Zero to Hero Part. 1

Wednesday, October 17, 2012

Z to H: New Member
---
~ Julian POV ~

Alkisah disalah satu SMA yang terletak di kota Bogor, terdapat perlakuan yang berbeda antara anak jurusan IPA dan IPS. Mereka terlalu meng-anak-emaskan murid-murid yang masuk di jurusan IPA dibanding anak IPS. Kenapa aku bisa mengambil statement begitu? Tentu aku bisa menjelaskannya. Pertama, di SMA itu terdapat 6 kelas IPA, sedangkan IPS hanya memiliki satu kelas. Kedua, anak-anak IPS cenderung dikatakan sebagai anak buangan dari IPA, sedangkan anak IPA selalu dipuji-puji. Ketiga, jika anak IPS melakukan kesalahan, pasti langsung diingat-ingat oleh guru. Sedangkan anak IPA selalu dimaafkan oleh guru-guru. Sangat tidak adil bukan? Padahal kalau menurutku, bukankah IPA dan IPS sama saja derajatnya?

Oke, perlakuan diskriminasi itu memang tidak baik. Aku mencoba untuk meluruskan pikiran mereka agar bisa memandang positive siswa-siswi jurusan IPS, namun...

"Kalau bapak memang mau membela mereka, maka sebaiknya anda menjadi wali murid mereka saja?"

"Benar sekali! Apalagi di kelas XII IPS 1 kan belum ada wali kelasnya, sebaiknya bapak aja yang menjadi wali kelasnya!"

"Selama puluhan tahun saya mengajar, saya belum pernah melihat guru yang memandang positive siswa-siswa jurusan IPS disekolah ini."

"Aih, aih...."

Aku? Jadi wali kelas anak IPS!? Tunggu, aku ini baru saja menjabat jadi seorang guru... Kenapa tiba-tiba jadi wali kelas!?

"Baiklah, karena banyaknya permintaan... Saudara Juliano Rizard, anda telah resmi menjadi wali kelas di XII IPS 1. Selamat!"

Bisa-bisanya si kepsek yang mirip Mario Bross itu mengucapkan selamat untukku!? Ini bukan kabar yang menggembirakan, THIS IS DISASTER! Ya tuhan, apa salahku sehingga harus memikul tanggung jawab yang berat ini? Kalau aku bisa nangis darah, pasti aku udah meninggal sekarang...

Coba bayangkan, mana ada sekolah yang seenak jidat milih wali kelas? Apalagi yang dipilih itu adalah seorang pemuda berumur 18 tahun yang baru saja menjabat sebagai guru Bahasa Indonesia plus masih menjabat sebagai guru honor bukan tetap... Ada gak yang seperti itu? Nggak kan? Memang sekolahan ini sekolahan yang paling stress yang baru kutemui seumur hidup!

Akupun disuruh ke kelas XII IPS 1 untuk memperkenalkan diri dan berkenalan dengan mereka. Kebetulan, hari ini adalah hari pertama mereka masuk sekolah lagi, jadinya aku gak perlu repot-repot mengajar dihari pertama.

Dari depan pintu XII IPS 1 ini, bisa terdengar suara-suara orang yang lagi teriak-teriak, buset... Ini pasar atau ragunan ya? Hah, mau bagaimanapun juga, aku mesti masuk ke kelas yang aku puji-puji di depan guru tadi.

CKREK!

Kubuka pintu itu seakan-akan aku memasuki pintu neraka... Ok, itu lebay! Baru satu langkah aku menginjakkan kaki di kelas XII IPS 1, rasanya... Rasanya tuh kayak... Kayak kita mau masuk ke kelas yang belum pernah kita kunjungin sebelumnya. Garing banget gue. Oke, kembali fokus. Baru satu langkah aja memasuki ruangan kelas ini, semua mata tertuju padaku. Mending kalau tatapannya ramah, lah ini? Ada yang natap aku tajam, ada juga yang natap aku dengan tatapan yang boring.

Ok, ok... Tenang... Stay cool... Stay cool... Stay cool... Tarik nafas, keluarkan... Tarik nafas, keluar...

"Siapa sih?"
"Tau? Guru baru kali?"
"Hah? Guru bau!?"
"Hahahaha!"

Ampun deh, baru gue masuk aja udah dihina-hina gini! Mestinya gue gak usah sok tau jadi guru baru disini... Dikira anak IPS nya tuh baik-baik, nasib banget dah jadi orang sok tau.

"Siap! Beri salam!" kali ini ada suara seorang lelaki yang sangat lantang, bisa kutebak kalau dia ketua kelas di kelas ini.

"Selamat pagi, pak!" ucap mereka semua dengan serentak. Erm, walaupun ada dari mereka yang masih tetap diam.

"Selamat pagi, anak-anak. Aku...er, maksud saya, nama saya Juliano Rizard. Guru Bahasa Indonesia kalian yang baru, sekaligus saya juga akan menjadi wali kelas kalian selama satu tahun ini."

"............"

Hening. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka. Bahkan mereka semua menatapku dengan tatapan yang boring nan garing. Mama, bawa aku pulang sekarang juga! Sedih banget sih nasib aku yang jadi guru kayak gini... Sumpah, dicuekin itu bener-bener gak enak rasanya. Sekarang aku baru bisa ngerasain perasaan guru-guruku dulu yang selalu dicuekin oleh murid-muridnya... MAAFKAN AKU GURU!!

Oke, back to the real world. Walaupun rencana pertama gagal, biar kupakai rencana keduaku. Supaya mereka lebih bisa mengenaliku lebih dekat. Aku menuliskan nama lengkapku di white board. Kujelaskan tentang latar belakangku sedikit, alasan kenapa aku bisa menjadi guru, dan sebagainya. Tetap saja mereka masih diam! Ampuuuun, apa salah gue!?

"Yak, itulah sedikit perkenalan dari saya. Uhmm, karena saya belum mengenal kalian semua, jadi tolong ya perkenalkan diri kalian masing-masing? Dimulai dari yang paling pojok sebelah kiri!" mendengar seruanku tersebut. Seorang laki-laki berkulit putih itu langsung berdiri dan memperkenalkan dirinya.

"Nama saya Rangga, pak!" ucap lelaki yang berpakaian paling rapih itu.

"Nama panjang kamu?" tanyaku.

"Rangga doang, pak!"

"Oke, kalau gitu bapak panggil kamu doang, ya?"

"Bukan pak! Maksudnya, nama saya Rangga aja!"

