"Aaaaah~ ternyata di dalam diri sensei, sensei punya bakat buat bikin alur cerita Yaoi ya~ Kalah deh aku, aku aja cuman bisa shounen-ai~"

"Nggak, 'Yan! Gue gak ada minat dan sama sekali gak minat dengan dunia Yaoi, Shounen-Ai, dan sebagainya. Oke? GUE GAK MINAT!! TITIK!!!"

"Aha~ Tapi sensei masih berminat buat meraih mimpi bersamaku kan~?"

Kamisama.... tatsukette kudasai.......!!!!!!!

Entah apa yang akan terjadi selanjutnya kalau gue masih tetep terus bersama Vian untuk meraih mimpi gue sebagai mangaka pro. Kuatkan dirimu Ndre, jangan sampe dirimu masuk ke dalam dunia Yaoi!!
 

ToBeContinued

Hari Senin dan Ilusi Part. I


Hari Senin dan Ilusi
part. I
***
Ini bukan ceritaku tapi aku dengan senang hati menceritakannya padamu.
Ini cerita tentang dia dan ‘ilusi’. Maksudnya? Mungkin inilah pertanyaan pertama yang kalian tanyakan tapi abaikanlah. Mulailah gerakan matamu mengikuti alur cerita ini. Biar kau tahu sendiri cerita apa ini dan maksud dari kalimat pernyataan tadi. bukannya aku pelit berbagi informasi, hanya ingin sedikit biarkan kalian berfantasi, dengan khayal diri sendiri.
 
Aku tahu kalian mulai tak sabar. Risih dengan awal yang panjang lebar. Tapi aku sendiri tak paksa kalian untuk membaca. Jika kalian risih palingkan wajah dari layar kaca. Entah itu ponselmu atau televisi, karena cerita ini belum tentu berisi.***
Hari Senin bukanlah hari yang menyenangkan, terutama bagi pelajar. Padahal jika dipikirkan apa
salahnya hari Senin? Bukan dia yang meminta untuk menjadi hari setelah Minggu. Bukan dia juga yang meminta jadi hari pertama dari hari kerja. Tega sekali orang membencinya. Setidaknya itulah yang ada di dalam otak Farren atau nama lengkapnya Farren Oktavio.
 
Farren memang hanya siswa biasa tapi setidaknya dia punya satu kelebihan yang lumayan ia banggakan, bahwa ia menyukai hari Senin. Baginya hari Senin adalah hari pertama kita memulai aktivitas kembali yang tak kita tahu apa yang akan menanti. Itulah yang dinanti-nanti Farren meski ia hanya anak kelas XI SMA biasa.

“Woy Ren, tumben lu pagi-pagi ke kantin hari Senin, biasanya kan hari Senin lu duduk manis diem di kelas,” sebuah suara menyadarkan Farren dari lamunannya. Ia hampir saja lupa kalau ia sedang duduk menikmati bakso mang Ujang di kantin pagi-pagi sekali. Tahu-tahu baksonya sudah dingin.

“Eh, elu Mor, tumben. Biasanya nangkring di kelas Dian dulu. Eh, traktir gue yah? Lagi tipis nih dompet gue! Hehe,” dengan tampang santai Farren langsung ‘memalak’ temannya yang bernama Mori itu.

“Ah! Elu mah tiap ada gue ngakunya tuh dompet tipis mulu! Nyatanya tipis sih iya, tapi isinya yang lembar warna merah lima!” jawab Mori sewot tapi tetap saja ia sambil memesan langsung membayar makan untuk mereka berdua di kasir. “Iya nih, gue lagi bete sama si Dian. Lagi deket dia sama cina kesasar, Gilang!” lanjut Mori setelah kembali duduk.
 
Farren diam. Memang ada masalah antara dia dengan Gilang. Entah kenapa Gilang suka sekali mencari masalah dengan Farren. Gilang merupakan orang Bandung asli tapi entah kenapa wajahnya seperti wajah oriental sehingga banyak perempuan menyukainya karena keimutannya. Tapi Farren sendiri jarang menanggapi Gilang yang sering bertingkah menyebalkan, ia hanya heran.

Bukan hanya Farren yang heran, Mori juga sama. Padahal jika dilihat Farren jelas lebih besar dari Gilang, tapi Gilang masih saja suka menantang Farren. Mungkin karena Farren terlihat sangat biasa dan seolah tidak dapat melawan. Belum lagi ia sering menutupi matanya dengan poni dan kacamata, salah satu hal yang membuat Mori iri karena Farren selalu lolos dari gunting maut guru BP mereka, pak Sonon.
***
Hari pun bergulir berganti menjadi hari Selasa. Bukan hari kesukaan Farren karena hari ini ada pelajaran sejarah. Farren sangat lemah dalam berhapal, tulisannya jelek, dan suaranya datar. Sangat tidak cocok untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan sastra dan sejarah tapi ia lumayan bisa mengerti hitungan. Setidaknya berada di peringkat 10 besar sudah cukup lumayan.

Saat sibuk mencari penghapus di kolong meja, ia menemukan sebuah kertas yang telah diremas. Entah apa dan kenapa, seolah tertarik oleh medan magnet yang diciptakan oleh kertas itu, Farren membuka remasan kertas itu.

Buat siapapun yang baca surat ini

Hei, kenalin, gue cuma pengen kenalan

Oh ya, apa lu tau kalau hari ini bakal ada hujan?

Setelah hujan bakal muncul pelangi

Well, denger-denger guru TIK ga bakal masuk karena sakit perut

Mungkin dia diare kali

Hmm… ngomong-ngomong gimana kabar lu?

Senang bisa kenalan ^~^
 
Farren terkikik geli membaca tulisan di dalam remasan kertas tersebut, mungkin orang yang menulis ini adalah anak kelas dua belas yang tiap sore saat pelajaran tambahan belajar dan duduk disini. Maklum, saat mendekati ujian tiap sore anak kelas dua belas harus turun.
 
Awalnya Farren ingin mengabaikan kertas itu tapi tanpa sadar ia membalas surat itu. Entah kenapa Farren jadi penasaran, siapa gerangan penulisnya? Seperti apa orangnya? Kenapa ia bisa seyakin itu bahwa suratnya akan dibalas?
+to be continued+