"Ooh, jadi manggilnya aja ya?"

"Bapak, nama saya cuman pake Rangga. Cuman Rangga. Cuman satu kata. Nggak pake doang, dan aja! Cuman Rangga!" aku menahan tawa mendengar jawaban anak itu. Hahaha, lumayan hari pertama dapet korban.

"Oh, jadi cuman Rangga aja ya? Yaudah deh, saya manggil kamu..."

"Ya, pak?"

"Hmm, khusus kamu. Saya bakal memanggil kamu yang beda dari yang lainnya..."

"Oke, apa itu pak?"

"SERANGGA! Satu Rangga, dan hanya Rangga seorang. Gimana? Bagus kan?"

"........"

Bisa kuterka kata-kata yang ia pendam sekarang. Pasti di dalem hatinya dia lagi bilang: Kalau lu bukan guru gua, udah gue bunuh hidup-hidup lu!

Oke, lanjut. Setelah Rangga, disebelahnya ada seorang lelaki yang lagi asik mainin semut dimejanya. Setelah kutegur untuk berdiri, ia pun segera berdiri.

"Kamu! Bapak bilang kan beridiri sekarang," ucapku yang sok galak.

"I-ini udah berdiri pak..." jawabnya dengan nada yang bergetar. Hiks, padahal mau bermaksud bercanda. Tapi malah jadi ngebuat orang nangis, gak tega ah. Habisnya tubuhnya mungil banget sih, imut imut gimana gitu... Hahaha.

Setelah memperkenalkan dirinya yang bernama Giovani Surya, disebelahnya terdapat si ketua kelas, namanya Adam Ferdiansyah. Lalu ada si wakil ketua kelas, yaitu Aria Zhaera. Dan ada si tukang tidur yang bernama Adi Yudha Perdana. Disusul oleh Rico Fachriza, Callista Febrianti, Destiana Denestasia, Valeria Valerie, dan tidak lupa... Si empat cowok paling ghokil yaitu Andreas Lesmana, Yoga Javas Nicola, Yogi Janice Nicola, dan Zega Agustian.

Ternyata setelah berkenalan, mereka tidak suram-suram banget. Malahan seru! Tapi, apa aku bisa mendidik mereka dengan benar? Umur kami hanya berbeda satu dua tahun saja... Yakin gak yakin, aku harus mencobanya kan? Bersyukur banget kalau dikelas XII IPS 1 ini hanya terdapat 13 orang. 10 laki-laki, dan 3 orang perempuan. Jadinya semakin ringan bebanku jika murid didikku semakin sedikit.
¤¤¤¤¤
Z to H: Introduction
¤¤¤¤¤

Gak kerasa udah hampir dua minggu aku ngajar di kelas XII IPS 1. Akupun mulai memperhatikan sikap dan predikat mereka masing-masing. Ada si Adam yang tegas, pantas kalau dia menjadi ketua kelas. Ada Aria si lelaki berwajah manis, namun dalemnya sadis. Lalu ada Giovani, si cowok mungil yang cinta banget sama keindahan alam dunia. Ada juga si kembar Yoga, dan Yogi... Kakaknya yang bernama Yoga, dia lebih tegas dan berani dibandingkan dengan Yogi. Namun tetap saja mereka saling melengkapi satu sama lain. Ada juga si Rangga, mungkin dia yang paling normal diantara lainnya... Soalnya dia paling pintar dan ngomongnya gak ngaco.terus ada Rico, si cowok yang bawaannya cool ini, bisa berubah menjadi rempong ketika ia sedang mengobrol bersama dengan teman ceweknya. Tak lupa dengan si tukang tidur yang bernama Adi, gak dimanapun... Mau itu di kelas, di pohon, atap sekolah, pasti dia tidur terus deh. Lalu ada model nyasar di kelas XII IPS 1, ia bernama Andreas Lesmana. Ada juga sastrawan nyasar, namanya Zega Agustian.

Oh ya! Tak lupa dengan ketiga cewek penguni XII IPS 1, yang pertama adalah... Callista Febrianti, seorang cewek yang terkenal dengan otak lolanya. Lalu ada Destiana Denestasia, kalo ini terkenal dengan suaranya yang cempreng dan orangnya yang lebay banget! Terus ada juga yang paling tergalau dan termisterius, sebut saja dia Valeria Valerie.

Karakter dan wajah mereka yang unik, mampu memudahkanku untuk mengingat dan menghapal nama-nama mereka.

Oh ya, selain murid-murid didikku, aku juga ingin memperkenalkan guru-guru yang paling menarik bagiku. Pertama, ada seorang guru kesenian yang bernama Fahmi Robhani. Dia dikenal sebagai guru 'Aih, Aih'. Kenapa? Karena pak Fahmi ini sering banget ngucapin kata 'Aih, aih'. Contoh:

"Pak, hari ini cerah banget ya?"
"Aih, aih..."
"Pak, saya pulang duluan ya pak..."
"Aih, aih..."

Dalem hati, ini guru kehabisan kata-kata atau apa ya? Jangan bilang kalau pas ngajar dia pake bahasa 'Aih, aih' nya itu? Hah... Ada-ada saja.

Lalu ada lagi, kita sebut dia sebagai guru 'Puluhan Tahun'. Mau tau kenapa? Mari kita simak... Sebenarnya gak usah disimak gak apa-apa sih, gak penting ini, haha.

Jadinya, itu guru ceritanya udah ngajar selama puluhan tahun... Katanya sih, soalnya dia sering ngomong;
"Selama saya mengajar puluhan tahun, baru kali ini saya ngeliat ada murid yang dapet nilai jeblok!"

"Selama puluhan tahun saya mengajar, belum pernah saya menang undian kayak gini!"

Nah lho, apa hubungannya ya menang undian sama mengajar? Hah... Benar-benar guru yang aneh, haha. Oh ya, ada kejadian lucu juga nih! Si guru puluhan tahun ini pernah ngobrol sama si guru aih aih;

"Selama puluhan tahun saya ngajar, saya baru ketemu sama murid sebandel dia!"

"Aih, aih..."

"Saya bingung, selama puluhan tahun saya mengajar. Masih ada aja guru yang gaji buta!"

"Aih, aih..."

"Pak, yang lebih bingung lagi... Selama puluhan tahun saya mengenal bapak. Belum pernah saya mendengar kata lain selain aih aih nya anda..."

"Aih, aih..."

"Selama puluhan tahun saya mengajar, boleh saya mendengar bapak tanpa kata Aih, aih?"

"Hmm, hmm, hmm..."

"Jangan hmm hmm juga!"

"Aih, aih..."

Dan saya gak tau lagi bagaimana caranya mereka bisa menyelesaikan pembicaraan aneh bin gaje itu.

Terus disetiap sekolah pasti ada guru killer kan? Disini juga ada dong, hahaha. Namanya pak Raditya, dia juga baru berumur 20-an kayaknya. Sebenarnya dia gak bermaksud buat galak, tapi dia dituntut galak sama sekolahan... Kata pihak sekolah, gak seru kalau gak ada guru killer disekolahan mereka, dan akhirnya si Raditya jadi korban deh. Senasib... Hahaha. Raditya merupakan guru tetap di SMA ini, dia mengajar bahasa Inggris. Dan ada satu rahasia nih, ternyata dia menyukai guru olahraga yang bernama Glend! Wow, gak bisa dibayangkan kan? Laki-laki, dengan laki-laki... Bisa suka? Ok, itu gak heran buat gue. Karena gue juga ngalamin hal yang kayak gitu setelah gue mulai mengajar di sekolahan ajaib ini.

Nama panjangnya Angelito Ariena, semua orang memanggilnya dengan sebutan Ari... Walaupun aku lebih sreg manggil dia Angel, hehe, soalnya unyu sekale. Bukan namanya aja yang unyu lho, haha. Tapi wajahnya juga bener-bener imut. Kayaknya dia juga sepantaran kayak aku, tapi entahlah... Terlihat lebih muda.

Kalau pak Fahmi kan mengajar di bidang seni rupa, nah... Kalau Angel, dia mengajar di bidang seni musik. Dia itu orangnya jarang banget ngomong, sekalipun ngomong palingan cuman kalau ada perlunya aja. Tapi sifatnya itu benar-benar mengalihkan dunia si Jomblo Ngenes, alias gue... Hiks. Pernah sih sekali gue ajak ngobrol dia, gini nih;

"'Njel? Kamu mau pulang ya?" tanyaku basa-basi dan tanpa embel-embel 'pak'. Karena dari awal aku udah minta izin buat manggil dia Angel, hehe.

"Uhm, iya nih Julian. Saya duluan yah," ucapnya sembari menenteng tas selempangnya yang keliatan berat itu.

"Kamu naik apa, 'Njel?" tanyaku.

"Naik angkot, 'Yan..."

"Emang ada angkot di depan sekolah?"

"Nggak sih, cuman saya jalan dulu kedepan. Baru saya naik angkot, hehe..." DEG! Seseorang, tolong katakan padaku... Apa ada yang salah dariku? Kenapa jantungku berdetak ya untuk beberapa saat tadi? Aku juga seneng banget pas ngeliat senyumnya yang... Bisa dibilang manis itu. Seandainya kalau gue udah gak punya akal sehat lagi, pengen rasanya gue jedot-jedotin kepala gue yang gak waras ini ketembok!

"Bareng sama aku aja, 'Njel? Kedepannya? Aku bawa motor kok!" ajakku yang bermaksud buat PDKT. Tunggu, kenapa gue jadi PDKT ma cowok ya!? No! Kemana akal sehat gue!?

"Nggak usah, Julian. Makasih ya, saya duluan ya," beserta dengan kalimatnya itu... Ia tega meninggalkanku sendirian seperti ini. Hiks, demi apa? Gue ditolak? Gak salah? Puluhan tahun saya mengajar, eh, maksudnya... Belasan tahun gue hidup di dunia, baru kali ini ada orang yang menolak pulang bareng bersamaku. Hiks, apa aku kurang ganteng ya? Hancur, hancur hatiku.

Well, itulah perkenalan kecil tentang lingkungan gue sekarang. Gue sendiri juga jadi ikut-ikutan rada gak waras karena ngajar disini... Udah ngomongnya nggak konsisten, kadang pake aku, saya, dan gue. And, yang lebih parahnya lagi... Gue jadi suka sama cowok! OMG! Apa kata dunia!? Entah apa yang terjadi selanjutnya... Disekolah yang semua penghuninya stress kayak gini.
¤¤¤¤¤
Z to H: Rival is Real
¤¤¤¤¤
Seperti biasa, hari ini adalah hari yang cerah. Akupun belum pernah menemukan bukti kalau anak IPA dengan anak IPS itu saling bermusuhan. Yah, walaupun aku juga gak pernah liat anak didikku bermain bersama anak-anak IPA.

Tapi, ternyata... Pagi ini ada yang berbeda.

"Hei, kalian! Jangan buang sampah sembarangan dong!" tegur seorang lelaki yang suaranya sangat kukenal. Dengan mengeluarkan jurus ninja mutant ku, aku mencoba untuk mengintip lelaki itu yang berada di taman sekolah.

"Heh... Ngapain lo disini? Anak IPS mah nggak usah ikut campur soal alam!" kali ini terdengar suara cowok yang bener-bener nggak enak buat di dengar, upss.. Alamak, keceplosan aku.

"Percuma kalau kalian anak IPA, tapi kalian nggak cinta sama alam!" ucap sang lelaki mungil itu sambil memunguti sampah-sampah yang berserakan diatas rumput, dan ia buang ketempat sampah.

"Halah... Anak IPS gak usah sok lah ngajarin anak IPA segala! Sini, gua kasih pelajaran!" dua orang lelaki yang badannya lebih besar dibanding lelaki mungil itu, mencoba untuk melukai anak IPS itu. Aku yang panik dan ingin menghentikan aksi mereka, malah aku yang jadi menghentikan aksiku sendiri. Karena...

"Heh, bencong! Kalau ngelawan orang jangan keroyokan dong! Bencong banget sih lu pada..." ternyata seseorang sudah menolong lelaki mungil yang bernama Giovani itu. Dan sang penolong juga berasal dari kelas XII IPS 1, ia tinggi, badannya kebentuk banget, dan model rambutnya spike. Yep, that's him. Adam Ferdiansyah, sang ketua kelas XII IPS 1.

"Masa dua lawan satu? Gak fair banget sih. Kalau mau lu berdua lawan gua!" tantang si Adam yang melindungi Giovani. Sedangkan lelaki mungil itu hanya bisa berlindung dibelakang tubuh Adam dengan muka yang sangat cemas.

"Banyak bacot lu ya! Gue kasih pelajaran baru tau rasa," sebelum pukulannya mengenai wajah Adam, dengan sigapnya Adam menahan tangan lelaki itu dan dipelintirnya. Sedangkan anak IPA yang satu lagi mencoba untuk memukul perut Adam, namun nasib anak IPA itu sama saja dengan yang sebelumnya. Hanya dengan satu perlawanan, mereka berdua sudah jatuh dibawah tanah dan tanpa mereka sadari mereka mulai menjauhkan jarak mereka dengan Adam.

"GUA BAKAL INGET PERLAKUAN LO TADI!" teriak salah satu dari mereka sambil berlari meninggalkan Adam dan Giovani, disusul oleh temannya yang ikut-ikutan kabur juga.

"Jyah, cuman diinget doang? Payah ah..." gumam Adam sambil terkekeh pelan. "Kamu gak apa-apa?" tanya Adam ke Giovani. Lelaki mungil itu hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.

"Kalau kamu baik-baik aja, senyum dong!" ucap Adam yang sambil menarik kedua pipi tembemnya si Giovani.

"Aaauw... Sakit..." protes Giovani yang sambil memegang kedua pipinya. Lagi-lagi Adam hanya tertawa kecil, dan kini ia sedang merogoh kantong celananya... Mengambil sesuatu.

"Ini, permen buatmu. Jadi jangan nangis lagi, ok?" terlihat senyuman yang mengembang dari bibir tipis milik Giovani. Wow, ternyata Adam pinter juga buat ngehibur orang. Dia memang pantas kalau jadi ketua kelas...

"Yuk, sekarang kita kekelas," ajak Adam sambil menggandeng tangan Giovani. Wait...!? Dia mau keluar!? Waduh... Mesti cepet-cepet ambil langkah seribu nih, dari pada ketauan ngintip.

KRRRIIIING!

Bel sekolah sudah berkumandang diseluruh sudut sekolah, itu tandanya semua siswa harus kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran pertama. Akupun segera memasuki kelas XII IPS 1 untuk mengajar Bahasa Indonesia.

"Selamat pagi, anak-anak!" sapaku dengan senyuman.

"Selamaaaaat pagiiii, paak!" ucap mereka dengan serentak dan penuh semangat. Hah... Semangat masa muda yang indah, mengingatkanku sewaktu aku muda dulu... Tunggu, emang sekarang aku udah tua ya?

"Permisi pak Julian, saya minta waktunya sebentar bisa?" tegur seorang wanita paruh baya yang sedang berada didepan pintu. Akupun mengizinkan wanita itu untuk memasuki kelas ini.

"Terima kasih, Pak," tutur guru itu yang sambil berjalan ketengah kelas. "Buat Adam dan Giovani, ikut ibu keruang BP sekarang!" perintah guru itu dengan mata yang melotot kearah Adam dan Giovani. Mereka berdua dengan pasrah meninggalkan tempat duduk mereka dan mengikuti guru itu keluar kelas.

Terdengar bisikkan murid-murid XII IPS 1 yang tak begitu jelas. Mungkin mereka khawatir dengan Adam dan Giovani? Entahlah, tapi yang pasti....

"Maaf, semuanya. Bapak izin keluar kelas dulu ya, tolong kerjakan soal di buku paket halaman 65 tugas 1 dan 2. Dikumpulkan sekarang ya," beserta dengan kalimatku itu, aku segera mengambil langkah keluar kelas. Namun baru satu langkah aku keluar dari ruangan itu, ada seorang murid yang keluar dari dalam kelas dan segera menghampiriku.

"Pak, tolong jangan menghakimi Adam dan Giovani pak! Saya tahu mereka anak yang baik-baik," pinta anak itu, yang tak lain adalah Rangga. Aku hanya tersenyum kecil menanggapi kalimatnya itu.

"Kamu gak usah khawatir, Serangga! Bapak tahu mana yang benar dan mana yang salah," ucapku yang sambil mengacak-ngacak rambut hitamnya. Ia membalas senyumanku dan kembali keruangan kelasnya.

Tak butuh waktu lama untuk keruang BP, hanya membutuhkan waktu tiga menit saja, aku sudah sampai di depan pintu ruang BP.

"Dia yang memukul kami, pak! Lihat saja luka ini..." terdengar suara seorang lelaki yang tidak enak didengar... Ah! Ini pasti orang yang tadi!?

"Adam, apa benar kamu memukul mereka berdua?" tanya seorang wanita dengan nada yang prihatin.

"Ya," jawab Adam cuek.

"Tapi kenapa? Mereka berdua gak salah apa-apa kan?" bisa kudengar suara tawa kecil yang keluar dari mulut Adam.

"Kalau ibu gak tau hal yang sebenarnya, mending gak usah ngomong deh bu!" aku tersentak mendengar kalimat Adam. Waduh... Dia kalau mau ngomong gak pilih-pilih kata dulu ya!?

"Kamu... Oke, ibu sudah mencoba sabar buat ngadepin kamu! Pokoknya kamu..."

"Tunggu! Bisa kita bicarakan masalah ini baik-baik?"

Aku membuka pintu ruangan BP dan menampakkan diriku yang bercahaya oleh... Sinar matahari.

"Pak Julian? Ada apa pak?" tanya guru tengah baya itu.

"Gini bu, saya mau meluruskan masalah ini secara kekeluargaan," jawabku dan guru itu langsung memberikanku tempat duduk disebelahnya Giovani, dan Adam. Bisa terlihat jelas raut wajah mereka berdua yang bingung menatapku, dan kubalas dengan sebuah senyuman yang sok cool.

"Gini bu, tadi pagi saya melihat Giovani yang sedang memberi nasehat pada dua anak dari kelas IPA ini, lalu..."

"Hah!? Nasehat? Yang ada kita berdua yang nasehatin Giovani, soalnya dia buang sampah sembarangan!" Giovani menatap kesal pada dua lelaki yang berasal dari kelas IPA itu.

"Sudah, diam kamu Dion, dan Gilang! Dengarkan penjelasan pak Julian dulu!" tegur guru itu.

"Yaelah, bu! Masa iya ibu lebih percaya omongan pak Julian yang notabenenya adalah wali kelas XII IPS 1!? Ya jelaskah dia mencari alasan agar anak didiknya bisa selamat dari masalah ini!" DEG! Gila, ini anak dikasih makan apa ya sama orangtuanya? Bisa-bisanya dia berbohong kayak gitu.

"Aduh, aduh... Udah, ibu pusing mendengarnya. Ibu bakal panggil wali kelas kalian dulu, biar cepat selesai," sepeninggalan guru BP itu, aku, Giovani, Adam, dan kedua anak IPA itu hanya terdiam menunggu guru itu kembali. Hah... Ada baiknya juga guru itu manggil wali kelasnya. Muridnya aja gak bener gini, gimana wali kelasnya ya? Gak bisa bayangin, pasti gak bener deh.

"Nah, silahkan masuk pak. Silahkan duduk disebelahnya Dion dan Gilang," akhirnya... Guru itu kembali! Siapa ya wali kelasnya? Apa aku kenal guru itu? Dan...

"Terima kasih, bu. Maaf merepotkan," DEG! Su-suara itu.... Gak mungkin kalau dia......

"Pagi, Pak Julian..." tegurnya dengan senyuman khasnya yang sangat manis itu. Dia...

"Pagi... Pak Angel...." sapaku balik dengan sangat lemas.

I'M HERE Part. 1

Friday, October 12, 2012

*******************
i'm here
::Part 1::
******************* 

Hari ini aku mau kasih surprise lho kepacar aku, namanya Kirana. Kita udah jadian selama 6 bulan, yah... baru sebentar sih. Tapi lumayan lah udah setengah tahun, hehe. Sekarang ini aku sudah bawakan dia bunga dan coklat kesukaannya, hope she loves it. Dengan tampang yang masih berseri-seri, aku turun dari mobil dan segera menegur pembantu yang kerja di rumah Kirana.
"Mbok, Kirananya ada?" tanyaku. 
Mbok terlihat bingung sebentar, lalu tak lama ia menjawab "Iya, den. Ada kok non Kirananya.."
Akupun langsung tersenyum lebar. "Kalo gitu aku kedalem ya mbok. Aku mau kasih surprise ke dia. Hehe," balasku sambil senyum-senyum.
"Wah jangan dulu den, non Kirana lagi ada tamu. Titipin aja ke mbok ya?" kini mbok terlihat gelisah. Berbagai alasan dia melarangku untuk memasuki rumah Kirana. Ada apa ya ini? Aaargh, siapa yang peduli. Akupun langsung menerobos masuk dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya Kirana. Tapi ternyata....
"Hahaha kamu tuh lucu banget ya. Paling bisa deh ngertiin apa mauku," 
Aku mendengar suara Kirana.
Dia sedang menyenderkan kepalanya pada seorang laki-laki yang tampangnya tidak terlalu jelas dimataku. Siapa dia? Dan kenapa... Kenapa Kirana bisa semesra itu dengannya? 
"Kamu tega ya, Kir..."
 *******************
"Woy, yar! Bangun lo... woy!"

Ermghh.. kubuka kedua kelopak mataku dengan berat untuk melihat siapa yang memanggil namaku. Ah... ternyata Gilang.
"Gilang... Aku mimpiin dia lagi," ujarku dengan lemas. Gilang menatapku sebentar lalu menyeringai sesaat.
"Mimpiin Kirana selingkuh lagi?" tanya Gilang.
"Lho? kok kamu tau?" tanyaku bingung.
"Ya orang tadi lo ngigo, jelas lah gue tau.  Lagian lu cerita ke gue kalau lu udah 2 kali mimpiin Kirana yang selingkuh," jawabnya sambil masih asik membaca buku yang ada ditangannya. Benar juga ya... Udah tiga kali aku mempunyai mimpi yang sama. Kenapa ya? Apa ada yang salah sama Kirana? Apa Kirana benar-benar selingkuh?

"Earth to Tiar! That was just a dream, man. A nightmare sih tepatnya... Udah sana lo mandi, telat sekolahnya baru tau rasa lo!" ujar Gilang sambil memberantakan rambutku. Huh, selalu saja begitu.

Yah, walaupun Gilang ini terkesan cuek. Tapi aku betah kok temenen sama dia semenjak aku kecil. Dulu aku sempat sedih waktu dia hilang selama 7 tahun, tapi akhirnya dia balik lagi kesini. Gilang itu satu-satunya sahabat yang bisa ngertiin aku. Cuman dia.

"Yaudah aku mandi dulu ya. Kamu kan udah mandi, langsung ke mobil aja,"

"Oke deh bro, gue tunggu dibawah ya!"
*******************
"Lama banget sih lo, siap-siap ke sekolah aja lamanya minta ampun. Udah kayak cewek aja lo, dandannya lama!" protes Gilang yang sekarang udah lepas dari buku bacaannya. "Lo yang nyetir gih, nebus kesalahan lu karena udah buat gue nunggu lama-lama," lanjutnya. Aku hanya menekukkan wajahku. Huh, biasanya juga aku yang nyetir kok! Pake acara nebus kesalahan segala, alasan banget. Bilang aja males nyetir.

"Ok, let's talk about your nightmare," ucap Gilang tiba-tiba. 

"Aduh, Gilang. Pinter banget sih kamu, baru aja aku mau ngelupain semua mimpi-mimpi aneh itu..." Gilang hanya tertawa melihat aksi protesku. "Btw, kamu gak kuliah kan hari ini? Mau aku anterin sampe rumah?" tanyaku yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Gak usahlah, orang rumah juga tau kalau gue gak pulang. Berarti gue lagi sama lo," jawab Gilang. "Back to Kirana, gimana hubungan lo sama Kirana?" yap, rencanaku gagal. Gilang memang susah banget dialihkan perhatiannya. 

"Kemarin aku liat dia lagi chat di bbm sama seseorang, cuman Kirana kayak nutup-nutupin gitu dari aku Lang..." curhatku ke Gilang.

"Hmm ok, terus lo gak nanya lagi bbm'an sama siapa gitu ke Kirana?"  tanya Gilang sambil berpose ala-ala detective ternama.

"Gak berani aku... Gak ada reason yang jelas buat ngeliat isi handphonenya..." jawabku pasrah. Gilang langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dan menepuk pundakku.

"Lo punya hak buat nanya yar. Makanya lo jangan lama-lama jomblonya, hampir 7 tahun kali ya lo jomblo. Hahaha. Jadinya kalo punya pacar gini kan..." ledek Gilang.

"Yeeee, sialan!" kali ini aku cuman bisa cemberut. Huh! Kalo gak lagi nyetir, udah aku gebuk dia.

"Eh, tapi serius lho. Gue curiga sama orang yang namanya Denis itu. Dulu lo pernah cerita ke gue kan kalo Kirana pernah minta ijin buat pergi nonton sama Denis? Senior dari ekskulnya itu?" tanya Gilang yang masih bertopik Kirana.

"Tapi dia nonton gak cuma berdua kok, katanya sama yang lain..." balasku.

"Lu tuh entah polos entah bego yar. Jelas-jelas cewek itu terkenal dengan muka dua dan pinter merangkai kata-kata. Cewek lo percaya, hahaha," 

Haaah.. mulai deh Gilang. Selalu aja jelek-jelekin cewek. Tapi, mungkin Gilang ada benarnya juga. Soalnya pertama kali aku mimpiin Kirana yang lagi selingkuh, itu semenjak Kirana dekat dengan Denis. Tapi masa iya sih? Rasanya gak mungkin...

"Udah sekarang gini aja deh. Biar lo gak gusar lagi, mending lo telpon Kirana sekarang. Ajak ketemuan setelah lo pulang sekolah terus ceritain ke dia tentang nightmare lo, gimana? Terus lo liat reaksinya..." ujar Gilang sambil menatapku. Akupun menatapnya dengan ragu.

"Serius kamu? Yakin gak ada masalah dengan cara itu?" tanyaku ragu.

"Ya ciyusan lah. Udah sana lo pergi ke kampus, gue turun disini dulu... mau mampir makan, hehe,"

Akupun langsung menghentikan mobilku di salah satu toko untuk menurunkan Gilang. Tapi sebelum Gilang turun, dia ngucapin sesuatu ke aku.

"Semangat bro. Apapun yang terjadi, pasti itu yang terbaik buat lo. OK?" aku hanya mengangguk mendengar kalimat Gilang. Beuh, lebay banget ya dia. Hahaha. Selalu aja dari kecil dia udah sok nasehatin aku.

******************* 
"Hei, sayang! Udah lama nunggunya? Maaf ya lama, tadi aku nyelesein tugas dulu yar..." tegur seorang wanita berparas cantik. Yap, ini dia... Kirana, my lovely one. Aku pun tersenyum dan mempersilahkannya untuk duduk di hadapanku.

"Gak apa-apa kok, aku juga baru aja sampe nih. Oh ya, ini aku udah pesenin minuman kesukaan kamu..." ucapku sambil memberikannya segelas juz alpukat.

"Aww thank you so much, dear. You know me so well..." ia mengambil juz alpukat dari tanganku dan segera meminumnya. "So, how's your day?" tanyanya sambil tersenyum. Oh god, I don't think i can say it to her...

"Well, I'm generally fine. Tapi ada satu hal yang... erm, nothing. Haha, just forget it..."

Kirana menatapku bingung. Dan perlahan dia meraih tanganku, dan menggenggamnya. "What's wrong baby?" tanya wanita berambut panjang itu. Aku hanya bisa terdiam dan tersenyum gelisah. Bagaimana ini? Aku takut kalau ada kata-kata yang salah dari mulutku. Aku takut menyakiti Kirana. "Please tell me..." pinta Kirana sambil mempererat genggamannya. 

"Ok, fine... I'll tell you," Kirana tersenyum mendengar jawabanku. "It's a nightmare, about you..." ucapku dengan setengah tertahan. "In my dream, you're cheatin on me..."

Kirana menatapku heran, dan dia melepas genggaman tangannya. "Jadi maksud kamu, kamu mau tanya ke aku apa itu beneran apa bukan, gitu?" tanya Kirana yang masih mengeriutkan wajahnya.

"Tapi ini udah ketiga kalinya aku mimpiin hal yang sama. So I thought, it might be a clue..." Kirana menatapku dengan kesal. Oh god, sudah kuduga... reaksinya pasti bakal seperti ini.

"You must be joking. Udah yang ketiga kalinya tapi kenapa kamu baru bilang sekarang?"

"Aku cuman gak mau asal nuduh..."

"Jadi kamu nuduh aku sekarang?"

"Bukan, bukan gitu Kirana...."

"You're so.... ck, aku tuh semakin gak nyaman sama sikap kamu. Orang cuman mimpi kok dibawa-bawa ke dunia nyata. Let me guess, ini pasti idenya Gilang? Sahabat kecil kamu yang aneh itu kan?"

"Kirana, watch your mouth. Hati-hati kamu kalau ngomong soal Gilang. Gilang gak ada hubungannya disini..."

"Kenapa? Memangnya aku salah? Gilang emang aneh kok. Kamu selalu ngabisin waktu kamu sama Gilang ketimbang sama aku. Aku ini pacar kamu yar. Dan yang lebih anehnya lagi, sampe detik ini aku gak pernah ngeliat sosok Gilang. Apa jangan-jangan dia cewek kamu? Iya kan yar? Bukan aku yang selingkuh tapi kamu!"

"Wait, Kirana! Gilang itu lagi banyak urusan, panteslah kalau gak sempat ketemu kamu!"

"6 bulan gak ada waktu buat ketemu? Sedangkan sama kamu selalu ada waktu, gitu? Masuk akal gak?"

"Please, stop talking about him!"

" I WON'T! Aku benci Gilang! Entah mau dia cewek kek, cowok kek, yang pasti aku gak suka dia deket-deket kamu! Dan aku udah capek ngeladenin sifat kamu, yar. I love you, but this is not unfair for both of us. So, kita putus aja."

Hancur.

Hancur sudah semuanya. Seharusnya memang lebih baik aku diam saja. Kalau tahu bakalan seperti ini, aku gak bakal ngikutin apa kata Gilang. Kirana benar... semua ini gara-gara Gilang. Aku harus ketemu sama Gilang sekarang.

******************* 
"Welcome back, bro. Cepet banget pulangnya, haha," 

Tanpa membalas sapaannya, aku langsung mendorong Gilang dan mencengkram kaosnya. 

"Kamu bisa-bisanya santai di kamar aku! Punya hati gak sih!?" ucapku dengan nada yang tinggi sambil terus mencengkram baju Gilang. Gilang menatapku dengan ekspresi kaget. 

"Kenapa lo yar?" cuman itu? cuman itu yang dia ucapkan? Dia benar-benar brengsek! 

"Gak seharusnya kamu dateng lagi kesini, Gilang! Udah bagus-bagus kamu ilang selama 7 tahun. Tapi kenapa lo tiba-tiba muncul lagi disaat aku nemuin cewek yang pas buat aku!?"

Gilang menepis tanganku, dan langsung menukar posisinya denganku. Kini dia yang menindihiku.

"Maksud lu apa? Gue gak pernah ya muncul tiba-tiba. Elo yang manggil gue. Elo yang butuhin gue tiap saat," 
"Not anymore, lang! You ruin my life! My love life!"

"Your love life?" Gilang menyeringai sesaat, kini tangannya memegang daguku. Dia memaksaku untuk menatap kedua bola matanya yang hitam pekat. "Biar gue ingetin ke lo. Inget waktu dulu, waktu lo dikhianati  dengan yang namanya 'wanita' ? Dan lo masih bisa percaya dengan yang namanya 'wanita' ? Let me remind this for you, YOU DON'T SHARE YOUR LIFE WITH GIRLS! Can't you see that?" 
"Aku bisa!" jawabku dengan lantang sambil menepis tangannya dari daguku. "Aku sayang banget sama Kirana, lang! Dan sekarang kita putus gara-gara kamu nyaranin hal yang sesat! Puas lo!??"
"What? Ok.. ok. Just calm down. Gue cuman bisa nuntun lo supaya lo bisa nurutin apa kata hati lo. Lo gak bisa disadarin terus sama gue kan? Lo mesti belajar, supaya lo bisa tegas dengan diri lo sendiri."
"Nggak! Alasan saja! Aku gak pernah butuhin kamu. Dan kamu dateng lagi dikehidupan ku karena aku punya cewek kan? Kamu gak pernah suka kan kalau aku punya cewek? iya kan!? Kamu gak pernah rela kan?"
"Tiar, calm down!" Gilang mencoba memelukku. Tapi aku melunjak. Gak akan pernah sudi aku dekat-dekat dengan dia lagi. "Kalau gue gak penting buat lo... mana mungkin selama ini lo dengerin kata-kata gue? Mana mungkin lo curhat semua tentang hidup lo ke gue? You need me..."
"Nggak! Aku gak butuh kamu, Gilang. Sekarang pergi dari hidupku, atau aku yang mesti musnahin kamu? ayo, jawab!"
"Ok, I'm going out. Tapi lo gak bakal bisa musnahin gue. Karena lo butuh gue. Karena lo bagian dari gue. Lo tau banget seberapa pentingnya gue buat lo. Don't ever deny it, for a second time," Gilang mengusap rambutku... seperti biasanya. Tapi aku langsung menepisnya.
Gilang mengehela nafas panjang, dan segera menuju pintu kamar untuk keluar. Tapi sebelum dia sepenuhnya pergi dari ruangan ini, dia menengok kebelakang. Kembali menatapku. "Lo harus inget satu hal, Tiar. You created me..." dan setelah itu... dia meninggalkan ruangan ini.



Take a Smile - Part. 1

Wednesday, October 10, 2012

TAKE A SMILE
~part. 1~

Sekolah ini, telah menjadi saksi cerita cintaku dengannya. Gedung yang tidak terlalu besar ini merekam kenangan bagaimana aku dan dia bisa berjuang melawan cinta yang terjalin diantara kami. Gedung ini telah merekam kenangan kami... dari semenjak awal aku dan dia menginjak gedung ini, sampai meninggalkan jejak untuk menggapai masa depan.

Kala itu... pada saat upacara penerimaan murid baru, itulah pertama kali aku melihatnya. Ia berbeda dari siswa lainnya, itulah pikiranku saat pertama kali bertemu dengannya. Matanya yang sayu, dan kulitnya yang pucat, benar-benar terlalu rapuh untuk menjadi seorang lelaki sepertiku. Dan entah ini takdir atau apa, dia duduk sebangku denganku selama tiga tahun aku bersekolah di gedung ini.

Ada sebuah pepatah, Witing Tresno Jalaran Soko Kulino. Atau dalam bahasa Indonesianya, “Cinta tumbuh karena terbiasa”. Itulah yang terjadi antara aku dan dia. Tidak perduli jika kami ini "sama", karena cinta itu tumbuh karena terbiasa. Kami terbiasa duduk bersebelahan. Kami terbiasa saling bercanda. Kami terbiasa saling menolong. Kami terbiasa saling menghibur. Itulah kami. Terbiasa bersama... dalam keadaan apapun.

Ada sesuatu yang membuatku betah berada disisinya. Sesuatu, yang tak pernah lepas dari wajahnya.... yaitu senyumnya. Maka dari itu, hal segila apapun, hal sekonyol apapun, akan ku lakukan demi menjaga senyumnya itu, agar tak terlepas dari wajahnya yang lembut. 

Semuanya begitu indah.... sampai pada akhirnya, setelah hari kelulusan kami, aku tak pernah lagi mendapatkan keberadaannya. No handphone yang tidak aktif, Account jejaring sosial yang sudah ditututup, rumah yang sudah pindah, dan teman-temannya yang tak mau memberitahuku dimana keberadaannya. 

Dua tahun sudah tak ada kabar darinya, dan dua tahun sudah aku menunggunya diruangan yang sama... disaat aku pertama kali bertemu dengannya. Menduduki sebuah bangku yang telah menemani kami menimba ilmu. Dan kuraba ukiran nama yang terdapat di meja kami. 

Kenapa? Kenapa hanya dia yang mampu bertahan dan menari-menari di pikiranku? Berkali-kali aku mencoba untuk menampilkan sosok yang lain, tetapi selalu saja gagal. Sering aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa aku bisa bertahan dengan cinta yang telah jelas meninggalkanku untuk alasan yang tidak jelas? Cinta memang benar-benar membuatku seperti orang bodoh. Mencintai seorang lelaki.... yang mungkin saja saat ini sedang bersama wanita lain. 


krek... 

Tiba-tiba saja, terdengar sepasang langkah kaki seseorang. Dan saat aku menoleh kebelakang, kutemukan sepasang bola mata berwarna coklat redup, dan senyum yang telah kurindakan selama 2 tahun. 
"Alvin?" ujarku terkejut.

Benarkah ini dia? Apa aku sudah mulai gila sehingga dapat berhalusinasi yang seperti kenyataan? Tidak. Ini benar-benar dia. Seseorang yang selalu membuatku merasa berbeda, konyol, dan gila. 

Akupun beranjak dari bangku, dan segera menghampirinya. Aku ingin memeluknya. Membelai rambutnya, dan juga wajahnya... sudah lama aku merindukan aromanya.

"Apa yang kau lakukan? Kau sudah gila?"

Kali ini terdengar lagi suara dari arah belakangku, suara seorang perempuan... yang sangat familiar. Perlahan ku alihkan pandanganku menuju wanita itu. Ah, ternyata dia.... teman dekatnya Alvin, semasa sekolah dulu.

"Fen, coba lihat... akhirnya Alvin pulang," ujarku dengan senyuman yang lebar. Namun wanita  yang bernama Feni itu hanya mengeriutkan wajahnya. 

"Ris, sadarlah. Tak ada lagi orang lain disini selain aku dan kamu..." jawab wanita itu sambil menatapku iba. Kembali kulihat kesamping, namun lelaki itu sudah tidak ada. 

Tidak... tidak lagi. Ini sudah yang keberapa kali? Apa aku benar-benar akan dikirimkan kerumah sakit jiwa?

Ku hembuskan nafas panjang, "Kamu tahu keberadaannya kan, Fen?" tanyaku. Wanita berambut pendek itu gelisah mendengar pertanyaanku. "Sekali saja... kumohon sekali saja, aku ingin bertemu dengannya, ku mohon...." pintaku kembali.

wanita itu tampak berpikir sebentar. Entah apa yang salah dari diriku, sehingga Alvin tak mau bertemu denganku. Dan menyuruh teman-temannya untuk bungkam mengenai keberadaannya. 

"Baiklah," ucap wanita itu. "Walaupun Alvin akan membenciku karena memberitahu keadaannya, tapi aku juga tak tega melihatmu seperti ini..." lanjutnya kemudian.

Akupun tersenyum. Akhirnya aku bertemu lagi dengannya... Bertemu dengan dirinya yang asli, bukan sebuah foto, kenangan, ataupun khayalan. 

"Tapi kemungkinan, kau akan menyesal bertemu dengannya... Mungkin memang lebih baik kalau kau melupakannya..." ujar Feni dengan sendu.

"Apa dia sudah menjalin hubungan dengan orang lain?" tanyaku to-the-point. Dan Feni menjawab bukan. "Lalu apa?" tanyaku lagi. Feni menatapku sebentar, dia kembali menghembuskan nafasnya.
"Nothing. Ayo cepat, kita pergi," ucap Feni sambil berlalu dari pandanganku. Akupun mengikutinya, dengan perasaan yang sangat bahagia.

***
 Hari ini lagi-lagi kuhabiskan dengan membaca buku. Namun sayangnya, aku tak bisa berkonsentrasi untuk mendalami bacaan tersebut. Pikiranku hanya tertuju dengan seseorang, yang telah mengisi hidupku selama tiga tahun. Ingin rasanya aku mencabut selang-selang yang berisi cairan ini, dan segera bertemu dengannya. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa bertemu dengannya dengan kondisiku yang seperti ini.

"Hei, vin. Gimana keadaanmu?" 

Aku terpanjat kaget.

Wanita yang baru saja menegurku tertawa kecil. "Maaf ya, aku gak bermaksud ngagetin kamu lho...." ucapnya. Baru saja aku mau membalas sapaan temanku itu, tak lama muncul sesosok lelaki berparas tampan yang masuk ke dalam ruangan.

"Alvin?"

Aku terpaku beberapa saat. Dia.... kenapa dia bisa sampai kesini? Apakah ini benar-benar dia? Aku berpikir sesaat, apa karena tadi aku sedang memikirkannya maka sekarang aku sedang  berimajinasi? Tapi, sosok dan suaranya itu.... terlihat sangat nyata. Aku mendongak dan mendapati dirinya yang sekarang sudah berada di depanku. 

"Hei, Riski..." kusapa dia dengan senyuman. Mencoba menggapai tangannya yang kini berada diatas selimutku. Dan aku bisa menyentuhnya. Dia benar-benar nyata. Dia membungkukan tubuhnya, dan menenggelamkan kepalanya di kedua tanganku. Dia menggenggamnya sangat erat... persis ketika dulu disaat aku membuatnya khawatir.  

"Maaf Alvin, aku tidak bisa menjalankan amanatmu..." ujar Feni dengan pelan. "Uhm, aku.. aku keluar dulu sebentar. Mau cari makan dulu, sampai nanti..." lanjutnya dan langsung bergegas keluar ruangan. Feni... dia benar-benar sahabat yang baik. Sangat baik. Aku bersyukur mempunyai sahabat seperti dia. Dia tahu kalau aku berbohong. Bohong kalau aku benar-benar bisa bahagia tanpa dia, lelaki yang kini sedang menggenggam kedua tanganku. 

"Riski, ayolah... jangan menunduk seperti ini." sapaku sambil tetap menahan air mataku. "Hei, nanti kalau kamu gak bangun. Kalau aku muntah gimana? Kan bisa kena kamu..." 

Pria itu terkekeh pelan, dan akhrnya mendongakan wajahnya... memperlihatkan kedua bola matanya yang tajam. "Jika hal itu terjadi, nanti kamu yang bayar laundrynya ya..." Akupun tertawa menanggapi kalimat konyolnya. 

Tuhan, maafkan aku. Sepertinya aku masih mencintai Pria ini. Mungkin sampai detik terakhir hidupku, aku akan tetap mencintainya.

"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, vin?" aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya. 

"Aku sakit..." jawabku singkat.

"Iya aku tahu kamu sakit, tapi sakit apa?" tanyanya kembali. "Dari kapan, vin? Kenapa kamu gak pernah cerita?" suaranya kini terdengar serak.  


Ada alasan, kenapa aku tak mau memberitahu keadaan ini ke dia. Pertama, aku tidak mau dikasihani. Dan kedua, aku ingin dia menjalani hidup yang normal. Menjalani hidup layaknya lelaki normal. Menikah, mempunyai istri yang cantik, dan keluarga yang bahagia. Bukan dengan seorang lelaki yang tengah berjuang melawan kanker otak semenjak kecil.
Aku tak bisa berkata apapun lagi. Sudah cukup senang aku bisa melihatnya lagi.

"Jangan sedih, vin. Apapun yang terjadi, aku akan tetap bersamamu," ujarnya sambil mengusap pipiku. Lho? Kenapa aku nangis? 

"Lho? Kenapa ini? Kenapa bisa nangis? aduh, kayaknya ada yang salah sama mataku... Hahaha," sial. Seharusnya aku tak boleh menangis di hadapannya. Aku tak boleh terlihat lemah dihadapannya. Sudah cukup aku menjadi beban hidupnya. 

"Tenang, kau tidak apa-apa..." Riski memeluk tubuhku. Dan membelai rambutku. Hangatnya sama persis ketika aku dan dia masih memakai baju seragam putih-abu-abu. Akupun memeluknya. Dialah satu-satunya alasan, yang mampu membuatku bertahan sampai detik ini. Yang mampu menutupi kelamnya kehidupan, dengan sebuah senyuman. 


To be continued...